My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Bertemu Zian.


__ADS_3

Setelah bel pulang sekolah Ami dan Olive berjalan keluar gerbang. Jika Olive sudah di jemput makan Ami masih menunggu mobil Nathan yang menjemput.


"Pak Husein tidak jemput?" Tanya Olive sebelum masuk mobil.


"Ayang misua yang jemput." Ami menyengir membuat Olive mencebik.


"Serah deh, yang punya ayang misua." Ledek Olive yang tersenyum, lalu pamit pulang lebih dulu.


Ami menunggu Nathan di halte sekolah, keadaan lumayan masih ramai dan membuatnya merasa was-was jika menunggu Nathan disini.


Ami mengambil ponselnya untuk menghubungi Nathan, agar tidak menjemputnya di sekolah.


"Ay.."


Ami yang ingin menguhungi Natha mengurungkan niatnya, setelah mendengar namanya di panggil.


Seorang pria yang baru saja turun dari motor besarnya. Penampilannya berbeda jauh ketika masih memakai seragam abu-abu. Meskipun tetap keren tapi Zian sekarang semakin tampan dan dewasa.


Ami yang melihat Zian hanya menghela napas, berbeda dengan siswi-siswi yang berada di sana begitu berisik mengagumi ketampanan Zian.


"Kak." Ami tersenyum tipis.


Zian berdiri di samping Ami yang jaraknya sedikit jauh, pria itu bingung dan kikuk ingin bicara apa.


"Apa kabar." Hanya itu yang lolos dari bibir Zian, karena melihat Ami yang sekarang lebih cantik, apalagi sepertinya Zian juga melihat jika tubuh Ami semakin berisi.


"Baik." Jawabnya singkat. Entah mengapa rasanya Ami ingin pergi agar bisa menghindar dari Zian.


"Ay, Gue_"


Tin..Tin..Tin..


Bunyi klakson beberapa kali, sampai membuat telinga Ami sakit. Siapa lagi jika pelakunya bukan Nathan.


"Maaf, kak aku pamit dulu." Ami buru-buru berlari kecil untuk menghampiri mobil suaminya yang berhenti dibelakang motor Zian.

__ADS_1


Para siswa/i yang mengenal Ami terbengong, melihat Ami masuk kedalam mobil mewah, dan menurut mereka tidak asing.


"Bukannya itu mobil pak Nathan." Ucap salah satu siswi yang mengenali mobil Nathan sangat baik.


"Wah gila, si Miami bisa naik mobil mewah milik kepala yayasan sekolah."


Kasak kusuk mereka sampai ditelinga Zian. Dan Zian mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan campur aduk.


Blam


Ami menutup pintu mobil dan langsung duduk di kursi samping kemudi.


"Kancing baju kamu." Ucap Nathan yang melihat kancing baju seragam Ami lepas dari tempatnya di bagian dada.


Ami menunduk dan membenarkan kembali.


"Sepertinya butuh seragam baru." Gumam Ami.


Nathan menjalankan mobilnya kembali, meninggalkan halte yang membuatnya merasa kesal karena pemandangan yang tidak mengenakkan.


Mai duduk dengan menatap lurus kedepan. Sesekali menoleh kesamping dan melihat wajah suaminya yang datar memebuat nyali Ami menciut.


Sejak di kantor Nathan selalu mencari dan membaca artikel tanda-tanda wanita hamil. Dan dirinya hanya menemukan 3 diantara gejala awal wanita hamil.


"By.." Ami berkata lirih.


Nathan pun menoleh. "Mau kemana hm." Tanya Nathan dengan kembali fokus kedepan.


Ami menatap lekat wajah suaminya. "Bukanya kamu mengajakku ke kantor?" Tanya Ami yang mengingat ucapan Nathan pagi tadi.


"Kebetulan masih ada waktu dua jam, sebelum membawamu ke kantor." Jawab Nathan datar.


Ami mengembangkan senyumnya. "Aku mau ke supermarket, banyak barang yang ingin aku beli." Ucap Ami dengan riang. Membuat Nathan mengangguk.


Seperti permintaan Istrinya Nathan membawa Ami ke supermarket yang dekat dengan kantornya.

__ADS_1


Ami lebih dulu keluar, dan dikuti Nathan. "Ayo.." Ami mengandeng lengan suaminya, tapi Nathan tidak bergerak.


"By, kenapa." Ami menoleh kebelakang.


Nathan mengehela napas, lalu melepas jasnya dan memakaikan pada Istrinya.


"Pakai ini, aku tidak mau benda favorit ku tercetak jelas di sini." Nathan meremas sedikit kelembutan Ami, memebuat gadis itu mendelik.


"Modus." Kesal Ami, dengan cemberut.


Nathan memakaikan jas kebesaran di tubuh istrinya.


"Halal, dan tidak ada modus di dalam pasangan suami-isteri." Jawab Nathan santai. Membuat Ami semakin kesal.


"Itu kamu buatan kamu sendiri." Ketus Ami, yang berjualan lebih dulu meninggalkan Nathan yang tersenyum.


"Ya, karena kamu mudah dimodusin." Gumam Nathan, lalu mengejar langkah istirnya yang sudah lebih dulu.


Nathan mendorong troli, sedangkan Ami berjalan di depannya untuk memilih barang-barang yang dia beli.


Penampilan Nathan yang begitu mencolok membuat kaum hawa melirik kearahnya. Kemeja putih dengan lengan digulung sampai suku, dua kancing terasa sengaja Ia lepas.


Penampilan Nathan sudah mencolok apalagi dengan membantu mendorong troli belanja sang Istri.


"Kok mau sih, wajah tampan rupawan begitu dorong troli belanjaan, kalau suamiku mah boro-boro." Ucap ibu-ibu yang mengagumi wajah Nathan serta perangainya.


Jangankan ibu-ibu para wanita yang berada di sana sejak tadi sudah seperti fans ketemu idola.


Nathan sadar akan dirinya yang menjadi pusat perhatian, tapi melihat Ami yang masih biasa saja membut Nathan cuek.


Ami berhenti didepan rak yang berjejerkan pembalut wanita.


"Sepertinya aku sudah lama tidak belanja ini." Gumamnya lirih, dan Ami ingat jika persediaan diaparteman pun masih.


"Kenapa?" Tanya Nathan yang melihat istrinya hanya diam, menatap deretan benda berharga bagi wanita.

__ADS_1


"Tidak, hanya saja_" Ami menatap wajah suaminya.


"Apa benar aku hamil." Batinya.


__ADS_2