My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Belanja


__ADS_3

Ami memilih banyak cemilan dan buah, Nathan yang hanya mengikuti sampai geleng kepala.


"Sayang jika makananmu seperti ini pasti berat tubuhmu semakin bertambah." Ucap Nathan melihat troli yang dia dorong hanya penuh dengan makanan ringan, buah saja hanya sedikit dan itu untuk dirinya.


"Jadi aku gemuk." Ami menatap Nathan penuh selidik, dirinya tidak suka dikatakan gemuk.


"Aku tidak bilang kamu gemuk." Nathan mulai waspada melihat tatapan istrinya.


"Tidak bilang, tapi hanya menyindir." Ami menatap Nathan kesal dan pergi begitu saja.


"Salah bicara gue, Sayang tungguin." Nathan mengejar Ami yang berjalan cepat, hingga Nathan berhenti di depan rak bagian susu.


Ami memilih susu untuk dirinya minum karena sudah bosan dengan susu kotak dia ingin mencoba susu bubuk.


"Sayang." Nathan menunjukkan susu kotak bergambar wanita hamil dengan senyum mengembang. "Apa kamu suka susu ini." Tanya Nathan dengan wajah berseri.


Dada Ami berdesir ketika melihat senyum dan wajah Nathan yang berseri.


"Rasa pisang?" Tanya Ami dengan mengerutkan keningnya.


"Ya, pisang coklat." Jawab Nathan yang mengembalikan susu kotak itu lagi. "Tapi kamu kan tidak hamil." Lanjut Nathan dengan pelan tapi masih di dengar oleh Ami.


Ami maju, dan mengambil kotak susu yang tadi Nathan pegang. "Susu ini tidak khusus ibu hamil By, buat program juga bagus." Ami terseyum. Lalu memasukkan dua kotak keranjang troli yang Nathan dorong.


Nathan ikut tersenyum, entah mengapa hatinya menghangat hanya mendengar perkataan Ami barusan.


Setelah selesai Ami menuju kasir untuk membayar barang belanjaannya.


"Tunggulah di sana, biar aku yang mengantri." Ucap Nathan yang melihat semua kasir rata-rata terisi dan kasihan jika Istrinya menunggu lama.


"Tidak, aku mau bayar saja." Tolak Ami yang ikut mengantri.

__ADS_1


"Nanti kamu lelah sayang." Nathan bicara pelan tapi penuh penekanan.


Ami pun hanya pasrah, dan menjauh dari kasir menunggu Nathan di kursi tunggu.


"Kalau begini, kapan kartu yang dia kasih aku pakai" Gumam Ami menatap punggung Nathan dari jauh.


Duduk sendiri membuat Ami bosan, sedangkan Nathan masih di nomor dua antrian.


Ami membuka ponselnya, dirinya mencoba untuk mencari nama Aldrick Nathan Putra Adhitama di sosial media.


"Loh," Ami melihat postingan Nathan terakhir kali, ditanggal terlihat dirinya yang sudah menikah dengan Nathan.


Selain itu Nathan tidak pernah memposting hal lain kecuali fotonya dulu sebelum menjadi CEO.


Ami mencermati postingan foto Nathan yang terakhir, sepetinya dia tidak asing dengan latar belakangnya.


"Bukanya ini di kamar." Pikir Ami menduga.


Prak


Ami yang masih menatap ponselnya terkejut, dalam sekejap ponselnya jatuh ke lantai.


"Ponsel gue." Ami segera mengambil ponsel miliknya, dan layarnya hancur.


"Lu_" Ami diam mematung melihat orang yang berdiri didepannya.


"Apa? berani kamu sama saya..!" Maudy menatap Ami nyalang.


"Ganti ponsel gue, tanggung jawab." Ketus Ami menatap wanita cantik didepanya.


Bukan Maudy yang membuat Ami mematung dan terkejut, melainkan Zian yang berdiri disamping Maudy.

__ADS_1


"Cih, ngak sudi." Maudy berkata sinis, sedangkan Zian hanya diam menatap Ami.


Ami yang malas berdebat pun beranjak pergi, tapi tangannya di cekal oleh Maudy.


"Mau kemana kamu jal*ng hah, mau kabur." Maudy berkata keras agar suaranya di dengar oleh pengunjung yang lain.


"Lepas..!!" Ami memberontak tapi cekalan Maudy cukup kuat ditanganya.


"Jauhi tunangan saya, sebelum kamu menyesal." Ucap Maudy dengan emosi.


Ami mengerutkan keningnya." Bukanya dia yang ninggalin lu di saat acara pertunangan dan dia lebih memilih gue yang pasti jauh lebih muda dari lu." Ami terseyum sinis.


Maudy yang mendengar ucapan Ami geram.


"Kamu memang jal*ng tidak punya malu, beraninya kamu ambil milik aku, hah.." Maudy mendorong Ami kuat hingga Ami terdorong dan jatuh terduduk di kursi dengan keras.


"Auuwss..!!" Ami menjerit kesakitan di bagian perutnya.


"Ay..!"


"Sayang..!!" Nathan langsung berlari dan mendekati Ami yang kesakitan.


"Perut aku sakit By, ahh." Ami mencekram erat kemeja Nathan, dengan menahan sakit di bagian perutnya.


"Kau..!!" Nathan menatap Maudy yang berdiri mematung.


"Nat, aku ti_"


"Jika sampai ada apa-apa dengan dia, kaulah orang pertama yang aku cari." Setelah itu Nathan mengendong Ami yang merintih kesakitan, Nathan akan membawa Ami ke rumah sakit.


"Kakak keterlauan." Zian meninggalkan Maudy yang masih syok, melihat Nathan yang ada disana, Maudy pikir gadis itu hanya sendiri.

__ADS_1


Maudy ketakutan dan memilih pergi dengan rasa takut.


__ADS_2