My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Apel di gigit


__ADS_3

"Ami..." Seruan suara yang sangat Ami kenali dan Olive berlari kecil dibelakangnya.


"Hay.." Ami tersenyum menyapa Olive. Gadis itu ikut tersenyum.


"Kenapa tidak masuk sekolah, sepi tau gak ada kamu." Olive menatap Ami sedih. Dirinya memang tidak tahu jika Ami belum bisa membayar uang semester. "Padahal kan Minggu depan kita mau ujian, kamu malah bolos dua hari." Olive memanyunkan bibirnya, membuat Ami tertawa.


"Tapikan sekarang aku udah masuk, gak kesepian lagi dong ya berarti." Ami merangkul bahu Olive. Mereka berjalan untuk sama-sama masuk kelas.


"Iya sih, makanya aku senang lihat kamu tadi." Olive mengembangkan senyumnya.


.


.


Nathan baru saja tiba di kantor ketika ingin masuk ruangannya. Dia tidak melihat adanya sekretaris di meja kerja. mungkin sekretarisnya sedang berada di pantry untuk membuatkannya kopi.


Ceklek


Nathan mendorong pintu dan masuk ke dalam, ketika menatap lurus ke depan dirinya melihat seorang wanita berdiri memunggunginya, dengan menyentuh bingkai foto yang ada di atas meja. Meskipun belum melihat wajah wanita yang berdiri itu, Nathan sudah tahu siapa wanita itu.


"Untuk apa kamu datang kemari?"


Maudy menoleh ketika mendengar suara yang dia rindukan beberapa bulan ini. "Kamu sudah datang?" tanya Maudy dengan senyum manisnya.


Nathan hanya menatap datar wanita yang menampilkan senyum, tangan kirinya ia masukkan ke saku celana dan tangan kanan masih menjinjing tas kerjanya. Nathan tidak tahu jika Maudy datang ke kantornya apalagi bisa masuk ke ruangannya tanpa izin darinya. Sungguh pagi-pagi Nathan sudah dibuat kesal melihat wajah wanita yang tidak ingin dia lihat seperti Maudy.


"Untuk untuk apa kamu datang kemari?" Nathan mengulangi pertanyaannya dan tidak menghiraukan ucapan Maudy.


"apa aku tidak boleh mendatangi mu." modif tersenyum dan berjalan mendekati di mana Nathan masih berdiri. "sepertinya kamu semakin tampan setelah beberapa bulan Aku tidak melihatmu." dengan tidak tahu malu tangan Mau diingin menyentuh wajah Natan, tapi sebelum sampai menyentuh wajahnya Nathan lebih dulu menghindar dari Maudy. Dan duduk di kursi kebesarannya.


Maudy memejamkan matanya menahan rasa kesal yang tiba-tiba mendapat perlakuan dingin dari Nathan. Meskipun begitu maudy tetap menampilkan senyum untuk menutupi rasa kesalnya.

__ADS_1


Nathan mulai sibuk dengan pekerjaannya tidak memperdulikan keberadaan Maudy. Baginya Maudy tidak terlihat.


"Nat, bisakah kita makan siang bersama." Maudy mencoba mengajak bicara Natan, tapi pria itu sama sekali tidak menghiraukannya dan fokus pada pekerjaan, membuat Maudy mengepalkan kedua tangannya.


"Pergilah pintu keluar di sebelah sana." ucap Nathan tanpa melihat keberadaan Maudy.


Maudy yang diusir terang-terangan pun menahan amarahnya, perkataan Nathan jelas menyakiti hatinya dan Maudy tidak terima.


Dengan membawa amarah dan rasa dongkol, Maudy meninggalkan ruangan Nathan penuh dengan rasa sakit hati.


"Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini Nathan, Kamu pikir kamu bisa menolakku, jangan harap." Maudy berjalan dengan tatapan penuh kemarahan. "Aku akan mendapatkan apapun yang aku mau termasuk memilikimu." Maudy tersenyum sinis. Tidak ada yang bisa menolak dirinya wanita cantik dan memiliki gelar dokter, sungguh Maudy merasakan sakit hati ketika Nathan menolaknya apalagi tidak menganggap dirinya ada.


.


.


Jam istirahat sekolah Ami dan Olive berjalan seperti biasa menuju tempat di mana mereka sering menghabiskan jam istirahat untuk memakan bekal yang mereka bawa. Dan hari ini Ami hanya membawa sandwich sisa tadi pagi untuk dirinya dan Nathan sarapan.


Ami hanya menyengir, "Heee, hanya kebetulan ingin memakan ini jadi ya aku beli saja." jawabnya dengan bohong karena roti sandwich yang Ami bawa adalah buatan dirinya sendiri.


"oh.. beli toh, aku kira kamu bikin sendiri." Olive tersenyum, lalu membuka bekal yang dia bawa.


"kita bagi dua, kebetulan aku tadi membelinya dua sengaja untuk kita makan berdua." ucap Ami yang memberikan satu potong sandwich Nya kepada Olive.


"Ck, Apa kamu tidak lihat bekal yang aku bawa?" Olive menunjukkan isi bekal yang dia bawa. "Aku tidak makan roti. Kamu tahu sendiri kan, aku lagi berusaha untuk mengurangi berat badanku yang berlebihan daging ini." Olive mencebikkan bibirnya, Meskipun begitu dia menikmati apapun masakan yang dibuat oleh bundanya, hanya sayuran hijau dan dimasak dengan dikukus Olive dengan terpaksa memakan apa yang sudah bundanya siapkan kalau tidak bundanya akan mengomel sepanjang hari membuat olive sakit telinga.


Olive memang memiliki tubuh yang sedikit melebar dan bundanya yang cerewet ingin melihat anak gadisnya memiliki tubuh yang ramping, karena jika bundanya sedang mengomel pasti mengatakan jika nanti tidak ada pria yang mau dengan gadis gendut seperti dirinya.


Ami malah tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu. "Bunda kamu benar Olive, jika tubuh kamu gendut mungkin jodoh yang sudah Tuhan siapkan untuk kamu bisa berpaling karena melihat dirimu yang memiliki tubuh lebar." setelah mengatakan itu Ami tertawa terbahak-bahak apalagi melihat wajah Olive yang kesal.


"Kamu suka melihat sahabatmu menderita, sungguh kamu sahabat yang tidak punya perasaan." Olive pura-pura sedih menatap Ami yang menertawainya.

__ADS_1


"Teruslah tertawa di atas penderitaan sahabatmu ini." Ucap Olive bertambah kesal karena melihat tamu yang tidak berhenti untuk menertawainya.


Ami yang masih tertawa dan Olive yang wajahnya cemberut, tidak menyadari jika ada seseorang yang sejak tadi memeperhatikan mereka.


"Hay.. Boleh gabung." Zian tiba-tiba datang dan duduk di samping Ami.


"Eh, Kak Zian." Olive lebih dulu menyapa Dian dan Ami hanya tersenyum sekilas.


"Wahh.. kayaknya enak." Jihan langsung mengambil sepotong sandwich milik Ami. Dan cowok itu langsung memakannya dengan lahap.


"Lah kak, itu kan buat aku kenapa Kakak makan." Olive pun menatap sendu sandwich yang tadi dikasih oleh sahabatnya. Bukannya dia tidak mau makan roti tapi perkataan bundanya selalu terngiang-ngiang di kepalanya.


"Kamu sudah bawa bekal sendiri Olive, dan aku kebetulan belum makan jadi buat aku saja." jawab Zian dengan masih melahap potongan sandwich yang terakhir kali.


Olive pun dengan berat hati memakan bekal yang dia bawa, jika bukan karena bundanya yang cerewet pasti Olive sudah membeli bakso di kantin.


"Ay, kamu sudah berangkat, Aku pikir kamu hari ini tidak berangkat." Tanya Zian yang sudah menelan habis sandwich milik Ami.


"Em, sudah kak. Lagian Minggu depan sudah ujian aku tidak ingin tinggal kelas."


"Ya, memang harus begitu."


Zian tersenyum menatap Ami, dan Olive hanya melirik mereka berdua.


Drt..Drt.. Drt..


Ponsel milik Ami berdering, karena tangan kanannya masih memegang sandwich jadi Ami merokok ponselnya dengan menggunakan tangan kiri, mengeluarkan ponsel yang logonya apel digigit.


Suami Tampan


Gumam Ami membaca nama yang tertera di layar ponselnya. "Ck, narsis."

__ADS_1


Ami tidak menyadari dua orang yang sedang menatap benda yang berada di tangannya, mereka terkejut dan tidak percaya melihatnya ponsel yang Ami pegang.


__ADS_2