
Ando yang panik karena Nathan pingsan, langsung dibantu dengan orang-orang yang berada disana dan di bawa ke tenda yang tersedia disana.
"Ini pak ada minyak kayu putih." Ucap mandor yang bertanggung jawab dengan pembangunan disana.
"Ck, badan lu gede gini pake bisa pingsan segala." Gerutu Ando, yang menerima minyak kayu putih yang diberikan, Ando menuangkannya di jari dan sedikit mengoleskan dihidung Nathan.
"Mungkin beliau kelelahan pak." Ucap mandor yang bernama Bagas.
Ando masih mencoba untuk membuat Nathan sadar, dan tak lama Nathan tersadar membuka mata.
"Lu kenapa dah, cuma begini aja lemah." Ledek Ando yang melihat Nathan memijit keningnya.
Nathan bangun untuk duduk. "Apa masih lama." Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Ando.
"Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja, lebih baik kita pulang besok kita kesini lagi." Ucap Ando yang melihat sahabat sekaligus bosnya sedang tidak baik-baik saja.
"Em, rasanya kepalaku berat dan_." Nathan menutup mulutnya.
"Eh, mau apa lu jangan_"
Belum selesai Ando bicara, Nathan sudah lari keluar tenda dan memuntahkan isi didalam perutnya.
"Lu kenapa?" Ando menghampiri dan memijat tengkuk Nathan pelan.
Nathan hanya geleng kepala. "Gue mau pulang." Ucap Nathan dengan lemas.
"Kita ke rumah sakit." Ucap Ando yang merasa khawatir.
Nathan menggoyangkan tangannya memberi isyarat. "Tidak, aku hanya butuh istirahat saja." Tolaknya dengan berjalan pelan menuju mobilnya.
"Oke, lu tunggu dimobil. Gue bicara dulu sama pak Bagas."
Nathan hanya mengangguk. Tumbuhnya terasa lemas, kepalanya begitu berat dan pusing apalagi sejak pagi dirinya memang belum makan sesuatu hingga sampai siang ini.
.
.
Ami yang berada di hotel sedang duduk manis dan menikamati makanan yang dia beli tadi malam, gadis itu menghilangkan kebosanannya dengan makan yang banyak.
Tidak peduli jika tumbuhnya akan melar dan gemuk, yang penting mulutnya ngunyah.
Ting
__ADS_1
Ponselnya berbunyi, pesan masuk.
Ol_lipez
"Kapan pulang miami, aku kesepian..😩
Ami membaca pesan dari Olive membuatnya tersenyum.
Jari lentiknya berselancar di layar ponsel, membalas pesan Olive.
"Pengen pulang tapi jauh, gimana dong..🤧
Balasan Ami terkirim dan langsung centang dua.
"Sepi tau, gak ada kamu. Aku kayak gak ada yang anggep." Balasan Olive membuat Ami cemberut.
"Sabar deh, besok gue juga udah balik."
Ami tahu jika sahabatnya tidak memiliki teman selain dirinya, karena fisik Olive yang berisi membuat mereka merasa ilfil.
Ting..tong..
Ami yang masih asik membalas pesan chat dari Olive, beranjak ketika mendengar suara bel pintu berbunyi.
Jika Nathan pasti pria itu membawa kunci, dan ini membunyikan bel.
Ceklek.
"Loh by, kenapa." Ami yang melihat Ando memapah Nathan langsung panik.
"Dia tidak enak badan, makanya aku antar pulang." Ando memapah Nathan masuk kedalam, di bantu Ami merebahkan tubuh Nathan di atas ranjang.
"Kenapa bisa begini kak." Tanya Ami panik, dan duduk disamping Nathan yang berbaring, tangannya mengusap kening Nathan yang tidak panas.
"Mungkin dia kelelahan, lagian sejak berangkat dia tidak mau makan." Ando menatap Nathan yang berbaring dengan memejamkan mata.
"By, kenapa jadi begini. Kita jauh dari Mama dan bunda." Ami menangis, membuat Ando memijit keningnya.
"Lebih baik aku panggil dokter saja." Ando memilih keluar dan memanggil dokter untuk memeriksa Nathan.
"By..Hiks..hiks.." Ami menangis membuat Nathan membuka mata.
"Hey, kenapa?" Nathan, mengusap air mata di pipi istrinya, dirinya bingung.
__ADS_1
"Kenapa bisa sakit, kalau ada apa-apa aku gimana kita jauh dari Mama dan bunda." Ucap Ami lagi dengan terisak.
"Sttt, jangan nangis." Nathan menyuruh Ami untuk berbaring di sampingnya.
"Aku hanya lelah, dan mungkin karena belum makan jadi begini." Ucap Nathan dengan senyum di bibirnya yang sedikit pucat.
Mendengar suaminya belum makan, membuat Ami langsung beranjak.
"Mau kemana sayang." Tanya Nathan yang merasakan keadaannya lebih baik jika memeluk Istrinya.
"Tunggu disini." Ami berjalan mendekati meja yang berada di pojok ruangan hotel, dirinya baru saja memesan makanan.
"Makan ini dulu." Ami duduk di pinggir ranjang, dan Nathan bergerak untuk menggeser tumbuhnya menjadi setengah duduk bersandar pada bahu ranjang.
Ami menyuapkan nasi dan lauk untuk Nathan. "Lain kali jangan lupa makan." Ucap Ami, yang sudah mereda air matanya.
Nathan hanya mengangguk. "Jika tidak pagi-pagi berangkat, akan memakan waktu di jalan." Balas Nathan dengan masih menerima suapan dari istrinya. "Dan aku ingin cepat meneyelsaikan pekerjaan ini dan menemani kamu." Lanjutnya membuat Ami menatap wajah suaminya.
"Maaf dari kemarin aku mengabaikan mu." Nathan mengelus kepala Ami.
"Apa masih sakit." Tanya Ami, sambil menaruh piring di atas nakas.
"Tidak." Nathan menggeleng. "Berada di dekatmu menjadi lebih baik."
Nathan memeluk tubuh istrinya, mencium aroma tubuh Ami yang membuatnya merasa lebih baik.
"Mana ada seperti itu, kalau kamu bukan modus." Ami mencebik, membuat Nathan terseyum menyeringai.
Entah kenapa, jika didekat Istrinya seperti ini, dirinya merasa lebih baik, perut yang awalnya bergejolak kini baik-baik saja.
"Hm, modus karena tadi malam tidak ada ranjang bergoyang." Nathan mencubit hidung Ami.
Ami memanyunkan bibirnya. "Sekarang boleh." Tanya Nathan menatap Ami penuh arti.
.
.
GAESS.. kalau ada tipo disetiap paragraf, kalian boleh komen, kritik misal salah nama ataupun kata dan bahasa yang tidak dimengerti, kalian boleh komen di paragraf itu..
Karena Otor juga manusia biasa, jadi masih banyak salah dan perlu di perbaiki.. percayalah komen kritikan kalian author mengucapkan terima kasih, karena dengan begitu otor bisa perbaiki lagi🥰🥰
Sayang kalian banyak-banyak..❤️❤️❤️
__ADS_1