My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Ando yang frustasi


__ADS_3

"Sayang bagaimana menurut kamu?" Tanya bunda Raya pada Ami yang masih diam dengan aktifitas makanya.


Bunda Raya bercerita tentang Mustafa yang melamarnya, kemarin. Dan bunda Raya wajib meminta pendapat sang putri untuk itu.


"Sayang." Nathan menyentuh tangan Ami agar mau menjawab.


Ami mendongak menatap bundanya yang menunggu jawaban darinya.


"Jika kamu keberatan bunda akan meno_"


"No, tidak boleh." Ucap Ami dengan cepat.


"Ck, pelankan suaramu." Ucap Nathan yang geleng kepala.


"Bunda tidak boleh menolak om Mustafa, Ami merestui bunda." Ami melebarkan senyumnya.


Wajah bunda Raya yang tadinya sendu, kini bisa terlihat lega, dan tersenyum pada putrinya.


"Terima kasih sayang." Bunda Raya memeluk dan mencium Ami.

__ADS_1


"Ami tidak akan menghalangi kebahagiaan bunda, karena jika bunda bahagia Ami juga bahagia." Ami terseyum manis, membuat bunda Raya terharu.


Nathan pun ikut tersenyum, ternayata dirinya akan memiliki papa mertua baru.


.


.


"Liv, tunggu dulu." Ando mencekal tangan Olive ketika gadis itu ingin masuk kedalam taksi.


"Lepas..!" Olive menyentak tangan Ando yang mencekal nya.


"Dengerin gue dulu, lu jangan marah-marah kayak anak kecil." Ucap Ando yang sudah kesal. "Lu bukan siapa-siapa gue jadi lu gak berhak marah-marah sama partner gue." ucap Ando dengan tegas. "lagian lu itu masih sekolah dan lu_" Ando mejeda ucapanya, dan melirik tubuh Ami dari atas sampai bawah. "Lu taulah selera pria kayak gue gimana." Ando terkekeh remeh, membuat Olive mengepakkan kedua tangannya kuat, dengan tatapan mata yang penuh rasa kecewa mendengar ucapan Ando yang terakhir membuat hatinya terluka.


Jederr


Hujan deras disertai petir menguyur kota dengan derasnya, seorang gadis dengan kelebihan daging pada tubuhnya sedang berolah raga keras didalam kamar.


Olive melakukan jonging didalam kamar sudah hampir satu jam, gadis itu terus bekerja keras untuk menurunkan berat badannya, meskipun karena rasa sakit hati yang Ando torehkan kini Olive semakin bersemangat untuk menurunkan berat badannya.

__ADS_1


Dia akan tunjukan jika dirinya mampu menjadi seperti wanita yang Ando inginkan meskipun dia melakukan itu bukan untuk pria yang sudah menyakiti hatinya.


"Hah, OMG lelah banget." Oliver mengusap keringat yang mengalir dikening dan pelipisnya gadis itu sudah sangat kelelahan.


Usahanya memang membuahkan hasil, setelah satu Minggu Ando mengejek fisiknya, kini berat badan Olive sudah bisa turun lima kilo.


"Jangan harap bisa menghina fisik aku lagi." Ucap Olive dengan meremas handuk kecil yang dia pengan.


"Ol, badan lu kurusan." Ami memutar-mutar tubuh Olive, dan menatap takjub melihat perubahan di tubuh sahabatnya.


"Ck, bikin malu kamu Mi." Kesal Olive yang dilihat beberapa siswa karena suara Ami yang keras.


"Woih, lu hebat Ol." Ami terseyum senang melihat perubahan dalam diri Olive. "Dan ku harus tunjukkin sama kadal darat itu, kalau lu bukan gembul sembarangan." Ucap Ami dengan semangat. Dirinya ingat waktu Olive bercerita jika Ando menghina fisiknya, padahal Olive percaya pada pria kadal darat itu jika dia orang baik.


Tapi kepercayaan itu kini sudah hilang, meskipun Ando adalah pria pertama yang menjamahnya, tapi Olive masih bisa melindungi barang berharga dalam tubuhnya.


"Sh*it, kenapa lu gak mau bangun Jon." Ando mengusap rambutnya kasar, frustasi dengan keadaan yang dia alami baru ini.


"Dih, badan aja gagah, burungnya kok lepek." Ledek wanita yang baru saja merapikan penampilannya setelah di serang Ando, dan pria itu menatap tajam wanita yang dia panggil itu.

__ADS_1


"Jangan-jangan kamu dapat kutukan Ndo."


Deg


__ADS_2