My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Pikirkan ucapanku..!!


__ADS_3

Nathan sudah kesal dan jengah melihat Mamanya sejak tadi menyuruh Ami untuk mencoba pakaian. Bukan kesal karena lama menunggu, tapi Nathan kesal pada diri sendiri yang melihat Ami berbeda di matanya, mencoba beberapa pakaian yang sangat pas di tubuh Ami membuat Nathan harus kuat iman.


Ami memang cantik dan Nathan akui, bahkan masakan gadis itu sudah membuatnya ketagihan. Belum hal lainya lagi yang Nathan tidak ketahui apa yang ada di diri Ami. Dan itu pasti akan membuat Nathan tidak mampu berpaling.


"Sayang kalau kamu bosan di apartemen, kamu bisa datang ke butik Mama, dan pasti Mama akan senang jika kamu sering berkunjung kemari." Indira memberikan Ami beberapa paperbag berisikan pakaian yang sudah tadi Ami coba. Dan Ami merasa tidak enak diberi pakaian banyak, apalagi pasti harganya sangat mahal.


"Mah, apa ini tidak kebanyakan?" Ucap Ami melihat paperbag yang dia bawa. "Pasti ini harganya tidak murah Ami, takut buat butik Mama rugi." Lanjutnya lagi dengan wajah polos.


Indira malah tertawa, sedangkan Nathan dan Allan hanya geleng kepala.


"Ini semua tidak gratis sayang, ada suami kamu sebagai mesin uang," Seloroh Indira membuat Ami semakin tidak enak. "Buat apa dia kerja siang malam kalau bukan untuk menyenangkan Istrinya, benarkan Nat?" Indira menoleh pada Nathan.


Nathan mendekati Ami, dan merangkul pinggang gadis itu. "Ya, asalkan imbalanya lancar, pasti semua akan diberikan." Nathan mengecup pipi Ami, membuat Ami mematung. Desiran lembut dia rasakan. Ucapan ambigu Nathan Ami tidak mengerti. Sedangkan Indira dan Allan hanya geleng kepala.

__ADS_1


"Kalau begitu pasti cucu Mama akan segera hadir." Indira tersenyum menatap Ami. Sedangkan Ami yang baru paham dengan ucapan Nathan menatap suaminya garang.


Nathan yang ditatap terlihat santai. "Kami pulang lebih dulu mah, sudah sore." Ucap Nathan, tangannya pindah merangkul bahu Ami.


"Baiklah, hati-hati di jalan, lain kali Mama akan kirimkan baju untuk mu lagi." Indira memeluk dan mencium pipi Ami, begitupun Ami mereka nampak saling menyayangi.


Kedua nya berjalan keluar dengan Nathan yang merangkul bahu Ami, dan sampai di luar butik Ami menyingkirkan tangan Nathan yang berada di bahunya. "Om jangan cari kesempatan deh," Ami menatap garang Nathan yang sejak tadi seperti memanfaatkan kesempatan, padahal sebelum-sebelumnya Nathan tidak pernah melakukan hal lebih meskipun di depan keluarga.


Nathan menautkan kedua alisnya menatap Ami. "Ck, gak usah pura-pura lupa ingatan, meskipun kita harus bersandiwara didepan mereka, tapi tidak harus pakai cium pipi segala." Kesal Ami yang masih menatap Nathan penuh ancaman.


"Om, mesum nyebelin." Ami yang kesal berteriak dengan gregetan, sungguh ucapan Nathan mengingatkannya pada kejadian disore itu.


"Apa kamu mau menginap di situ." Panggil Nathan, ketika melihat Ami yang masih berdiri dengan kekesalannya, sedangkan Nathan sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Ami dengan wajah masam, masuk ke mobil Nathan, dan duduk di bangku samping kemudi.


Nathan melirik gadis itu sekilas, yang masih cemberut dan menatap kearah jendela.


"Berhentilah bekerja, apa aku yang harus datang untuk membuatmu berhenti." Ucap Nathan tiba-tiba. Dirinya tahu jika Ami belum berhenti dari pekerjaan di cafe, dan dari mana Nathan tahu?


Bukan masalah sulit bagi Nathan untuk mencari tahu, ponsel yang Nathan berikan pada Ami sudah Nathan setting sedemikian rupa sama seperti miliknya, dan Nathan akan tahu kemana pun gadis itu pergi, dan berapa lama Ami berada di tempat itu.


Ami yang mendegar ucapan Nathan menoleh. "Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing, lalu kenap_"


"Karena aku tidak ingin di cap suami yang tidak bisa menafkahi Istri, apa kamu tidak memikirkan harga diriku di depan bundamu, didepan kedua orang tuaku, apa kamu sengaja melakukannya karena aku tidak memberi mu uang hah.." Nathan yang kesal tidak sadar bicara keras pada Ami, membuat Ami langsung diam, dan memalingkan wajahnya menatap kearah jendela.


Nathan yang baru sadar, mengumpat dalam hati, dirinya lepas kontrol.

__ADS_1


"Pikirkan apa yang aku katakan."


__ADS_2