My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Percakapan


__ADS_3

"Loh neng, kok disini."


Ami mengusap dadanya yang kaget, karena mendengar suara orang dari belakang.


"Eh, mbok iya." Jawab Ami sedikit senyum.


"Masuk atuh, neng teh dari mana aja baru terlihat."


Ami hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari art Mama mertuanya.


Ami mengikuti langkah art itu dari belakang, sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.


Sampainya di dalam Ami memang melihat adanya bapak kepala sekolah dan Nathan yang masih mengobrol, tanpa menoleh ataupun menyapa Ami berjalan lurus untuk mencari Mama mertuanya dan yang keluarga yang lain.


Nathan yang melihat Ami melewatinya begitu saja tanpa menoleh ataupun apa, membuat Nathan merasa ada yang berbeda.


"Kak." Ami melihat Aileen yang sedang mengobrol dengan pria dan wanita yang dia tidak tahu hanya tersenyum.


"Kamu baru datang?" Tanya Aileen yang memang baru melihat Ami, istri kakaknya.


"Maaf aku tidak tahu jika Oma_" Ami tidak melanjutkan ucapanya.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibir Aileen, entah mengapa dirinya sedikit kesal, melihat Ami yang baru saja datang padahal dia adalah menantu tertua di kelaurga ini.


Ami menunduk, lalu memberanikan diri untuk bertanya. "Mama Indira di mana?" Tanya Ami lagi dengan sopan.


"Di kamar." Jawab Aileen seadanya.


Ami hanya menggaguk, dan permisi untuk pergi ke kamar Indira.


"Ayana.." Nathan memanggil Ami dan menghampiri gadis itu. Ami menoleh tapi hanya sebentar. ",Tunggu dulu aku_"

__ADS_1


"Saya turut bela sungkawa atas meninggalnya Nyonya Lili." Ucap Ami dengan sedikit menunduk.


Nathan yang mendengar ucapan Ami, mengernyitkan keningnya. "Nyonya, maksud kamu."


Ami hanya tersenyum tipis. "Saya hanya ingin bertemu dengan Mama Indira, maaf permisi." Ami segera pergi meninggalkan Nathan yang masih memikirkan panggilan Ami.


Nathan tidak tahu jika gadis itu sedang menahan rasa yang membuatnya sesak.


"Ay, tunggu ay.." Nathan mengejar langkah Ami, menaiki tangga.


"Mama, Ami yang berdiri di ambang pintu menatap sendu Mama mertuanya yang sedang ditemani papa Allan.


"Sayang kemarilah." Mata Ami sudah berkaca-kaca, dia langsung mendekati Mama Indira dan memeluknya. "Maaf Ami baru datang, Ami tidak tahu jika Oma_" Ami tidak melanjutkan ucapanya dia ikut menangis seperti Mama Indira.


"Oma sudah tenang bersama Opa, dan Oma tidak merasakan sakit lagi." Indira mengusap kepala Ami dengan lembut. Mereka saling berpelukkan, Nathan yang ingin masuk mengejar Ami pun dia urungkan.


"Biarkan mereka berdua." Ucap Allan melihat istri dan menantunya yang masih berpelukan.


Nathan hanya mengangguk, dirinya yang ingin bicara dengan Ami, Ia urungkan dan pergi dari sana.


mereka masih mengobrol dan saling sapa kabar. Termasuk Nathan dan juga Sena yang sejak tadi baru bisa menegur sapa.


"Apa kabar?" tanya Nathan duduk di samping Sena, pria itu baru saja turun dari kamarnya, setelah membersihkan diri.


"Baik bang," Balas Sena dengan biasa saja.


Aku dengar kamu sudah dijodohkan, selamat." Ucap Nathan lagi dengan terseyum tipis.


Sena hanya menggaguk apa adanya. Karena Nathan sejak tadi mengajaknya mengobrol terus Sena sedikit menimpali. Dan Sena baru sadar jika Nathan sudah mulai berubah, pria kaku dan ketus itu kini lebih banyak bicara.


Keduanya mengobrol tanpa memperdulikan sekeliling, "Abang, memang tidak berubah selalu membuatku kesal." Sena memukul bahu Nathan memebuat Nathan tertawa.

__ADS_1


"Dan jangan bilang Abang juga masih menyukaiku." Lanjut Sena dengan tertawa. Bagi Sena Nathan sudah berubah mungkin karena sudah menikah. Dia senang melihat Nathan yang bisa menerima wanita lain.


"Kalau itu sejak dulu sampai sekarang, tidak akan berubah." Balas Nathan menatap Sena dengan intens.


Deg


Ami yang baru tiba bersama Mama Indra di bawah mendengar apa yang keduanya bicarakan, bukan hanya Ami tapi Mama Indira juga. Mama Indira menoleh melihat raut wajah Ami yang hanya sedikit menunduk.


"Nathan..!" Mama Indira memanggil Nathan dengan suara sedikit keras, membuat Nathan yang asik bicara menoleh. Dan mendapati Ami beserta Indira yang menatapnya tajam.


Nathan yang melihat tatapan tajam Mama Indira menoleh pada Ami yang hanya menunduk.


"Mah_"


Indira menggandeng lengan Ami dan pergi dari sana, tidak peduli Nathan yang memanggilnya.


"Mah, tunggu dulu." Nathan mencekal tangan Ami, yang tarik Mamanya. "Aku mau bicara dengan Ayana." Ucap Nathan menatap kedua bola mata Ami yang menatapnya sekilas.


Mama Indira menatap Ami dan kembali menatap wajah putranya. "Tidak sekarang, dan Mama kecewa sama kamu." Indira langsung kembali menarik Ami membuat cekalan tangan Nathan terlepas.


"Mah, tidak bisa begitu dong Mah." Ucap Nathan yang masih berusaha mengejar Mamanya. Yang ingin menutup pintu kamar.


Wajah Nathan sudah sedikit panik, melihat Mamanya yang marah, itu berarti percakapannya dengan Sena di dengar oleh mereka.


"Kenapa tidak, Mama bebas melakukan apapun termasuk memisahkan kalian, seperti Mama mempersatukan kalian." Mama Indira menatap sinis putranya, dengan rasa kecewa. "Mama pikir kamu sudah menghapus rasa cintamu yang salah itu, tapi ternyata waktu tidak bisa membuatmu berubah."


Nathan terdiam, bukan wajah Mamanya yang dia lihat, melainkan raut wajah Ami yang tidak mengekspresikan apapun, gadis itu hanya diam tanpa bicara.


"Mah, bukan maksud Nathan seperti itu, tapi_"


Brak

__ADS_1


Indira langsung menutup pintu kamar dan menguncinya, tidak peduli mendengar gedoran dan suara Nathan yang memanggilnya diluar sana.


"Maaf kalau putra Mama sudah menyakitiku." Indira memeluk menantunya, meskipun Ami tersenyum tapi Mama Indira bisa melihat rasa kecewa di kedua bola mata gadis itu.


__ADS_2