
Sampainya didalam kampus Ami menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wanita itu kebingungan mencari bagaian informasi.
"Duh, sok-sokan jalan sendiri, sekarang nyasar kan." Gumamnya sambil tengak tengok sapa tahu ada yang bisa ditanya.
"Mas-mas, maaf mau tanya?" Ami menghalangi langkah tiga pria yang akan melintas didepanya.
Ketiganya menata heran wanita cantik putih dan hidungnya yang mancung, mereka baru melihat wanita ini dikampus.
"Ya?" Jawab pria yang berdiri paling depan.
"Ruangan Rektor dimana ya?" Tanya Ami dengan gugup karena ditatap intens oleh pria yang ada didepannya.
"Kamu mahasiswa baru?" Bukannya menjawab tapi malah bertanya.
Ami hanya mengaguk saja. "Ikuti aku." Ucap pria itu. "Kalian duluan saja." Pria itu menyuruh kedua sahabatnya untuk meninggalkannya.
Ami mencoba untuk biasa saja, karena jantungnya mulai tak karuan saat pria berwajah datar dan cuek itu menatapnya tajam.
"Kenapa disini ada Nat-Nat kedua." Gumamnya dengan pelan, dan mengikuti pria didepanya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Tidak usah tegang, kenalin gue Dion." Ucap pria itu menoleh pada gadis disebelahnya, atau tepatnya seorang wanita karena Ami tidaklah gadis lagi, melainkan seorang ibu yang memiliki dua buah hati.
"Aku Ayana." Ucap Ami pelan dengan tersenyum tipis.
Langkah kaki mereka sudah cukup jauh meninggalkan seorang pria yang baru saja memasuki kampus. Nathan berjalan memasuki kampus dengan langkah lebarannya, tangan kanannya Ia masukkan kedalam saku celananya dengan postur tubuh yang tinggi dan penampilan yang mengundang perhatian kaum hawa, Nathan sampai tidak sadar jika dibelakangnya banyak semut yang mendekatinya berjejer.
Nathan berjalan gagah dengan pesonanya, tanpa ditebar paras Nathan mampu menarik perhatian kaum hawa yang ada di kampus.
"Nah ini ruang Rektor nya." Ucap Dion yang sudah berdiri didepan pintu besar didepan keduanya.
"Terima kasih kak." Ami terseyum tipis, membuat Dion yang terkenal pelit senyum ikut tersenyum tipis.
Tok...tok..tok...
Dion mengetuk pintu, dan membukanya setelah mendapat sahutan dari dalam.
"Pak, ada yang mahasiswi baru yang mencari anda." Ucap Dion pada pria paruh baya yang duduk di kursinya.
Pria itu mendongak dan tersenyum dibalik kumis tebalnya seperti pak raden.
"Silahkan duduk."
__ADS_1
Ami mengiyakan dan duduk sedangkan Dion melangkah menuju sofa yang ada diruangan itu.
"Saya Ayana Malika Ifana ingin menyerahkan ini." Ami memeberikan berkas kekurangan yang dia bawa. Dan rektor itu menerimanya.
"Ya, saya sudah mendapat laporan jika anda akan masuk ke kampus ini." Pria itu tersenyum, yang diketahui bernama Bambang lewat name tag yang ada diatas meja.
Dion memperhatikan Wanita yang sejak tadi duduk dan bicara dengan diselingi senyum, membuat Dion betah berada diruangan itu.
"Dion kamu antarkan Ayana kelasnya." Rektor Bambang memberikan selembar kertas untuk Dion.
Dion pun berdiri. "Tidak usah pak, saya bisa mencarinya sendiri kok." Tolak Ami halus karena merasa tidak enak, atau lebih tepatnya sepertinya akan ada bahaya.
"Biar gue anter." Dion mengambil selembar kertas itu, dan berlalu dari hadapan keduanya menuju pintu.
"Tidak usah takut, dia memang begitu tapi dia pria baik." Ucap pak Bambang memberi tahu Ami.
Ami mengaguk canggung, bukan masalah baiknya tapi, kalau ketahuan Nathan bisa habis dirinya.
Ami meninggalkan ruangan Rektor dan mengikuti Dion yang berjalan didepanya.
"Lelet amat sih kayak siput." Tangan Dion menarik lengan Ami agar sejajar jalanya dengan dirinya.
"Dih, dia ngak tau apa kalau Dion milik Rena."
"Bisa-bisa bakalan ada korban lagi."
Desas desus mulai terdengar, Dion adalah ketua BEM dikampus, pria tampan yang memiliki karakter cuek dan dingin serta tatapan datar pria itu untuk tidak mudah didekati.
Hanya saja wakilnya bernama Rena yang terlalu agresif yang selalu menempel pada Dion.
Nathan yang berdiri dibelakang hadis yang baru saja menggosip mengepalkan kedua tangannya. Apalagi dia tahu yang mereka maksud adalah Istrinya.
"Ehh, cogan dari mana itu." Saat Nathan melintasi mereka, otomatis semua tatapan tertuju pada Nathan, bahkan semut-semut yang mengikutinya dari lobby kampus masih setia mengikutinya.
"Nah ini kelas Lo." Dion masuk kedalam kelas baru untuk Ami, seketika yang tadi riuh kini menjadi sunyi. "Dan kita satu kelas." Ucap Dion lagi sukses membuat Ami menoleh.
"Ion sayang, siapa dia." Wanita tinggi dan modis memiliki paras cantik mendekati Ami dan Dion yang berdiri didepan.
"Kenalin kak aku Ayana." Ami mengulurkan tangannya pada wanita itu, yang ternyata Rena.
"Cih, siapa Lo sok kenal." Rena menatap Ami sinis, membuat Ami menarik tangannya kembali dan tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Lu sopan sana orang, kayak nggak tahu sopan santun." Sarkas Dion yang kesal dengan Rena.
Rena mendelik menatap Ami tajam. "Apa Lo, seneng dibelain ketua BEM disini hah!" Rena malah semakin garang. Wanita itu terkenal dengan kebrutalannya yang temperamental, semua yang tahu sifat Rena mereka lebih memilih menjauh dari pada terkena imbasnya.
Ami menggeleng, "Maaf kak, saya disini mau kuliah bukan untuk mencari pembelaan." Jawab Ami dengan pelan, tidak ingin memancing keributan. Karena Rena sudah seperti harimau yang siap menerkam.
"Ck, lu duduk ngak usah cari masalah sama dia. "Dion menatap Rena tajam, membuat wanita itu mendengus kesal.
"Duduk aja dibangku yang masih kosong." Ucap Dion, yang diangguki Ami.
Ami melihat bangku yang kosong dekat dengan gadis yang memakai kacamata tebal, yang sejak tadi menunduk.
Ami tersenyum dan mendekati gadis itu, tapi sebelum itu tiba-tiba kakinya dijegal, dan hampir saja membuat Ami tersungkur, jika tidak ada seseorang yang menangkap tubuhnya.
Rena yang awalnya tersenyum puas, kini menganga tidak percaya, bahkan kedua matanya melotot sempurna.
Sedangkan Dion yang sedang bicara pada temanya mendadak terdiam melihat kejadian didepan matanya.
Ami yang memejamkan matanya, perlahan membuka mata, saat tubuhnya tidak sampai menyentuh lantai dan tidak merasakan sakit.
"Byy.." Bagaikan banyak kupu-kupu yang berterbangan diperutnya, Ami merasa senang dan semakin jatuh cinta saat wajah tampan suaminya berada didepan matanya.
"Kamu tidak apa-apa." Nathan menatap wajah sang Istri intens. Dan Ami hanya mengaguk dengan senyum tipis sebagai jawaban.
Nathan membantu Ami untuk berdiri tegak, tangan pria itu membenarkan rambut mau yang berantakan.
Sungguh perbuatan Nathan menghipnotis orang-orang yang berada disana, bahkan didepan pintu dan pinggiran jendela semua dibuat meleleh dengan aksi yang Nathan lakukan.
"Fiks, kalau bukan kakak adik, mereka pasti sepasang kekasih." Ucap beberapa orang yang berasumsi sendiri.
Sedangkan Rena masih terpesona dengan pria tampan dan hot didepanya.
"R-Rafael Miller." Rena menepuk-nepuk pipinya tak percaya.
.
.
Thor udah end kok masih aja update???
Otor~ Karena otor terlalu sayang sama kalian 🥺
__ADS_1