
Semua mata yang memandang tidak berkedip, melihat gadis remaja yang kini disulap menjadi Cinderella. Hawa begitu cantik membuat Mario tidak mengalihkan tatapan matanya pada Hawa yang berjalan mendekat kearahnya.
Nathan mengusap air matanya menggunakan tisu, dirinya begitu terharu setelah menikahkan putrinya.
Tidak menyangka akan secepat ini menikahkan putrinya, padahal Hawa masih duduk di bangku sekolah. Mekipun sudah 16 tahun, tapi Nathan tetap memperlakukan Hawa seperti bayi yang selalu dia Timang, Nathan tidak pernah membuat putrinya menangis, membentaknya pun tidak pernah.
"Papa." Hawa menghampiri Nathan yang sudah merentangkan tangannya.
Sosok pria yang Hawa lihat pertama kali, sosok pria yang Hawa tahu adalah cinta pertamanya, pelukan hangat seorang ayah yang pertama kali Hawa rasakan, sosok pahlawan yang selalu melindunginya dari bahaya sekecil apapun.
"Putri papa sudah besar, dan sudah menjadi seorang istri." Nathan tak kuasa membendung air matanya, pelukannya begitu erat memeluk tubuh putrinya.
Tidak hanya Nathan, semua orang yang melihat keharuan Nathan dan Hawa ikut meneteskan air matanya. Ayana sudah menangis diperlukan Adam yang mencoba untuk tidak menjatuhkan air matanya.
Sedangkan Oma Indira berada dalam dekapan Opa Allanaro, mereka semua menyaksikan bagaimana keharuan melepaskan seorang putri untuk pria yang sudah berhak memilikinya. Mereka juga pernah diposisi yang sama saat harus melepaskan Aileen pada Ditya.
Semua orang tua akan mengalami hal yang sama, merelakan anak-anak kita untuk menyongsong kebahagiaan mereka. Dan sebagai orang tua kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan mereka.
"Terima kasih Pah, terima kasih sudah menyayangi Hawa sampai saat ini." Hawa tak kuasa menahan cairan bening yang menetes, gadis itu juga merasakan perih berpisah dari kedua orang tuanya. Tapi inilah takdir kehidupan yang harus dijalani bahwasanya semua manusia sudah diciptakan untuk berpasang-pasangan. Dan saat ini Hawa menemukan pasangan hidupnya.
"Selalu sayang, papa akan menyayangimu sampai papa tidak bisa melihatmu lagi."
Ucapan Nathan semakin membuat tangisan Hawa terisak.
Tidak disangka acara sakral yang beberapa menit lalu berlangsung kini menjadi acara penuh haru dan air mata, air mata bahagia dan kesedihan menjadi satu, dimana seorang ayah cinta pertama putrinya harus rela melepaskan untuk kebahagiaan sang putri.
Hawa memeluk dan mengucapkan banyak permintaan maaf dan terima kasih, kedua orang tuanya yang begitu dia cintai dan sayangi kini akan dia tinggalkan. Sejatinya seorang anak perempuan akan meninggalkan rumah jika sudah bertemu dengan jodohnya. Dan sebagai anak perempuan satu-satunya di antara 2 saudara laki-laki Hawa begitu merasakan kesedihan yang sangat mendalam.
"Bang, besok kalau mau nikah cari saudara yang banyak ceweknya." Ucap Daniel yang dirangkul bahunya oleh Arfin.
"Memangnya kenapa?" Tanya Arfin yang tidak mengerti dengan ucapan Daniel.
"Biar ngak drama kayak kak Awa itu."
__ADS_1
Jawaban Daniel membuat Arfin tepuk jidat, "Kamu terlalu jauh berpikir Niel." Arfin mengusap kepala Daniel gemas.
"Ish, kak kamu membuat rambutku berantakan." Kesal Daniel yang merasa ketampanannya berkurang.
Acara berlangsung dengan penuh keharuan, semua ikut merasakan keharuan yang tercipta, meksipun ada tangis kebahagiaan tapi semua tetap bersyukur untuk acara hari ini yang berjalan lancar.
"Apa besok jika anak kita menikah, kamu akan seperti Nathan?" Tanya Olive yang sudah menetralkan wajahnya dari haru-biru yang tercipta.
"Ck, kamu tidak lihat disana." Ando menunjuk ke arah meja yang terdapat 4 anak laki-laki. "Hanya ada Arfin dan Arfan, tidak ada Arfah, jadi aku tidak mungkin akan menjadi Nathan." Lanjutkan sambil merangkul bahu Olive.
Olive mencebik. "Makanya tambah satu lagi biar Arfah." Ucap Olive sambil mengusap dada Ando lembut.
Ando mengehela napas. "Tidak akan, karena aku sudah cukup trauma disaat kamu melahirkan Arfan, aku tidak mau gila karena keadaanmu itu."
Olive sudah tidak bisa lagi berkata, dirinya memilih untuk diam, jika suaminya sudah mengingatkan hal yang mungkin sangat mengerikan untuk Ando.
Sedangkan Mario tidak bisa membiarkan jantungnya berdetak normal, pria itu selalu dibuat berdebar dengan apa yang ditunjukan oleh Hawa.
Acara sudah selesai setelah makan malam bersama keluarga, kini semua sudah kembali ketempat istrirahat masing-masing.
"Om, tidak mau mandi?" Tanya Hawa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Mario menoleh kearah Hawa yang berjalan mendekatinya.
"Sudah malam, tidak mau mandi." Ulang Hawa sambil berdiri di depan Mario.
Mario menatap penampilan Hawa dari atas sampai bawah. Setelan baju tidur tangan pendek dan celana pendek yang Hawa pakai bercorak Doraemon, Mario terseyum melihat Hawa yang begitu imut di matanya.
"Kemarilah." Tangan Mario terulur untuk menyuruh Hawa mendekat padanya.
Hawa pun menurut dan duduk di atas pangkuan Mario, tangan Mario melingkar di pinggang Hawa.
"Aku suamimu, bukan Om-mu." Ucap Mario dengan menatap wajah Hawa begitu dekat.
__ADS_1
"Em, terus aku harus panggil apa?" tanya Hawa dengan wajah yang menggemaskan bagi Mario.
"Terserah, yang jelas tidak ada panggilan Om lagi."
Hawa tampak berpikir dengan apa yang Mario katakan, dan hanya satu kata yang terlintas di otaknya.
"Hubby." Ucap Hawa spontan, kerena ingat panggilan Mama nya untuk Nathan.
"Kamu pasti-"
"Mama, aku ingin seperti Mama yang begitu mencintai papa, dan aku ingin memanggil Om dengan sebutan Hubby." Hawa tersenyum saat mengatakan itu.
Mario ikut tersenyum. "Apapun, asalkan hatimu selalu mencintaiku."
Hawa tentu saja senang mendengar ucapan Mario, "Hm, mungkin aku belum bisa menjadi istri seutuhnya, tapi aku akan berusaha manjadi istri yang Hubby inginkan. Ajari aku untuk menjadi yang terbaik, ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan."
Ucapan Hawa membuat Mario terharu, dirinya tidak menyangka jika wanita kecilnya memiliki pemikiran seperti ini.
"Hm, apapun itu. asalkan kau selalu ada di sampingku."
Mario menyatakan bibir keduanya, begitu nikmat apa yang mereka lakukan, Mario tidak menyangka akan secepat ini memiliki sang pujaan hati.
Cintanya sejak 13 tahun lamanya kini terbalas, terbalas dalam ikatan sakral yang mengikat keduanya untuk hidup bersama. Kebahagian kini menanti mereka dan semua yang mereka harapkan insyaallah akan menjadi kenyataan.
...****TAMAT**** ...
Akhirnya sampai di penghujung, setelah melewati perjalanan bab yang panjang 😅 terima kasih untuk semua reader yang setia membaca karya author receh ini. Beribu-ribu ucapan terima kasih author berikan untuk kalian semua yang sudah memberikan hadiah bunga, kopi, dan vote, maupun dukungan Like, dan Komen. author sangat berterima kasih, tanpa kalian author bukanlah apa-apa.😭 Selamat tinggal My Husband Om-Om kamu memeberikan author begitu banyak kebahagiaan 😭😭 sebenarnya aku tidak rela meninggalkan mu, tapi memang ada akhiran dari sebuah awalan. Dan terima kasih Karena kamu termasuk kandidat JUARA HARAPAN YAAW SEASON 7. Dan semua juga berkat kalian para READER yang membuat karya ini sampai mendapatkan penghargaan 😭😭. Author tidak bisa berkata-kata lagi selain ucapan TERIMA KASIH Banyak-banyak.🙏🙏🙏
Jangan lupa selalu mampir di karya author selanjutnya. KALIAN adalah semangat author 💪💪💪
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH KALIAN SEMUA 😘😘😘😘 SELAMAT' DATANG DI KARYA SELANJUTNYA DARI AUTHOR LAUTAN BIRU 🥰🥰🥰