My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
BEEDUKA CITA


__ADS_3

Hari ini adalah hari untuk ujian semester terakhir bagi seluruh siswa/siswi sekolah Pertiwi. Termasuk Ami yang sudah mempersiapkan diri untuk hari pertama menghadapi ujian. Kalaupun bukan ujian kelulusan tapi Ami juga merasa deg-degan dengan ujian kenaikan kelas. Karena dirinya bukanlah murid yang berprestasi tapi setidaknya masih masuk sepuluh besar nilai raport nya.


Semalam Ami sudah belajar dan mengingatnya di otak, dan dia berdoa semoga apa yang dia pelajari keluar di lembar soal pagi ini.


Olive juga belajar giat, murid dengan jalur prestasi itu memang giat belajar, apalagi Olive selalu menjadi peringkat satu semejak di kelas sebelas dan Ami hanya bisa takjub dan bangga pada sahabatnya itu.


"Semangat Ami." Bisik Olive dengan mengangkat tangannya dan terkepal tanda memberikan fithing untuk Ami. Dan Ami membalasnya dengan hal yang sama.


Sejak pulang dari butik Mama Indira, Nathan sepertinya kembali menjaga jarak dengan Ami. Pria itu kembali keluar kamar di pagi hari setelah Ami berangkat sekolah, dan pulang larut setelah Ami terlelap. Sifat Nathan kembali seperti itu sampai sekarang dan Ami kembali terbiasa setelah sebelumnya selalu dibuat sedikit terlena dengan perubahan Nathan padanya. Tapi kini semua kembali di awal cerita.


Ami yang mudah melupakan masalah yang menurutnya tidak penting untuk dipikirkan, sama halnya Ami tidak memikirkan ucapan Nathan yang pernah membentaknya ketika saat di mobil pulang dari butik, Ami tidak memikirkannya tapi Ami menyimpannya dalam hati. Gadis itu akan terlihat biasa saja meskipun hatinya tidak baik-baik saja. Dan bersikap biasa saja meskipun sebenarnya sangat malas.


.


.


Nathan berkutat pada pekerjaan sejak setengah jam yang lalu, pria tampan berwajah datar itu selalu fokus dalam bekerja.


Ting


Ponselnya bergetar tanda pesan masuk. "Kak Oma masuk rumah sakit." Hanya pesan singkat namun mampu membuat tubuh Nathan lemas.

__ADS_1


Omanya yang baru satu bulan keluar dari rumah sakit kini harus kembali dilarikan lagi kerumah sakit. Usia Oma Lili yang sudah tua membuatnya kesehatannya sudah tidak stabil lagi.


Segera Nathan menutup laptop dan berkasnya, masih banyak yang harus dia selesaikan tapi Nathan memilih meninggalkannya.


Masih jam sembilan kurang, dan jika Nathan menjemput Ami ke sekolah pasti akan mengganggu ujian gadis itu.


Mengendarai mobilnya menuju rumah sakit Nathan, mengingat seminggu terakhir ini. Dirinya sengaja menjaga jarak dengan gadis itu, meskipun tahu sudah kasar dengan Ami, tapi Nathan enggan untuk meminta maaf, gengsi dan egonya lebih tinggi. Menghindari Ami hanya ingin membiarkan gadis itu fokus pada sekolahnya, paling tidak setelah ujian selesai. Karena Nathan tidak ingin membuat Ami terganggu karena dirinya.


Setelah sampai di rumah sakit Nathan langsung menuju UGD, sudah beberapa kali Oma Lili dilarikan ke UGD.


"Mah." Nathan yang melihat Mamanya menangis di pelukan papanya membuat Nathan langsung mendekati dan duduk di samping Indira.


"Oma Nat, Oma tak sadarkan diri." Indira menangis terisak memeluk Nathan.


Mama Indira merawat Oma Lili, dari membuka mata pagi hari sampai menutup mata di malam hari, Mama Indira mengurus Oma dengan penuh kasih sayang, sejak pertama kali mereka bertemu.


Aileen menagis di pelukan papanya, gadis itu menagis dalam diam. Sedangkan Allan mencoba untuk tetap tegar meskipun dirinya juga sedih tapi melihat istri dan anak perempuannya, Allan harus bisa menjadi penguat bagi keduanya. Allan begitu menyayangi Mamanya, begitupun kakak nya Leina.


"Al.." tak lama, Leina datang dengan Rendy wanita itu sudah berlinang air mata ketika menghampiri Allan.


"Mama akan baik-baik saja." Allan mengusap punggung kakaknya, wanita yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu menagis memeluk Allan.

__ADS_1


Tak lama dokter membuat pintu UGD. Beliau langsung disambut dengan pertanyaan.


"Maaf, kami sudah berusaha semampu yang kami bisa, tapi Tuhan lebih sayang beliau." Dokter itu menunduk hormat.


Seketika suara Isak tangis semakin menyedihkan ketika tiga wanita menangis histeris.


Indira sampai tak sadarkan diri dipeluk kan Allan, dan Aileen memeluk kakaknya.


Sama seperti Indira, Leina juga tak sadarkan diri. Ready sang suami sigap membopong tubuh istrinya.


Semua merasa berkabung, dan berduka. mereka melupakan satu orang yang harus mereka kasih tahu. Tapi Nathan sendiri melupakannya.


Allan segera mengurus persiapan pemakaman Oma Lili, di bantu asistennya dulu Jerry, bukan hanya Jerry Rendy sebagai kakak ipar juga turut membantu.


Nathan yang ikut sibuk pun melupakan hal penting, memberi kabar pada Ami.


Semua hadir di pemakaman Oma Lili, kolega, rekan bisnis Allan juga mengucapkan bela sungkawa. Meninggalnya ibu dari pemilik Adhitama Grub kabar dukanya sudah menyebar di gedung menjulang tinggi itu. Mereka semua turut mengucapkan bela sungkawa.


Bunda Raya, juga hadir di pemakaman Oma Lili, beliau diberi tahu oleh istri pak Teguh, dan bunda raya juga datang terlambat setelah jenazah Oma Lili sudah dikebumikan.


Bunda Raya mencari keberadaan putrinya, tidak ada wajah Ami nampak di sana. Mencoba mendekati Nathan, bunda Raya ingin bertanya.

__ADS_1


"Nak," Bunda Raya menyentuh bahu Nathan. Dan Nathan baru menoleh melihat bunda Raya yang tidak tahu jika ada di sana. "Dimana Ami, apa dia tidak ikut ke pemakaman?"


...Deg ...


__ADS_2