My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Misi penyelamatan


__ADS_3

Ceklek


Suara pintu terbuka membuat Ami kembali meringkuk di atas kasur.


"Ck, apa dia belum sadar juga." Ucap seseorang yang Ami tidak kenal dari suaranya.


"Mungkin kau terlalu banyak menyemprotkan obat tidur tadi."Jawab pria satunya.


Pria yang tadi menyamar menjadi supir itu mengaguk. "Mungkin saja, tapi ini sudah hampir sore dan bos bilang jika harus memberinya makan." Ucap pria itu lagi dengan menatap gadis yang masih meringkuk seperti semula.


"Lagian untuk apa sih, si bos pakai culik segala."


"Mana aku tahu, aku bukan cenayang." Jawab supir itu ketus.


Ami yang mendengarkan masih diam.


"Jadi aku benar diculik." Gumamnya dalam hati, dia mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa bebas dari si penculik itu, apalagi Ami tidak tahu dirinya ada dimana.


"Sudahlah, kita tunggu saja dia sampai sadar, lebih baik kita tunggu dan berjaga diluar, pasti sebentar lagi bos datang." Ucap pria yang menjadi supir tadi.


Pria satunya pun mengaguk, dan mereka memilih pergi meninggalkan Ami kembali.


Mendengar pintu ditutup Ami kembali membuka mata, gadis itu berusaha untuk duduk.


"Sebenarnya siapa yang menculik ku." Ami terus berfikir tapi otaknya tidak mampu menemukan jawaban, gadis itu memilih mencari ide untuk melepas ikatan ditangan dan kakinya.


Karena kakinya juga diikat Ami kesulitan untuk bergerak, apalagi dirinya berada diatas kasur.


"Ck, kenapa kaki gue juga diikat sih, awas aja kalian kalau ketemu nanti."


Ami menggerakkan tubuhnya agar bisa sampai di pinggiran ranjang itu, kakinya menapak lantai dengan perlahan dirinya berusaha untuk berdiri.


Ceklek


Ami yang terkejut justru tubuhnya ambruk kelantai ketika mendengar pintu kembali terbuka.


"Auuwss." Ringisnya ketika ketika boko*ngnya lebih dulu menyentuh lantai.

__ADS_1


"Owh..Owh.. ternyata nyoya Adhitama sudah bangun." Seorang pria paruh baya dengan wajah bulenya masuk keruangan itu, diikuti di pria yang Ami tahu salah satu mereka wajahnya seperti supir yang menculiknya tadi.


"Ish, bantuin kek bukannya malah diketawain." Kesal Ami kerena pria tua itu menertawainya.


Tuan Fork masih tertawa. "Ternyata istri pria sombong itu cantik juga." Tuan Fork maju dan berjongkok didepan Ami yang duduk dalam keadaan terikat dilantai.


Ami memincingkan mata mendengar ucapan pria itu. "Apa mata anda bermasalah?" Tanya Ami yang menatap tuan Fork dengan aneh.


Tuan Fork yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya menaikkan alisnya sebelah. "Apa yang kau katakan." Balas tuan Fork menatap tajam Ami.


Sedangkan dua orang pria yang berdiri hanya saling tatap.


Ami menghela napas. "Selain matamu yang bermasalah ternyata telingamu juga tuli."


Mreepp


Kedua pria yang berdiri menahan tawa, hingga membuat tuan Fork menatap tajam mereka. "Kalian mau cari mati..!" Hardiknya dengan tatapan tajam.


"Sepertinya anda yang akan mati duluan tuan, karena anda terlalu serius dan tua." Ami berucap santai dengan wajah tanpa dosa.


"Kalian lepaskan ikatannya." Ucap tuan Fork yang langsung berdiri.


Salah satu dari mereka melepas ikatan ditangan dan kaki Ami hingga membuat Ami bernapas lega.


Fyuhh


"Dari tadi kek, kalau kayak gini kan enak, ngak perlu diikat aku juga nggak bakalan kabur." Ami mengusap pergelangan tangannya yang terasa perih, dirinya mencoba menahannya dengan tidak mengeluh sakit.


"Lagian kenapa kalian repot-repot menculik ku, jika kau tahu lebih baik aku datang sendiri pada kalian." Ucap Ami lagi yang langsung duduk dipinggir ranjang dengan kedua tangan menyangga kebelakang, kepalanya menoleh pada pria paruh baya yang menatapnya aneh dan juga bingung.


"Anda tahu tuan, sebenarnya saya juga ingin bebas dan pergi dari pria yang anda katakan sombong tadi." Ami mencebik sambil menggaguk. "Saya nggak betah jadi Istrinya." Ami menampilkan wajah sedih.


Tuan Fork masih berdiri diam, tidak tahu kenapa gadis didepanya malah curhat.


"Apa anda menginginkan sesuatu darinya?" Tanya Ami menatap tuan Fork dengan serius.


"Apa pun itu tidak ada urusannya denganmu, karena kau hanya menjadi alat disini." Balas tuan Fork dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


Ami memanyunkan bibirnya, "Biar aku kasih tahu." Ami mejeda ucapanya dan berdiri, dia melirik dua pria yang berdiri diam sejak tadi.


"Apa?" Tuan Fork menjadi penasaran.


"Tapi aku lapar, butuh tenaga untuk bicara." Wajah Ami langsung berubah memelas dengan memegangi perutnya.


Tuan Fork yang melihat wajah Ami menjadi kasihan. "Ambilkan dia makan." Ucapnya kepada anak buahnya.


Ami terseyum lebar, dia kembali duduk dengan posisi seperti tadi, Ami memainkan kakinya dengan mengayunkan maju mundur.


Tak lama pria yang disuruh tadi datang dengan membawa nampan berisikan makanan dan minuman, Ami terseyum lebar menyambut makanan yang dia minta.


"Nah, sebaiknya anda menunggu diluar, kalau kalian melihat saya makan, saya takut bukan nasi yang saya makan." Ucapan Ami terhenti dengan menatap tiga pria yang asing dimatanya.


Tuan Fork hanya menatap Ami intens, gadis kecil ini ternyata memiliki nyali pemberani dia tidak takut sama sekali.


"Makanlah, dan setelah ini mungkin kau tidak akan bisa makan jika suamimu sombongmu itu tidak memberikan apa yang dia mau." Ucap tuan Fork berbalik dan ingin pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika Ami berucap.


"Apa Anda ingin bekerja sama dengan saya." Ami terseyum meneyringai dengan menaik turunkan alisnya menggoda.


Ditempat lain Ando dan Nathan sedang mengatur strategi bersama Ditya, dan anak buahnya. Mereka sudah menemukan lokasi penyekapan Ami, dan Ditya akan membatu temanya itu bersama tim-nya.


"Baiklah sepertinya kita bernagkat sekarang, karena lokasi mereka cukup jauh dari kota dan kemukiman jadi kita perlu membawa senjata tambahan." Ucap Ditya kepada anak buahnya.


Ditya memberikan pertolongan dengan membawa sepuluh anak buah, mereka mendapat laporan jika di markas itu ada sekitar lima belas orang, jika dilihat dari luar. Anak buah Nathan masih stay bersembunyi disana melaporkan apa saja yang mereka lihat, dan mereka tidak berani bertindak karena kalah jumlah.


"Baiklah kita pergi sekarang." Nathan yang sejak tadi mencoba fokus dan tenang ketika Ditya memberi arahan apa yang harus dia lakukan, sebisa mungkin dirinya fokus dan mengalihkan bayangan Ami dari otaknya, meskipun hatinya terus berperang.


"Nat, bawa ini untuk berjaga-jaga." Ditya memberikan senjata api untuk Nathan. "Karena kamu yang diincar mereka, dan kami akan melindungimu." Lanjut Ditya lagi.


Nathan menerima benda berbahaya itu, meskipun tidak pernah menggunakannya, tapi dirinya tahu bagaimana cara memakainya.


Ando juga begitu, Ditya juga memberikannya.


Nathan mengangguk, dan menyelipkan senjata itu di balik jasnya di belakang punggung.


"Kali ini kau memegang senjata api beneran Nat, bukan senjata apimu yang hany bisa menembakkan saus mayones." Ucap Ando dengan senyum menjengkelkan bagi Nathan.

__ADS_1


__ADS_2