My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kabar bahagia


__ADS_3

Nathan langsung membawa Istrinya kerumah sakit terdekat. Melihat Ami yang kesakitan dan merintih membuat Nathan khawatir dan panik.


Jika keadaan Ami seperti biasa mungkin istri kecilnya itu tidak mungkin merasakan sakit seperti ini, dan Nathan khawatir jika Istrinya benar-benar hamil.


Dirumah sakit Nathan mondar mandir didepan pintu UGD, jantungnya kian berdetak cepat dengan rasa khawatir dan cemas yang begitu kentara.


Ceklek


Ruangan UGD dibuka dari dalam, dan Nathan langsung menghampiri.


"Bagiamana keadaan Istri saya dok." Tanya Nathan cepat.


"Beruntung istri anda di bawa kemari dengan cepat, dan Alhamdulillah kandungan istri anda bisa diselamatkan." Ucap dokter itu tersenyum.


"Jadi istri saya hamil?" Tanya Nathan tak percaya.


"Ya, baru empat Minggu."


Mendengar itu air mata Nathan tak kuasa menetes, dirinya terharu dan bahagia.


Setelah mengucapkan terima kasih, Nathan diperbolehkan menjenguk setelah Ami dipindahkan keruang rawat.


Ami terseyum melihat suaminya yang baru saja masuk. "By." Lirih Ami dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang.." Nathan langsung mencium seluruh wajah Istrinya tanpa terlewatkan, hantunya begitu bahagia mendengar jika istrinya mengandung.


"Aku akan jadi papa." Ucap Nathan menatap wajah istrinya dengan mata berkaca-kaca. Entah mengapa Nathan menjadi melow.


Ami hanya mengaguk dengan senyum. Hatinya juga menghangat, apalagi melihat Nathan yang begitu senang bahkan pria itu sampai meneteskan air mata.


"Hubby bahagia?" Tanya Ami dengan wajah basah air mata, dirinya juga terharu.


"Sangat sayang, aku sangat bahagia karena aku sangat menginginkan anak-anak dari kamu." Nathan kembali mencium wajah istrinya. Meluapkan rasa bahagia yang membuncah dalam dirinya. "Terima kasih sudah memberikan hadiah terindah dalam hidupku.


"Tapi bagaimanapun sekokah_"

__ADS_1


"Sttt, kamu tidak usah khawatir, aku akan melakukan yang terbaik untuk sekolahmu sayang." Nathan tersenyum.


Senyum yang membuat hati Ami meleleh.


"Terima kasih By,"


"Jaga dia baik-baik sayang," Tangan Nathan mengelus perut rata Ami. "Papa sama Mama pasti senang mendegar kabar ini."


"Hm, tapi aku tidak tahu kalau bunda, karena_"


Ami tidak melanjutkan ucapanya, dia tidak tahu bagaimana tanggapan bunda Raya dengan kehamilannya.


Keadaanya yang masih sekolah, membuat Ami tidak yakin jika bunda Raya akan senang atau justru sebaliknya. Dirinya sudah membuat bundanya kecewa karena menikah diusia yang masih remaja apalagi masih sekolah dan sekarang ditambah dirinya yang sedang mengandung.


"Jangan dipikirkan, bunda juga pasti akan senang mendapatkan cucu." Nathan mengusap kepala Ami.


Ami hanya tersenyum, semoga bunda raya juga senang.


.


.


"Selamat nak, jaga kesehatan dan calon cucu Papa." Ucap Allan dengan mengelus kepala Ami.


"Pah." Nathan mendelik, melihat papanya menyentuh milikinya.


"Lihat, di cemburu dengan papanya sendiri." Ucap Mama Indira, membuat Ami tertawa.


Sore hari keluarga Nathan datang, dan mereka begitu senang mendengar kabar bahagia yang disampaikan oleh Nathan.


"Sayang kamu ingin apa? biasanya ibu hamil banyak maunya." Tanya Indira yang duduk disamping Ami, diatas ranjang.


Sedangkan Nathan duduk di sofa dengan papanya, bunda Raya juga sudah diberi tahu dan beliau sedang dalam perjalanan.


Ami nampak berpikir apa yang dia inginkan, tapi tidak juga menginginkan sesuatu.

__ADS_1


"Tidak ada mah, aku tidak ingin apa-apa."


Nathan terseyum. "Mah aku ingin makan semur jengkol buatan Mama." Ucap Nathan spontan membuat Ami dan Indira menoleh.


"By, kamu kan ngak suka makan jengkol." Tutur Ami, yang mendapat anggukan dari Mama Indira.


"Iya Nat, kamu tidak suka karena baunya." Sambung Mamanya.


"Tapi aku mau makan itu mah," Kesal Nathan dengan wajah memelas.


Ami dan Indira saling tatap. "Dia yang ngidam." Ucap Mama Indira dan hanya mendapat anggukan dari Ami.


Allan hanya geleng kepala. "Istrimu yang hamil kamu yang ngidam, baguss..!!" Allan menepuk pundak putranya.


Tak lama bunda Raya datang, tak disangka jika kedatangan bunda Raya justru membuat mereka penasaran dan bertanya-tanya.


"Selamat sayang, bunda juga ikut senang." Bunda Raya memeluk putrinya erat, tidak menyangka jika putrinya akan menjadi seorang ibu di usia muda.


"Terimakasih bunda,"


Bunda Raya melonggarkan pelukannya. "Jaga calon cucu bunda baik-baik." Bunda Raya tersenyum, mengusap perut putrinya.


Ami juga ikut terseyum, ternyata bunda Raya juga senang. "Maaf Ami belum bisa bahagiain bunda." Lirih Ami dengan sendu menatap wajah bundanya.


Bunda Raya tersenyum. "Tidak apa sayang, bunda sudah bahagia melihat putri bunda juga bahagia."


Ami begitu beruntung memiliki keluarga dan orang terdekat yang menyayanginya.


"Apa bunda juga ingin menyampaikan kabar bahagia?" Tanya Ami dengan melirik pria yang duduk disofa dengan suami dan papa mertuanya.


"Apa? bunda tidak mengerti." Bunda Raya mengulum senyum.


"Ami akan bahagia jika bunda juga bahagia, kebahagiaan bunda juga kebahagiaan untuk Ami." Ami mencium pipi bundanya. "Ami merestui bunda." Bisiknya di samping telinga bunda Raya.


"Anak nakal." Bunda Raya mencubit kedua pipi putrinya, membuat mereka tertawa.

__ADS_1


"Ami sayang bunda." Ami memeluk bundanya, begitupun sebaliknya. Keduanya berpelukan dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2