
Seperti yang dirasakan Nathan, jika jauh dari istrinya tumbuhnya akan bereaksi tidak baik-baik saja, dan begitu pun sebaliknya jika selalu dekat dengan sang Istri Nathan akan biasa saja.
"Sayang, jika lelah kamu bisa istirahat." Ucap Nathan yang melihat istrinya malah bermain dengan anak-anak yang kebetulan dipanggil oleh Ami.
Nathan mengajak Ami keluar dari hotel, tujuannya untuk menemaninya bekerja bukan untuk jalan-jalan atau pergi ke Mall.
"Hubby kerja saja, aku masih ingin bermain sama mereka." Ami menoleh kebelakang dan tersenyum.
Meskipun hanya diajak kelahan yang sepi dan jauh sari kota, sudah membuat Ami senang karena bisa melihat dunia luar selain kamar hotel.
Ando yang melihat Nathan sejak tadi menempel pada Istrinya hanya geleng kepala.
Sejak kejadian pingsan kemarin sepetinya Nathan mengalami luka berat, karena bekerja mengajak istri. Padahal Nathan tidak suka jika dirinya diganggu saat bekerja.
Nathan pun kembali mendekati Ando dan juga lak bagas, jika dirinya kembali merasa mual maka Nathan langsung berlari memeluk Istrinya.
"Nat, sepertinya lu butuh dokter." Ucap Ando yang menatap bos-nya kahawatir.
Nathan mengernyit bingung. "Lu pikir gue sakit." Ucapnya ketus.
"Setelah pingsan kemarin sepetinya lu butuh perawatan intensif, agar kelakuan lu kembali normal." Tutur Ando menatap sahabat sekaligus bosnya itu iba.
"Ck, gue gak suka lu tatap kayak gitu." Kesal Nathan dengan mendelik.
Ando hanya menghela napas, sedangkan pak Bagas hanya diam melihat para pekerja.
"Lu ngak nyadar, kalau tingkah lu aneh. Mana ada seorang Nathan membawa istrinya ke lokasi yang panas seperti ini, apalagi lu sedikit-sedikit berlari meluk istri lu. Waras kagak lu..!" Kesal Ando.
Nathan yang ingin membalas ucapan Ando mengurungkan niatnya, dan menutup mulut berlari menuju sang Istri yang sedang menemani anak-anak dari desa itu bermain.
Grep
__ADS_1
"By, kenapa lagi." Heran Ami yang melihat Nathan sudah tiga kali memeluknya secara tiba-tiba.
Ando yang melihatnya geleng kepala plus kesal sendiri. "Berasa dunia milik berdua." Kesalnya dengan wajah masam.
"Mas Ando menikah saja, biar tahu rasanya dunia milik berdua." Celetuk pak Bagas membuat Ando berdecak.
"Kagak enak, kalau ngambek pusing mikirin." Jawabnya santai.
Pak Bagas hanya geleng kepala.
"Em, tidak apa. Hanya saja aku tadi merasa mual." Nathan menghirup aroma rambut Ami, memenuhi rongga hidungnya dan membuat rasa mual tadi perlahan menghilang.
"Kamu sakit." Ami menyentuh kening Nathan mengunakan punggung tangannya, dan suhunya normal.
"Tidak," Nathan menggeleng.
Ami mengerutkan keningnya. "Terus kenapa?" Tanya Ami yang masih tidak percaya.
"Ck. Sudah jangan banyak bertanya." Decak Nathan masih memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Beri aku semangat." Ucap Nathan menarik dirinya untuk melonggarkan pelukannya.
"Semangat hubby." Ucap Ami sambil mengangkat tangannya yang terkepal dengan senyum manis.
Nathan mengulum senyum. "Bukan seperti itu." Ucapnya dengan penuh arti menatap bibir ranum Istrinya.
"Lalu?" Ami yang tidak mengerti terlihat cengo.
"Lalu seperti ini_ Cup Nathan mengecup bibir Istrinya dan melumattnya lembut setelah itu pergi begitu saja.
Huuuuu
__ADS_1
Sorakan anak-anak membuat Ami melotot, tangannya menyentuh bibir. "Dasar Om-Om mesum." Gumamnya terseyum malu, pada anak-anak yang menyorakinya.
Sedangkan Nathan hanya tertawa dengan mengusap punggung lehernya. "Gue gak tau malu banget." Gumamnya tersenyum. didepan anak-anak Nathan nekat dan tidak tahu malu. "Untung menghadap kebelakang." Bibirnya terus menyunggingkan senyum untuk menghampiri Ando dan juga pak Bagas.
"Kak, kakak kok mau sih di ajak kesini?" Tanya anak perempuan berusia delapan tahun, mereka asik membuat rumah-rumah dari tanah dan juga pasir. "Padahal kan disini panas dan jauh dari kota." Lanjutnya lagi dengan sekali tangannya fokus membuat rumah-rumahan.
Anak itu tidak sendirian dan tiga temanya, dan mereka di ajak kesini oleh Ami, karena jarak rumah dan lahan pembangunan memang tidak terlalu jauh jika jalan kaki.
"Karena om itu suami kakak, dan kakak juga ingin main kesini. Dan ketemu kalian." Ami terseyum manis.
Mereka ikut tersenyum. "Besok kakak ikut kesini lagi ya, siang pulang sekolah kami akan kesini lagi." Lanjut teman mereka satunya.
"Oke, besok kakak akan bawa oleh-oleh untuk kalian." Ami tersenyum lebar, bermain dengan anak-anak tidak membuatnya bosan meskipun dilahan terbuka dan di bawah pohon yang rindang, meskipun cuaca panas.
"Kakak baik, semoga kakak selalu sehat dan murah rezekinya."
"Aminnn...Masih sayang."
Ami begitu senang mendapat teman baru meskipun hanya anak-anak, apalagi mereka cukup pintar untuk diajak berbicara cara dan Ami menjadi senang berada di area tempat suaminya kerja.
Jarak Ami dan Nathan memang cukup jauh, karena pepohonan disana didirikan tenda untuk mereka berteduh.
"Nat, gue saranin lu periksa ke dokter." Ando kembali beraksi karena melihat wajah Nathan yang kembali segar, berbeda saat tadi sebelum berlari memeluk istrinya.
"Ck, lu ngarepin gue sakit, ku kenapa? naksir sama bini gue." Kesal Nathan, karena Ando selalu bicara seperti itu.
"Eh,, kagak enak aja." Ando mengelak dengan cepat. "Gue hanya heran sama mood lu, yang langsung berubah setelah memeluk bini lu." Ando menelisik wajah Nathan.
"Gak usah pelototi gue kayak gitu." Nathan kesal, memukul Ando menggunakan kertas yang dia gulung dan memukulnya.
"Gue serius Nat, sebelum pernyakit lu semakin parah."
__ADS_1
Nathan menatap tajam Ando. "Bicara sekali lagi, gue potong gaji lu."
Ucapan Nathan mujarab untuk Ando, pria itu langsung diam tanpa kata. "Jangan dong, Ntar gue gak jadi ngelamar Mira." Batin Ando ngedumel.