
Pagi hari Nathan di sambut dengan wajah cemberut istri kecilnya. Ami sejak bangun tidur sudah menampakkan taringnya untuk Nathan, dan Nathan yang sebagai pelaku tidak merasa bersalah, pria itu malah dengan santainya tidak perduli sama sekali.
"Bagaimana kopi ini bisa pahit." Nathan menatap wajah cemberut dan masam Ami yang sama sekali tidak enak dipandang, kopi pahit hanya alibinya saja.
Ami hanya melirik Nathan sinis, dengan memegang cangkir berisikan coklat hangat. "Lidah Om aja yang pahit, kenapa jadi salahin kopinya." Kesal Ami dengan ketus, mana ada kopi sachet pahit, kalau bukan lidah Nathan yang bermasalah.
Nathan ingin tertawa tapi dia tahan. "Karena yang buat wajahnya masam, pahit di pandang." Gombalnya membuat Ami mendelik. "Dosa pagi-pagi suami di suguhi wajah jelek seperti itu."
Ami tidak menjawab memilih untuk menyesap cokelat hangatnya. Bagaimana tidak kesal jika bangun tidur dirinya dalam keadaan setengah telanjang, apalagi banyak jejak yang Nathan tinggalkan. Sedangkan jejak-jejak yang kemarin saja belum hilang.
Kenapa juga dia tidak sadar jika ada yang menggerayangi tubuhnya, dan memberi suami mesumnya itu pelajaran.
Hah, Ami membuang napas kasar. "Niatnya mau ke perumahan pinggir rel kereta, tapi_" Ami tidak meneruskan ucapnya, dirinya malu jika dilihat Olive ataupun orang lain yang melihat tanda merah di sekujur lehernya.
Nathan menaikkan satu alisnya, menunggu Ami meneruskan ucapanya.
"Tapi sepertinya tidak jadi." Kesalnya dengan nada berat seperti kecewa.
"Aku siapakan supir untuk mengantarmu pergi." Nathan mencoba untuk membuat mood gadis itu kembali baik. "Dan kamu bebas mau melakukan apapun hari ini, termasuk belanja mungkin." Tambah Nathan sambil kembali menyesap kopinya.
Ami nampak berpikir, "Tapi ini gimana?" Jari telunjuknya mengarah pada leher yang rambutnya tergerai.
Nathan tersenyum, wajah polos serta pertanyaan yang polos membuat Nathan gemas. 'Bagaimana bisa aku memiliki Istri polos seutuhnya.'
"Ikut aku." Nathan berdiri dan menarik tangan Ami untuk menuju kamar gadis itu. Ami hanya pasrah entah apa yang akan dilakukan oleh suami menyebalkan itu.
__ADS_1
"Duduklah." Nathan mendudukkan Ami di kursi depan cermin meja riasnya, dan Nathan mencari sesuatu yang pernah dia lihat di kamar Mamanya waktu kecil. Nathan dulu sering melihat Mamanya yang selalu mengomel jika papanya membuat tanda merah di leher, tapi Nathan yang waktu itu belum mengerti hanya memperhatikan saja. Dan sekarang dia tahu fungsi dari apa yang dia lihat dulu saat kecil.
"Nah pakai ini." Nathan memberikan foundation pada Ami. "Pakai ini, pasti tidak terlihat." Ucapnya lagi dengan senyum.
Ami menatap Nathan tidak percaya, bagaimana dia bisa tahu, atau jangan-jangan?
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, meskipun aku pria dewasa tapi tidak pernah meninggalkan jejak di seenaknya." Ucapnya yang seolah mengerti dengan apa yang Ami pikirkan. "Sini aku bantu." Nathan membuka tutup yang masih baru itu, dan mengoleskan dileher Ami yang terdapat tanda kepemilikannya. Nathan senyum-senyum sendiri, Ami yang melihat dari cermin didepanya heran.
"Ini semua karena kamu Mas, seneng buat aku malu didepan Olive." Keluhnya dengan wajah cemberut, tapi dalam hati di juga merasa senang suami cuek dan dinginnya mau melakukan hal kecil seperti ini.
"Tidak usah malu, lagian kamu sudah menikah dan bukan melakukan hal yang terlarang dengan pria lain." Mata dan jari Nathan fokus meratakan warna senada di kulit leher Ami agar tidak terlalu mencolok.
"Ck, kamu bisa bicara seperti itu karena belum merasakannya."
"Em." Ami hanya mengangguk.
"Jangan cemberut lagi." Nathan memeluk Ami dari belakang. "Kan aku sudah bertanggung jawab membuatnya tak terlihat." Dagu Nathan bersandar di bahu Ami, keduanya saling menatap lewat cermin.
"Hari ini aku boleh ke cafe untuk mengundurkan diri?" Tanya Ami yang ingat jika ingin kecafe selain rumah kumuh.
"Em, janji hanya mengundurkan diri tidak dengan yang lain." Nathan menoleh menatap wajah istrinya dari samping.
"Ck, gak percaya banget."
Nathan hanya menghela napas dirinya juga tidak tahu kenapa bisa seposesif ini pada Istrinya. "Bukan tidak percaya, tapi hanya_"
__ADS_1
"Percaya deh, hubby." Ami menampilkan senyum manis membuat jantung Nathan berdebar. Bukan karena senyum melainkan panggilan Ami yang baru saja diucapkan.
"Katakan sekali lagi." Nathan menarik pinggang Ami, agar mendekat tanpa jarak.
"Percaya deh, kalau aku tidak akan lama-lama." Jawab Ami yang sengaja. Dia juga merasa malu dengan ucapanya tadi.
"Bukan itu, panggilan kamu tadi." Nathan semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa?" Ami menatap Nathan pura-pura lupa.
"Ulangi, atau aku akan memakanmu sekarang ju_"
"Hubby, hm hubby." Jawab Ami dengan wajah imutnya, matanya berkedip-kedip membuat Nathan tidak bisa menahan senyumnya.
"Ya, panggil aku hubby, sepertinya lebih baik." Nathan mengecup bibir ranum sang Istri.
"Tidak janji, kalau Om masih suka gangguin ak_"
"Emph...
.
.
Hukuman apa Nathan??
__ADS_1