
Ami terseyum, dirinya benar-benar wanita beruntung di dunia ini yang mendapatkan kebahagiaan tak terkira di dunia ini.
"By, ini tempat apa?" Ami belum menyadari dan tahun tempat apa yang berada didepannya, dia juga merasa penasaran melihat patung yang ditutup oleh kain lebar di depan sama.
"Kamu akan tahu nanti, ayo kita kesana." Nathan mengajak Ami untuk mendekati patung yang sengaja ditutup itu.
"Bangunannya seperti yayasan By, apa disini rumah panti asuhan." Ucap Ami pada asumsinya sendiri.
Nathan hanya tersenyum, Istrinya banyak bertanya jika pertanyaannya tidak mendapat jawaban.
"Sudah diamlah, apa aku harus membungkamnya." Ucapan Nathan seketika membuat Ami berhenti bicara, dia tahu apa maksud dari ucapan suaminya, dan pasti tidak jauh dari perbuatan mesum.
"Ck, kamu memang suka mengancam." Gerutu Ami hanya mendapat tepukan lembut di kepalanya.
Nathan mengambil tali yang terbentang di atas mengikat pada kain yang menutupi patung itu.
"Pegang," Titah Nathan memberikannya pada Ami.
"Aku_" Ami menujuk dirinya sendiri. "Untuk apa?" Ucapnya lagi yang tidak mengerti.
"Kamu memang harus di beri pelajaran sayang." Nathan ingin mendekatkan wajahnya, namun dengan cepat Ami menahan dada Nathan dengan tangannya.
"Tidak, sini aku pegang." Ucap Ami dengan cepat, "Enak saja mau nyosor di tempat umum." Ucapnya yang didengar orang-orang yang berada di belakangnya.
Mereka semua tertawa dengan tingkah Ami yang lucu dan menghibur.
Ehem
Nathan berdehem untuk mengurangi rasa malunya, akibat perkataan Ami yang didengar orang banyak, padahal dia bicara sudah berbisik, tapi Istrinya yang bar-bar itu malah membuat imagenya runtuh.
"Hitungan ketiga, kamu tarik talinya." Ucap Nathan yang di angguki oleh Ami.
"Mungkin dibalik itu ada mobil mewah." Gumam Ami yang didengar Nathan, pria itu hanya geleng kepala. Untuk apa mobil di taruh di atas segala.
Pikir Nathan dengan garuk kepala.
"Sayang, ingat hitungan ketiga." Ucap Nathan lagi.
"Iya, bawel. Lama amat sih." Kesal Ami yang sudah tidak sabar.
"Satu.."
"Dua.."
__ADS_1
Semua ikut berhitung, mereka juga penasaran sosok dibalik kain yang menutupi, karena yang tahu hanya Nathan dan Ando disana.
"Ti,ga..!"
Wusssa
Kain yang menutupi jatuh perlahan kebawah ketika Ami menarik tali yang dia pengan.
"OMG..!"
Lagi-lagi Ami menutup mulutnya melihat patung yang mirip dengan postur tubuhnya, bahkan Ami semakin tidak percaya melihat tulisan yang tertera di bawah patung itu.
"Yayasan Rumah Baca Ami"
"Byy, ini ngak mungkin kan?" Ami menoleh pada suaminya yang berdiri sedikit berjarak darinya.
Ami tidak percaya jika dirinya memiliki tempat seperti ini.
"Hadiah untuk istriku." Nathan memeluk pinggang ramping Istrinya. "Aku tahu kamu menyukai kegiatan yang kamu lakukan di pinggir kota, dan tempat ini aku buat khusus untuk kamu, pergunakan tempat ini sebaik mungkin, berguna bagi anak-anak yang membutuhkan. Aku yakin jika suatu saat aku tidak bisa lagi menjagamu, kamu tidak akan merasa kesepian memiliki mereka."
"Byy," Ami menggeleng dan menyentuh bibir Nathan menggunakan jarinya, "Jangan bicara hal yang belum terjadi." Isak tangis mulai terdengar dari bibir tipis itu.
"Hey, kenapa malah menangis." Ucap Nathan memeluk istrinya.
Bunda Raya sudah menjatuhkan air matanya sejak tadi, wanita itu juga menangis bersadar didada suaminya.
"Aku tidak menyangka jika nasib putriku akan seberuntung ini Mas." Ucap bunda Raya yang melihat bagaimana putrinya diperlakukan istimewa oleh Nathan.
"Takdir seseorang tidak ada yang tahu sayang, termasuk kita." Mustafa mencoba menenangkan istrinya.
"Olive, gue bisa ngak sih kirim pesan sama Tuhan, kalau gue mau suami kayak pak Nathan." Ucap Loli lemas, gadis itu terlalu lemas melihat kejutan demi kejutan yang Ami dapatkan.
"Tuhan hamba juga mau pria tampan, mapan dan baik royal sepeti pak Nathan. Satu aja Tuhan ngak lebih." Ucap Olive yang juga sudah tidak bisa berekspresi lagi, gadis itu senang melihat sahabatnya mendapatkan kebahagiaan, dirinya berharap suatu saat juga bisa mendapatkan kebahagiaan seperti sahabatnya itu.
Allan dan Indira juga begitu bahagia, hari ini keduanya dibuat Speechless oleh putranya. Putranya itu ternyata banyak kejutan dan memiliki sisi lain yang mereka tidak ketahui.
Mereka pikir Nathan tidak bisa menjadi pria romantis dan penuh kekuatan, karena melihat sifat dingin dan kakunya membuat kedua orang tuanya merasa was-was jika berumah tangga.
Tapi ternyata perubahan putranya karena memiliki sosok wanita yang tepat, yang mampu merubah kehidupan putranya lebih berwarna.
Semua memberi selamat, dan juga ikut merayakan pembuka rumah baca hadiah dari Nathan untuk sang istri, Ami juga diperkenalkan dengan pengelola dan wakil dirinya disana yang akan membatu kegiatan di rumah baca itu.
Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Nathan, dan Ami sebagai pemilik hanya menerima saja apa yang sudah dilakukan suaminya, pasti yang terbaik untuknya.
__ADS_1
Acara mereka begitu meriah, karena Nathan juga mengundang semua warga yang menepati pinggiran kota, yang biasa Istrinya singgahi. Mereka juga merasakan kebahagiaan bisa bertemu orang baik seperti Nathan dan juga Istrinya.
Pesta kelulusan dan ucapan selamat untuk Ami dirayakan di rumah baca, bersama anak-anak yang kurang mampu dan warga yang kekurangan disekitar sana. Mereka hanya berdoa semoga apa yang mereka lakukan menjadi berkah untuk keluarga kecil mereka.
"Sayang apa setelah ini kalian tidak ingi program untuk memiliki momongan?" Tanya Indira.
Kini hanya keluarga inti saja yang duduk di salah satu ruangan keluarga yang Nathan desain sendiri disana, agar jika mereka berjuang ada ruang privasi untuk mereka.
Ami menoleh pada Nathan yang hanya menatapnya sekilas.
"Nanti mah kalau Ayana_"
"Besok kami akan kedokter mah, untuk konsultasi." Potong Ami sebelum Nathan selesai bicara.
Nathan menatap wajah istrinya, meminta penjelasan.
"Aku kira, tidak ada salahnya By, kita bertemu dokter. Jika memang aku sudah bisa untuk mengandung maka tidak ada salahnya untuk memiliki anak." Ami menyentuh tangan Nathan dan menggenggamnya. "Aku sudah siap untuk memiliki anak." Ami terseyum manis, sampai senyumnya menular pada Nathan yang ikut tersenyum bahagia.
"Kami serius?" Tanya Nathan untuk memastikan.
Ami mengaguk," Ya, aku serius By."
Nathan langsung memeluk istrinya, dan mencium seluruh wajah Ami didepan kedua orang tuanya dan mertuanya.
"Kamu benar sayang, lagian jika Tuhan sudah memberi rizki kita sebagai umatnya harus menerimanya dengan senang hati, karena itu berarti kita dipercaya untuk memilikinya." Ucap bunda Raya bijak, membuat Nathan dan Ami bersyukur.
Mereka juga mengiyakan dan mengaminkan, jika semua sudah dikehendaki, maka kita sebagai umatnya wajib untuk mensyukuri apa yang sudah dititipkan. Manusia hanya bisa berharap dan berusaha untuk menjalaninya dengan sebaik mungkin.
.
.
Author punya rekomendasi novel bagus untuk kalian baca lohh...?
Rekomendasi Author
Napen : M Anha
Judul : Aku juga ingin bahagia.
JANGAN LUPA MAMPIR YA SAYANG 🥰🥰
__ADS_1