My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Panas.


__ADS_3

Ami semakin membeku ketika benda kenyal menyentuh keningnya, gelayar aneh langsung terasa di sekujur tubuhnya.


Nathan menciumnya?


Meskipun pernah merasakan di tempat lain, tapi kali ini Ami merasakan hal berbeda, dirinya meraskan jika Nathan menciumnya dengan tulus.


"Em terima kasih." Ami langsung tersadar saat Nathan melonggarkan pelukannya.


"Hadiah kamu ada di kamar." Ucap Nathan penuh arti.


Ami yang tidak mengerti mengernyitkan keningnya. Sedangkan para orang tua dan adik ipar, bersorak dibelakang mereka.


"Hati-hati Ami, kayaknya kakak gue mau kasih ku hadiah begadang sampai pagi." Ucap Aileen menggoda keduanya, dan ketiga orang tua hanya tertawa.


"Jangan lupa ya pesanan Mama, berikan cucu yang lucu." Indira menimpali, membuat Ami yang baru tersadar membelalakan kedua matanya.


'Unboxing.' Kepala menggeleng memikirkan apa yang baru saja terlintas di kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Nathan yang melihat Ami menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Ami bergeridik negeri, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi karena mereka sudah sepakat dalam perjanjian.


.


.


.


Setelah acara tak terduga di dikediaman mertuanya, Ami tidak pernah lagi melihat senyum yang pernah Nathan tunjukan, dan Ami baru sadar, jika senyum itu adalah bagian dari sandiwara mereka.


Kini Ami sudah kembali masuk sekolah setelah tiga hari masa skorsing, dan Ami kembali ke apartemen setelah pulang dari rumah mertuanya, sejak saat itu dirinya belum bertemu Nathan kembali, hanya saja pria itu bilang jika akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri selama satu minggu kepada Mamanya, dan Ami hanya mendengar saja, tanpa bertanya ataupun apa.


"Woy...ngelamun aja.." Olive duduk di depan bangku Ami, gadis itu menatap sahabatnya yang hanya diam melamun.


"Kenapa sih, lagi ada masalah kamu." Tanya Olive yang ingin tahu, karena tidak biasanya Ami terlihat melamun.

__ADS_1


"Ngak, lagi males gue." Ucapnya dengan suara kesal.


"Habis libur tiga hari kok malah loyo, happy dong kan habis liburan." Goda Olive sambil menaikturunkan alisnya.


"Ck, garing tau ngak." Ami sedikit tersenyum.


"Aku ada sesuatu buat kamu." Olive merogoh tasnya, dan dia mengeluarkan kotak hadiah.


"Selamat ulang tahu ya, meskipun telat tapi aku masih ingat." Ucap Olive sambil nyengir.


Ami hanya tersenyum ternyata Olive tahu jika dia habis ulang tahun. "Emm thanks ya." Ami memeluk sahabatnya itu. "Elo emang bestie gue."


"Giliran di kasih hadiah langsung senyum, kalau di kasih yang lain, kamu gimana Mi." Ucap Olive yang juga ikut senang melihat wajah Ami kembali senyum.


"Gak ada yang ngasih juga." Ucap Ami cuek.


"Kan misalnya."


"Udah deh, gak usah bikin mood gue balik lagi." Ami menatap Olive tajam, namun dengan senyum.


.


.


Di belahan dunia lain. Nathan memang pergi ke LN untuk mengurus problem yang terjadi di sana selama kurang lebih satu Minggu. Dirinya hanya fokus pada pekerjaan tidak memikirkan hal lain, kecuali satu. Pekerjaannya cepat selesai dan cepat pulang.


Beruntung Ando bisa diandalkan untuk mengurus perusahaan di kota, dan dia fokus menyelesaikan problem di LN secepat mungkin.


Entah mengapa dirinya merasa begitu lama di sini, padahal dulu Nathan malah sengaja memperlambat kepulangannya ke tanah air dan memilih liburan di sini, tapi sekarang pria itu ingin cepat-cepat pulang.


Ting


Pesan masuk lewat ponselnya, Nathan yang sedang fokus mengabaikannya.

__ADS_1


Ting


Pesan satu lagi, mau tidak mau Nathan melihat siapa yang mengirim pesan.


"Bos bro apa kamu tidak merindukan gadis kecilmu.."


"Beruntung sekali pria yang menemaninya makan es krim itu."


Dua pesan dari Ando disertai foto, membuat Nathan mengeraskan rahangnya. Jika di tempat Nathan malam hari, makan di Indonesia siang hari lebih lambat waktunya di bandingkan di LN.


"Sial..!!" Nathan mengumpat, melihat Ami yang tersenyum sambil memakan eskrim di taman bersama seorang pria yang sama-sama memakai bawahan abu-abu, melihat itu membuat dada Nathan bergemuruh.


"Gue diam bukan berarti, gue tidak peduli." Nathan menatap foto itu nanar, lalu menghapusnya, dirinya kembali mengerjakan pekerjaannya agar cepat selesai dan kembali ke tanah air.


Asal kalian tahu, ada sesuatu yang Nathan pendam selama ini, dirinya belum bisa mengungkapkan apa yang terjadi.


"Bocil nakal."


.


.


"Makasih ya kak, tlaktiranya." Ami tersenyum pada Zian.


"Oke, lain kali jangan suka melamun tar ada yang lewat kecantol lagi." Ucap Zian sambil tersenyum.


"heee, iya."


Ami yang sedang galau memilih pergi ke taman kota, setelah pulang sekolah, dirinya duduk sendiri entah apa yang membuat pikirnya ruet dia juga bingung. Dan tak sengaja Zian melihat gadis yang dia kenal lalu menghampiri, sebelum mereka pergi ke cafe untuk bekerja.


"Mau bareng?" Tanya Zian ketika sudah sampai di dekat motornya.


"Gak lucu kan kalau aku tinggalin sepeda aku di sini." Ami tertawa, dirinya mengambil sepeda yang berada di samping motor Zian.

__ADS_1


"Iya juga sih." cowok itu menggaruk kepalanya.


"Yaudah aku duluan, tar juga kakak duluan yang sampe." Ami tertawa, lalu melambaikan tangan.


__ADS_2