
Sampainya dirumah bibir Hawa tidak pernah luntur mengembangkan senyum, gadis itu seperti kesambet setan senyum.
Meskipun belum pernah merasakan jatuh cinta, tapi Hawa bisa membedakan peradangan yang biasa saja maupun perasaan yang mendebarkan. Dan Hawa merasakan kenyamanan sekaligus desiran dalam hatinya kian terasa saat Mario terus menerus membuat hatinya berbunga-bunga.
"Lika kamu dari mana?"
Suara pria yang menyambutnya membuat senyum Hawa luntur seketika.
Hawa menatap Mike yang berdiri diruang tamu, ditemani Mama dan papanya.
Saat Hawa pergi memang masih sore, dan kini Hawa pulang dijam delapan malam, jelas saja membuat orang dirumah menanyakan kemana dirinya pergi.
"Aku_" Hawa mengerakkan matanya gelisah, tidak pandai berbohong membuatnya terkadang merasa bodoh, karena merasa terancam seperti sekarang.
"Sayang, apa Sasa tidak ikut masuk? Mama sudah mengatakan sama nak Mike kalau kamu sendang berada dirumah Sasa, tapi sepertinya nak Mike tidak percaya." Ucap Ami menatap putrinya dengan mengedipkan matanya sebelah.
Hawa menatap Mamanya dengan beberapa kali mengerjap. "Em, Sasa langsung pulang Mah, katanya mau kesupermarket." Jawab Hawa pada akhirnya, mamanya memang selalu menjadi dewa penolongnya, disaat dirinya merasa terancam seperti sekarang.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku, padahal aku mengirim pesan dan menelponmu tapi tidak ada balasan." Ucap Mike menatap wajah Hawa dan menelisik.
__ADS_1
Hawa yang ditatap Mike seperti itu menjadi takut. "Maaf kak, ponselku mati." Hawa menunjukan ponselnya yang memang mati. Tapi, mati karena Mario sengaja mematikannya, dan Hawa menurut saja. Kata Mario biar tidak ada yang mengganggu waktu berdua mereka.
Mike menghela napas. "Yasudah, lain kali jangan bikin aku panik." Mike menatap Hawa.
"Iya kak, maaf." Cicit Hawa tersenyum tipis.
"Aku sudah meminta ijin sama Om dan Tante, untuk besok siang kita pergi ke puncak." Ucap Mike dengan tersenyum.
Hawa menatap kedua orang tuanya, dan mereka hanya mengaguk saja.
"Baiklah, sepertinya papa memberi ijin." Ucap Hawa dengan pasrah.
"Hey, kenapa kamu seperti tidak senang begitu." Mike menghampiri Hawa yang masih berdiri.
"Aku, tidak." Hawa Terseyum. "Apa kak Mike sudah menyiapkan kepeluanya." Tanya Hawa untuk mengalihkan pertanyaan Mike.
Sejujurnya Hawa memang tidak senang, tapi mau bagaimana lagi, Mike adalah tunanganya, dan berharap statusnya tidak akan bertahan lama, karena hatinya sepetinya sudah memilih yang lain.
Putus hubungan dengan Mike bisa saja, hanya saja Hawa tidak yakin akan bisa berhadapan dengan Vania Mama Mike.
__ADS_1
"Belum, besok sebelum berangkat aku akan menjemputmu untuk mengurus barang yang akan aku bawa." Mike merangkul pinggang Hawa.
Bukanya senang diperlakukan seperti itu oleh Mike, Hawa malah seperti risih.
"Baiklah, aku akan bantu." Hawa sedikit melonggarkan rangkulan tangan Mike. Dan menarik tangan Mike untuk diajak duduk.
Mike menurut, dirinya tidak curiga jika Hawa tidak merasa nyaman ketika mendapat perlakuan itu darinya.
"Pasti Mama akan senang jika besok kamu mau datang."
Hawa Terseyum, tipis. "Aku juga sudah lama tidak bertemu Mama Vania."
Hawa memang sudah lama tidak datang kerumah Mike, karena memang Mike yang lebih suka memberi alasan pada Vania jika tidak mau bertemu dengan Hawa.
Mike menatap lekat wajah cantik Hawa, Mike memang sadar memiliki perasaan pada Hawa, tapi terkadang rasa itu tertutup dengan keegoisannya yang mementingkan lainnya ketimbang meluangkan waktu dengan tunangannya.
Hawa yang ditatap Mike lekat, menjadi gugup. Dia tidak ingin Mike menciumnya.
"Kak..." Cicit Hawa dengan wajah panik.
__ADS_1
Mike semakin mendekatkan wajahnya, menatap bibir tipis Hawa membuat Mike ingin mencicipinya.
"Awa ada kecoak nakal didepanmu..!!"