
"Ahhh.."
Ami memeluk leher Nathan dengan dada membusung, gadis itu merasakan sedikit perih pada intinya ketika singkong premium berhasil melesak dengan sempurna.
Karena memang sudah lebih dari dua Minggu mereka tidak melakukan penyatuan, dan itu terasa berbeda lada area sensitif Ami.
Nathan menatap sayu wajah istrinya yang meringis kecil, "Apa aku menyakitimu?" Jemari Nathan mengusap lembut wajah Ami, dan menyelipkan anak rambut dibelakang telinganya.
Ami menggeleng kecil." Tidak, hanya saja saja sedikit perih."
Nathan terseyum, miliknya juga merasakan sempit. "Mungkin masih butuh perkenalan lagi."
"Ugh..shh Mungkin." Ami meleguh ketika Nathan menekan miliknya semakin dalam.
"Mau dimana hm." Bibir Nathan menyusuri bahu naik turun dileher, memberi kecupan basah dan juga tanda kepemilikan di setiap jengkal kulit sang istri.
"Em, sofa."Jawab Ami dengan mengigit bibir bawahnya, dengan nakal.
Nathan yang gemas langsung meraup bibir yang digigit sensual, dia melumattnya kasar, dengan menuntut.
Hawa panas sudah meliputi keduanya, Nathan menyentuh istrinya dengan lembut akal sehatnya masih waras untuk bermain kasar dan lama, Nathan akan menjaga buah hatinya yang jelas sudah di nanti-nantikan sejak lama.
Suara desahann keduanya memenuhi kamar Nathan yang kedap suara, kamar yang sedang digunakan dua insan sendang gelud diatas sofa dengan Ami yang menjadi pemimpin.
"By Ahhh."
"Enghh sayang." Nathan melumatt dan menenggelamkan suara erangannya dimulut Ami, keduanya beradu desahann saat pelepasan itu datang bersama.
"Ugh.." Ami memeluk leher Nathan, dan menyandarkan kepalanya dibahu pria itu, dengan napas yang tersengat, miliknya masih berkedut merasakan milik Nathan yang berkedut melakukan hal yang sama.
Nathan mendongak menyandarkan kepalanya di bahu sofa, dengan bibir menyunggingkan senyum, napasnya masih tersengal tapi kepalanya terasa lebih plong, apalagi kepala bagian bawah😳
"Terima kasih sayang." Kecupan dikening selalu Nathan sematkan, tanganya mengusap perut rata Ami, "Maafkan Papa jika sidikit kasar." Ucapnya pada Calon bayinya.
Ami merasa lelah, dengan aktifitas yang baru saja mereka selesaikan.
__ADS_1
Nathan mengendong Ami yang masih lemas seperti koala, bahkan milik Nathan masih bersemayam di sangkarnya.
.
.
Pagi-pagi sekali Nathan yang masih terlelap merasa terganggu dengan suara berisik yang menganggu tidurnya, pria itu sampai menutup telinganya menggunakan bantal.
"Nona, jangan seperti itu nanti dimarah den Nathan." Ucap mbok Nah, yang begitu takut dengan apa yang Ami lakukan.
Bukan hanya mbok nak, mang Diman juga melakukan hal yang sama, ada empat pelayan yang melihat kelakuan Ami membuat mereka harap-harap cemas, mereka takut kenal marah majikannya.
"Udah ah, mbok pergi aja sana beresin pekerjaan. Aku ngak papa disini." Ami berteriak dari atas, gadis itu dengan santainya duduk dengan kaki menjuntai ke bawah.
"Duh non bibi beneran takut." Mbok nah sudah tidak bisa lagi menyembunyikan wajah paniknya, hari masih jam setengah enam pagi, dan mereka dikejutkan dengan kelakuan istri majikan mudanya.
Nathan yang merasa semakin terganggu membuatnya kesal.
"Ck, ribut banget sih ngak tau ala kalau masih pagi." Nathan menguap, dan melihat kesisi samping dimana istrinya sudah tidak ada lagi.
membuka gorden jendela hari cuaca masih sedikit gelap, tapi Nathan masih bisa melihat dengan jelas jika empat pelayan sedang berdiri dibawah pohon mangga dengan bantuan lampu dihalaman belakang.
"Ck, pada ngapain sih, rebutan nungguin mangga jatuh." kesalnya karena menurutnya tidak penting dan mengganggunya.
Nathan memang tidak bisa melihat, karena pohon itu tingginya masih dibawah jendela kamarnya.
"Ayo atu non, turun nanti biar mang Diman yang cariin mangganya." Bujuk mbok Nah lagi yang sudah kesekian kali.
Nathan yang juga penasaran sekaligus untuk mencari Istrinya, yang tidak ada didalam kamar sepagi ini, padahal Ami sangat susah bangun saat diaparteman.
Dikamar indira yang baru saja keluar kamar mandi setelah membersihkan diri juga ikut mendengar suara berisik dari arah belakang.
"Bang, suara apa itu dibawah." Ucapanya menghampiri Allan yang masih mengenakan kaus kerah, keduanya baru saja selesai membersihkan diri.
"Ngak tau, coba kita lihat." Indira mengaguk setuju. Keduanya beriringan kamar untuk keluar, melihat kegaduhan apa yang terjadi.
__ADS_1
Nathan lebih dulu sampai dihalaman belakang, "Ada apa ini?" Tanyanya dengan berdiri diambang pintu belakang, menatap empat asisten rumah tangga Mamanya yang membuat gaduh.
"Em, itu den.." Mbok Nah melirik Diman yang juga takut.
Bugh
"Auwwss,, apa-apaan ini." Kesal Nathan memegangi kepalanya yang baru saja tertimpuk dari atas, sedangkan Nathan tidak melihat siapa-siapa diatas sana.
Nathan mengambil benda keras yang baru saja membuat kepalanya sakit. "Mangga?" Beo Nathan yang sedang berpikir, bagaimana bisa mangga terlempar jatuh dan bisa mengenai kepalanya.
Ami yang bisa melihat ekspresi suaminya tertawa cekikikan.
Bugh
"Auws, sialan..!!" Umpat Nathan yang merasakan dua kali tertimpuk, karena kesal dan penasaran Nathan berjalan mendekati pohon mangga itu, Mbok Nah dan mang Diman menyingkir memberi jalan pada majikanya.
"Siapa yang sudah bera_" Nathan membulatkan kedua matanya ketika menangkap seseorang yang dia cari sedang duduk nangkring di atas pohon.
"Upss, katahuan deh." Ami menutup mulutnya.
.
.
**Bantu kasih rate bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 5 dong sayang2 ku..
Di RANTING BAGIAN DEPAN 🥰🥰**
Yang bagian otor lingkari 🙏
.
.
__ADS_1