My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Mengembalikan mood


__ADS_3

Ami duduk disofa depan tv, setelah acara makan mienya selesai. Dia enggan untuk kembali kekamar karena Nathan berada didalam.


Ceklek


Tak lama setelah Ami duduk dan baru saja menghidupkan TV, suara pintu kamar terbuka. Nathan kelaur dengan mengunakan jaket dilapisi kaus putih polos dan celana jeans panjang.


Ami tidak melirik wanita itu diam fokus pada tv yang menyala.


Cup


"Jangan tidur terlalu malam." Nathan mengecup kepala Ami dari belakang, dan menepuk kepalanya pelan, setelah itu Nathan pergi keluar apartemen.


Ami Cuek, terserah Nathan mau melakukan apa, dia tidak perduli, karena dia yakin jika Nathan tidak akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya sendiri.


Nathan menegdarai mobilnya kesuatu tempat, jam masih menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


"Kenapa sulit sekali membuatmu kembali tersenyum." Ucapnya pada diri sendiri, Nathan frustasi karena tidak dipedulikan oleh Ami, apalagi wanita itu tidak mau bicara padanya membuat Nathan semakin frustasi.


Nathan mengehentikan mobilnya ditempat yang mungkin bisa membantunya untuk membuat istrinya kembali moodnya dan mau bicara padanya.


"Semua saya beli, jangan lupa kirimkan ke alamat ini."


Ucapan Nathan membuat pemilik toko mengangga.


"D-dibeli?" Tanyanya tak percaya.


"Dua kali lipat, malam ini jangan lupa diantar, dan isi penuh semua." Nathan meninggalkan kartu namanya.


"Aldrick Nathan Adhitama." Gumam pemilik itu, sedetik kemudian matanya membulat sempurna.


Nathan sudah kembali keaparteman, pria itu keluar hanya untuk membeli sesuatu yang mungkin bisa membuat mood Istrinya lebih baik.


Sampainya di dalam dia masih melihat Ami yang masih duduk seperti tadi.


"Kamu belum tidur." Nathan langsung duduk disamping Istrinya, pria itu membuka jaket yang sia pakai dan menaruhnya di bahu sofa.


Ami hanya melirik sekilas dan kembali pada layar lebar didepanya.


Nathan tersenyum tipis, meskipun melihat Ami yang cuek dan mogok bicara tapi dia begitu menggemaskan.


Nathan memeluk pinggang Ami dengan kedua tangannya, kepalanya Ia sandarkan dibahu sang Istri. "Aku harus melakukan apa, agar kamu mau bicara." Ucap Nathan yang masih pada posisinya. "Apa aku harus membuatmu kembali berkeringat diatas ranjang biar kamu menjerit memanggil namaku." Nathan mendongak dengan ekspresi menyebalkan, sedangkan Ami menatap Nathan tajam.


Ting tong...Ting tong...


Bel apartemen berbunyi, Nathan hanya diam, dan menyingkirkan tanganya dari pelukan sang istri.


Nathan beranjak menyambar jaketnya dan masuk kamar, membuat Ami kesal Ia kira akan membuka pintu.


"Nyebelin.." Gerutunya dengan jengkel. "Lagian siapa sih, malam-malam bertemu, awas aja kalau kolor ijo."


Ami berjalan menuju pintu, sebelum membuka dia mengintip dari celah kecil yang ada di pintu.


"Eh, kok." Melihat sesuatu Ami langsung membuka pintu, dan benar dia melihat dua pria yang menggunakan seragam Gelato.

__ADS_1


"Ada apa ya Mas?" Tanya Ami bingung, malam-malam di datangi pelayan eskrim yang waktu lalu dia kunjungi.


"Maaf mbak, kami hanya mengantar ini." Dua orang itu menyingkir dan memperlihatkan prizer eskrim. "Mau ditaruh dimana?"


Ami membelalakkan matanya. "T-tapi aku ngak pesan mas." Ucap Ami terkejut, bercampur bingung.


"Bawa masuk." Ucap Nathan dingin. Nathan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka merasa kesal karena dua pria itu curi-curi pandang pada Ami, bisa Nathan lihat mereka masihlah muda.


"Ba-baik tuan." Mereka yang ditatap tajam Nathan menjadi ciut.


"Sayang, sekali kemarilah." Nathan berdiri dengan memasukkan kedua tangannya disaku celana.


"By, kamu membeli ini." Tanya Ami tak percaya.


.



Demi membuat sang Istri mau bicara...uhhh aku juga mau😋


Nathan mengukir senyum, hatinya ikut tersenyum. Istrinya sudah kembali mau bicara padanya.


"Ya, kamu menyukainya?" Tanya Nathan dengan senyum.


Ami berpikir sejenak, "Eh, kok aku." Batinnya dalam hati, dirinya sudah bicara pada Nathan.


Ami menggeleng, gadis itu berlalu untuk masuk ke kamar membuat Nathan bingung.


Setelah memastikan mereka pergi dan mengunci pintu, Nathan menyusul sang Istri masuk kamar.


"Kamu tidak ingin mencobanya." Nathan menghampiri Ami yang bersandar di bahu ranjang, gadis itu memainkannya ponselnya.


Karena tidak mendapat sahutan, Nathan ikut duduk disamping Ami. "Katakan apa yang harus akau lakukan, lebih baik kau memukulku dan memakiku sepuas yang kau mau, tapi jangan diamkan aku seperti ini." Nathan menatap sendu wajah Ami yang masih tidak memperdulikannya.


"Sayang, lihat aku." Nathan meraih dagu Ami agar mau melihatnya. "Apa cinta mu sudah tidak ada lagi untukku." Nathan menatap kedua bola mata coklat indah milik Ami. Keduanya saling bertatap, hanya saja pancaran mata keduanya yang berbeda, dan Nathan bisa melihat itu.


"Baiklah." Nathan pun menyerah, beranjak dan pergi masuk ke kamar mandi.


Ami yang melihatnya mengerutkan keningnya, tapi kembali fokus pada gadgetnya.


Prang


Suara seperti benda pecah, terdengar Ami, gadis itu langsung loncat dari atas ranjang dan mencari dimana benda itu jatuh.


"Arrrggghh... Kau bodoh Nat, bodoh."


Bugh


Bugh


Kepalan tangan Nathan menghantam dinding yang kacanya sudah luluh lantah, pria itu meluapkan emosinya pada kaca wastafel hingga membuat buku-buku tangannya berdarah.


Ami mencoba membuka pintu, tapi sayangnya Nathan menguncinya dari dalam.

__ADS_1


Dor..dor..dor..


"By, buka pintunya..!!"


Ami terus menggedor-gedor pintu kamar mandi, mendengar suara teriakan Nathan dia juga khawatir, jantungan berdetak cepat.


"By...Buka...!!"


Nathan yang mendengar terikan sang istri hanya bisa diam, kepalanya menunduk dengan tiba-tiba air matanya kembali meluncur. Entah sudah berapa kali dirinya mengeluarkan air mata, hanya demi Ami.


"By, buka...!!!


Dor...dor... dor..


"By, buk_"


Ceklek


Tatapan keduanya bertemu, Nathan lebih dulu membuang wajah, dan berlalu keluar.


"Apa yang lakukan." Ami mengekor di belakang Nathan yang keluar dari dalam kamar.


Menuju dapur Nathan mengambil air dingin yang masih dalam botol kemasan.


Ketika Nathan memebuka botol, Ami membelalakkan matanya, melihat tangan kanan Nathan yang berdarah.


"Ini, kenapa By." Ami meraih tangan Nathan yang terluka, dengan cepat Nathan menepisnya.


Ami yang mendapat penolakan tidak mau meyerah gadis itu kembali ke dapur untuk mengambil sesuatu.


Nathan menjatuhkan tubuhnya di sofa, pria itu menutup wajahnya menggunakan lengan kiri.


Nathan merasakan tangannya terasa dingin, tapi dirinya enggan untuk membuka tangannya.


Ami membersihkan luka punggung tangan suaminya dengan obat luka.


Ami meringis, tapi melihat wajah Nathan yang terlihat tanpa ekspresi membuat Ami menatap pria itu sendu.


"Tidak perlu melukai diri sendiri, jika hanya untuk meluapkan amarah." Ucap Ami setelah mengobati luka Nathan, kini tangannya perlahan memasangkan perban, lukanya cukup dalam membuat Ami tidak tega.


Nathan tidak bergeming dia masih diposisi yang sama.


Ami beranjak berdiri dan melewati Nathan, tapi tangannya dicekal dan ditarik membuatnya jatuh di pangkuan Nathan.


Tanpa kata Nathan meraih sesuatu benda kenyal yang membuatnya candu, menyesapnya dengan dalam merasai rasa manis yang selalu dia rindukan.


.



.


Otor abis ikut lomba, jadi up nya telat 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2