My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Benjol dan pedofil


__ADS_3

Brak


"Opss, Sorry." Ando berbalik badan dan kembali menutup pintu rapat-rapat. Pria itu berdiri didepan pintu dengan wajah tak percaya.


"Sumpah Nathan benar-benar pedofil." Gumam Ando dengan bibir tersenyum. Ternyata sahabat sekaligus bosnya sudah menemukan cintanya pada diri istri kecilnya.


"Om, emph." Ami yang mendegar pintu di buka dan suara orang masuk mencoba untuk mendorong Nathan, tapi pria itu tetap tak bergeming malah semakin menekan tengkuknya.


Dug


"Auwss..kau." Nathan merintih dengan tangan yang menyentuh miliknya di bawah sana, wajahnya memerah karena merasa begitu ngilu pada bagian jerknya.


"Maaf." Cicit Ami dengan meringis, melihat wajah Nathan yang seperti itu pasti sakit sekali.


"Shh, kamu ingin menghancurkan masa depan kita." Nathan menatap Ami kesal.


Gadis didepanya terlalu bar-bar membuat Nathan tidak sempat menghindar dan berakhir singkong premium milikinya terkena sodokan lutut Ami.


"Masa depan apa?" Ami menatap Nathan dengan kening berkerut, "Lagian Om gak malu apa di lihatin orang." Keluh Ami dan ingin beranjak, tapi bahunya ditekan oleh tangan Nathan membuatnya duduk kembali.


"Tanggung jawab." Ucap Nathan yang menatap Ami intens.


Ami yang ditatap gugup sendiri, wajahnya tiba-tiba pucat. "T-tanggung jawab apa."


"Aaaaa." Ami berteriak tiba-tiba tubuhnya diangkat, dan pelakunya adalah Nathan. Pria itu membawa gadisnya masuk kedalam kamar pribadinya.


"Om, mau ngapain." Ami menatap kebelakang dan melihat sebuah ranjang dengan sprei berwarna putih.


Bugh


Nathan menaruh tubuh Ami sedikit kasar diatas ranjang. "Mau buat kamu bertanggung jawab." Ucap Nathan yang membuka jas dan menarik kemeja bagian bawah hingga kemeja itu keluar dari celananya, tangannya melepas kancing kemejanya satu persatu.

__ADS_1


"Om, ihh jangan mesum aku teriak nih." Ami menatap Nathan tajam, tumbuhnya sedikit mundur untuk menghindari Nathan yang akan mendekat.


"Teriak, coba saja."


Grep


Nathan langsung tengkurap di samping tubuh Ami, membuat Ami memejamkan mata.


"Pijat, sampai aku puas." Ucap Nathan sambil menarik tangan Ami untuk menyentuh punggung nya yang polos.


Ami membuka matanya lebar, mendegar ucapan Nathan. "Yang benar saja, bedan keras begini suruh pijit." Gerutu Ami, dengan wajah sebal. Tangannya yang kecil pasti tidak akan terasa.


"Lebih kuat, masa kalah sama semut." Ucap Nathan yang sengaja mengerjai Ami, salah sendiri dengan sengaja menyentuh milikinya menggunakan lutut, beruntung tidak terlalu keras, tapi membuatnya merasakan sakit.


"Ck, semut paket gigi, bukan pake tangan." Kesal Ami memukul-mukul punggung Nathan menggunakan kepalan tangannya.


"Alasan." Nathan membalikkan tubuhnya, hingga membuat Ami terkejut.


Nathan terseyum, melihat wajah Ami yang takut sambil menutup mata membuat Nathan merasa lucu, setiap melihat tingkah rondom gadisnya dia seperti terhibur.


"Buka mata kamu." Perintah Nathan, tapi mendapat gelengan dari Ami. "Buka atau aku cium" Peringat Nathan membuat Ami langsung membuka mata.


Ami mengerucutkan bibirnya, menatap Nathan kesal. "Kenapa Om itu sangat menyebalkan, kaku, galak, kejam seenaknya sendiri. Aku kan juga punya pendapat yang juga harus Om dengar, bukan hanya Om saja yang harus di dengar." Protesnya dengan wajah kesal. Ami bergeser untuk merebahkan kepalanya di lengan Nathan. Pria itu hanya diam menerima bentuk protes istri kecilnya.


"Aku kan juga ingin didengar bukan hanya mendengarkan," Keluhnya lagi. "Aku akan berhenti bekerja tapi dengan satu permata." Lanjutannya sambil mendongak menatap wajah Nathan yang berada di kepalanya.


"Apa?" Nathan mengecup kening Ami.


"Aku dan Olive akan mengajari anak-anak jalanan kemarin agar mengenal belajar, dan tadi aku sudah membeli semua kebutuhan dan maaf aku membelinya menggunakan uang Om." Ami menatap Nathan dengan senyum lebar, menampilkan jurus agar tidak kena marah karena menggunakan uang Nathan untuk keperluan lain.


"Apa tidak mengganggu sekolahmu." Tanya Nathan menatap kedua bola mata coklat yang dia sukai sejak pertama bertemu.

__ADS_1


Ami menggeleng. "Tidak, lagian jika waktu aku libur sekolah saja, dan ketika pulang sekolah aku dan Olive akan kesana. Aku cuma bingung harus melakukan apa ketika sudah tidak bekerja, lagi pula kegiatanku juga bermanfaat untuk orang lain."


Diam-diam Nathan terseyum, garisnya memang memiliki cara sendiri untuk membuatnya merasa bangga. "Baiklah aku ijinkan, asalkan_"


"Apa?" Tanya Ami dengan tidak sabaran.


"Jangan pernah dekat lagi dengan pria yang waktu itu, apalagi kembali bekerja dicafenya." Tegas Nathan membuat Ami menghela napas.


"Ini Antara ancaman, syarat atau Om cemburu." Ami menatap Nathan dengan kening berkerut.


Pletak


"Jangan banyak tanya, turuti saja jika kamu tidak ingin aku perawani."


"Eh, No..tidak mau." Ami menggeleng sambil mengusap keningnya yang sakit akibat di sentil jari Nathan.


"Nah, lebih baik nurut." Nathan tersenyum dengan mengusap kepala Ami. Hatinya terus saja menghangat jika dekat dengan gadis unik di dekapannya. Nathan akui ketika bisa berkomunikasi dengan Ami hari-harinya penuh warna.


Ami hanya menggaguk, dirinya sibuk mengusap keningnya yang sepertinya akan benjol.


"Sini." Nathan mengusap kening Ami yang dia sentil, dan menciuminya. "Mau ini." Ucap Nathan menyentuh dada Ami.


"Omm." Ami menahan tangan Nathan agar tidak berbuat nakal.


"Sedikit biar sizenya bertambah."


plak


"Kok di pukul sih."


"Om pedofil, yang suka sama anak dibawah umur."

__ADS_1


Yasalam😭


__ADS_2