
Bruummm
"Ayo naik!" Mike masih duduk di atas motor besarnya sambil menatap gadis yang sedang menatapnya tajam.
"Gue udah lama nunggu tapi lu lama." Jawab gadis itu yang masih duduk enggan untuk bergerak.
Mike membuka helm full face yang dia pakai, dan menyibakkan rambutnya kebelakang dan menatap gadis itu kesal.
"Urusan gue bukan sama lu aja, jadi ngak usah protes." Mike menatap Livia, gadis yang sudah dekat dengannya satu bulan ini.
Livia berdecak kesal. "Sebenarnya gue itu siapa sih bagi lu." Ucap Livia berdiri sambil menatap Mike dengan intens.
Mike terseyum miring, "Lu cewek yang tergila-gila sama gue, udah gue kasih kesempatan jadi lu jangan ngelunjak." Tegas Mike dengan tatapan tajam membuat Livia menunduk.
Livia memang gadis yang cantik dan primadona disekolah keduanya, mereka satu sekolah dengan trek record masing-masing yang cukup mumpuni di bagian good looking.
Livia hanya menatap Mike sekilas, lalu menaiki motor Mike dibagian belakang.
Mike memakai helmnya kembali, tanpa ba-bi-bu pemuda itu langsung mengegas motornya dengan kecepatan tinggi.
Mike tidak suka diatur oleh siapapun, bahkan dirinya selalu berdebat jika Mamanya meminta dirinya melakukan sesuatu.
Ditempat yang berbeda, Hawa berjalan menuruni tanggal, gadis beranjak remaja itu bersenandung riang dengan bibir yang mengembang senyum, ditanganya terdapat kertas yang terus membuatnya mengembangkan senyum.
__ADS_1
"Hawa kalau jalan liat_"
Bugh
Belum sempat suara yang menginterupsi selesai, gadis itu sudah tersungkur di lantai, beruntung Hawa berada dianak tangga terakhir.
"Aduuhhh Mama, itu kenapa anak tangga tidak mau minggir, kaki Awa jadi keseleo, huhuhuuu."
Ami menggelengkan kepala, melihat putrinya yang ceroboh dan tidak hati-hati, apalagi melihat wajah Hawa yang pura-pura kesakitan.
"Apa Mama perlu bilang sama papamu, untuk meruntuhkan tangga itu." Ucap Ami sambil besedakep tangan dan menatap Hawa yang masih duduk dilantai memegangi kakinya.
"Ya, bilang sama papa suruh ganti lift saja." Balas Hawa sambil berdiri.
Hawa hanya mencebik. "Besok kalau Awa punya rumah sendiri, Awa akan bikin lift, no naik tangga."
Setelah mengatakan itu, Hawa berdiri didepan Mamanya, dan mengeadahkan tangannya.
"Apa?" Tanya Ami dengan kening berkerut.
"Uang saku untuk nonton Mingyu." Hawa menyengir, dengan menampilkan gigi putihnya yang rapi.
Gadis kecil itu sedang memegang tiket konser K-Pop yang akan konser Jakarta.
__ADS_1
Mata Ami semakin memincing. "Hawa jangan macam-macam, kamu masih kecil."
Senyum diwajah Hawa seketika memudar. "Tapi Awa sudah beli ini Mah." Hawa menunjukkan kertas tiket yang dia beli, "Awa tidak sendiri ada teman-teman Awa juga."
Ami tetap menggeleng, "Tidak Mama ijinkan kecuali ada yang menjaga mu disana."
Hawa menuduk, wajah cerianya yang menayangkan melihat salah satu idolanya tadi kini pupus sudah, padahal dia tahu jika kedua orang tuanya tahu, pasti tidak diijinkan.
"Tapi Mah_"
"Jangan membantah Hawa!" Bicara Ami dengan tegas. "Kamu tahu kenapa Mama melarang mu?"
Kepala Hawa hanya mengaguk. "Jadi jangan buat Mama marah, karena keinginanmu itu."
Setelah bicara Ami pergi kembali kedapur, Hawa menatap sendu punggung Mamanya. Meskipun mengerti dengan kekhawatiran kedua orang tuanya, tapi gadis beranjak remaja itu juga ingin merasakan kebebasan seperti teman-temannya yang kemanapun bisa pergi sesuka hati.
Dan bedanya, disini Hawa Malika Adhitama adalah seorang putri satu-satunya dari keluarga Adhitama dan keselamatan Hawa dijaga ketat, meskipun tidak terlihat oleh gadis itu, dan Nathan sebagai seorang ayah akan melakukan yang terbaik untuk keluarganya agar selamat dari bahaya yang mengintai keluarganya, karena dunia bisnis sampai kapanpun akan kejam.
.
.
Next?ðŸ¤
__ADS_1