
Setelah melesat meninggalkan sekolah, Nathan lebih dulu akan menemui klienya yang sudah menunggu di kafe yang kebetulan dekat dengan sekolah Ami.
Menoleh kesamping Nathan melihat ponsel Ami yang tergeletak di kursi penumpang depan, ternyata gadis itu meninggalkan ponselnya.
"Kenapa bisa tertinggal."
Karena sedang ditunggu, Nathan memilih untuk menemui kliennya lebih dulu, sebelum mengantar ponsel Ami yang tertinggal.
Kafe yang lumayan mewah, Nathan menemui klienya untuk membahas proyek pembangunan yang kini sudah berjalan, dan tinggal beberapa bulan lagi semua akan selesai.
"Daf." Nathan menghampiri meja yang diduduki rekan sekolahnya yaitu Dafa.
"Hay Nat." Dafa berdiri den menyalami Nathan layaknya sahabat.
"Udah lama gue gak lu." Ucap Nathan terseyum, dan duduk di ikuti Dafa.
"Sejak kita lulus sekolah, beruntung kita sekarang bertemu lagi." Pria seumuran Nathan yang bernama Dafa.
Dafa dan Nathan dulu sekolah bersama, dan setelah lulus mereka berpisah, Nathan melanjutkan ke LN dan Dafa hanya di dalam negeri.
"Ya, dan sepertinya lu sekarang sukses." Ucap Nathan memuji temannya.
Dafa hanya geleng kepala. "Sultan Adhitama tetap tidak ada tanding."
Mereka tertawa bersama.
"Lu gak salah membangun yayasan disana, disana sepi bro." Ucap Dafa yang sudah mempelajari proyek yang Nathan inginkan.
"Ya, di sana lebih nyaman. Dan jauh dari pusat kota."
"So, kenapa memilih disana?" Dafa penasaran.
Nathan hanya tersenyum, "Ntar lu juga tahu." Jawab Nathan.
Mereka membahas rencana yang Nathan inginkan, karena Hilda sudah tak lagi bekerja sama, dan Nathan mendapat ganti yaitu sahabatnya sekolah juga, dan sepertinya Nathan tidak keberatan karena Dafa seorang pria dan bukan Wanita. Karena jika wanita Nathan takut akan main perasaan lagi.
Setelah selesai Nathan kembali memutar arah untuk mendatangi sang Istri disekolah.
Keadaan sekolah memang sudah sepi karena jam pelajaran sudah di mulai.
Tapi bukan Nathan jika tidak bisa memasuki sekolah sang Istri.
"Selamat pagi pak." Sapa satpam sekolah yang membukakan pintu gerbang.
__ADS_1
Nathan hanya membalas dengan anggukan kepala dan senyum.
Setelah memarkirkan mobilnya, Nathan keluar membawa ponsel milik Istrinya.
Berjalan untuk menuju ke ruang kepala sekolah, Nathan tidak sengaja melihat murid perempuan yang berdiri dibawah tiang bendera yang menyita perhatiannya.
"Bukanya itu_"
Nathan segera mempercepat langkahnya ketika melihat Ami yang seperti lelah mengusap keringat dikeningnya.
Hingga Nathan melihat Istrinya yang seperti akan tumbang.
"Ayanaa..!!"
Nathan berlari kencang, beruntung dirinya tepat waktu menangkap tubuh Ami sebelum jatuh ke bawah.
"Sayang, hey.." Nathan menepuk pipi istrinya, tapi wajah pucat yang Nathan lihat.
Karena khawatir dan panik, Nathan langsung mengendong Ami menuju UKS.
"Pak Nathan." Kepala sekolah yang baru saja keluar dari ruangan guru melihat Nathan mengendong salah satu siswinya yang pingsan.
"Maaf, pak saya mau bawa Ayana ke UKS." Ucap Nathan tanpa berhenti.
"Sayang, kamu kenapa." Nathan membaringkan Ami di ranjang, dan orang yang bertugas di UKS langsung memberikan Ami minyak kayu putih untuk menyadarkan Ami.
"Apa dia baik-baik saja." Tanya Nathan panik.
"Dia cuma pingsan pak, memangnya bapak menemukannya Dimana?" Tanya penjaga UKS itu.
"Di lapangan, dibawah tiang bendera." Jawab Nathan dengan wajah panik.
"Dia hanya pingsan, mungkin karena tidak biasa mendapat hukuman."
Nathan mengernyitkan keningnya. "Hukuman."
Tak lama mata Ami bergerak membuka kedua matanya.
"Sayang.." Nathan terseyum melihat istri kecilnya membuka mata.
Karena sudah sadar, petugas itu pergi ketika melihat kepsek menyuruhnya pergi.
"Nak Ayana kenapa bisa pingsan?" Tanya kepala kepsek yang berdiri disamping Nathan duduk.
__ADS_1
"Aku_"
Ami mengingat, dan dirinya meringis mengingat karena melamun berakhir mendapat hukuman.
Menatap wajah Nathan Ami semakin malu.
"Kamu sudah lebih baik." Nathan membantu Ami untuk duduk.
"Em." Ami hanya mengangguk.
Dirinya tidak menyangka jika Nathan sekarang ada di sekolah.
"Baiklah kalau sudah tidak apa-apa, bapak permisi dulu." Pamit kepsek dan meninggalkan ruangan itu.
"By." Ami menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, kok nangis." Nathan yang melihat Ami menjatuhkan air mata menjadi bingung. "Sayang kamu kenapa?" Nathan memeluk istrinya yang terisak.
Ami tidak menjawab melainkan hanya pelukan erat yang bisa Natha rasakan.
.
.
"Mi, kamu pingsang." Kaget Olive menatap sahabat didepanya.
Keduanya berada di kantin, itupun karena Ami ingin makan bakso.
Ami hanya menggaguk, menyantap kuah bakso yang baginya sangat enak lezat.
"Jadi, sekarang kamu lapar sampai menghabiskan dua mangkuk." Olive menelan ludah, tidak biasanya Ami makan sampai dua mangkuk.
"Bisa jadi, karena gue laper banget." Ucap Ami dengan mengunyah.
Olive hanya geleng kepala, menelisik wajah sampai di bagian dada Ami.
"Kamu gemukan Mi, lihat bagian dada kamu sampai seperti itu." Tutur Olive pelan sambil tersenyum.
Ami menunduk untuk melihat yang Olive maksud, dan dirinya baru sadar jika baju seragamnya sudah mengecil. Bagian dadanya tercetak jelas.
"Duh, kok gue gak ngeh sih." Buru-buru melepas ikat rambutnya untuk menutupi bagia dada mengunakan rambut panjangnya, agar tidak mengundang buaya lapar.
"Asikk, kayaknya ada yang bantuin terapi alami nih." Ledek Olive seketika membuat Ami mendelik.
__ADS_1