My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Hawa


__ADS_3

Mobil Nathan sampai di halaman rumah Julio, sang tuan rumah sudah menunggu diteras untuk menyambut kedatangan tamu yang spesial untuk mereka.


"Nathan apa kabar?" Julio langsung merangkul Nathan ketika keduanya sudah saling berhadapan.


"Baik, kami semua baik." Jawab Nathan menerima rangkulan temanya itu.


"Mbak apa kabar?" Ami dan Vania berpelukan sambil cium pipi, dan Ami menanyakan kabar Vania juga.


"Baik Mio, sangat baik." Vania terseyum bahagia.


Julio mengajak keluarga Nathan untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Kenalkan dia Mario." Mario yang baru saja menuruni tangga tidak sengaja berpapasan.


Mario tersenyum dan mengulurkan tangannya pada kedua orang tua didepanya.


"Anakmu sudah dewasa dan tampan Jul." Ucap Nathan menepuk punggung Mario.


Julio tertawa, "Dia besar di Swiss, kalau tidak tampan disana nanti tidak laku."


Mereka semua tertawa, kecuali Mario yang hanya tersenyum samar, matanya menatap Adam yang sejak tadi menatapnya.


"Loh, di calon mantu?" Tanya Vania saat menyadari tidak ada Hawa sejak tadi. Karena terlalu bahagia, Vania sampai lupa bertanya.


"Em, Malika tidak enak badan. Jadi tidak bisa ikut kemarin." Jawab Ami jujur.


Sebelum berangkat Hawa mengeluh kepalanya sakit dan suhu badannya panas, jadi gadis kecil itu tidak ikut orang tuannya makan malam.


"Ya, ampun! kenapa kamu tidak bilang, jadi kita bisa kesana." Ucap Vania merasa cemas.

__ADS_1


"Tidak apa mbak, tadi sudah mendingan hanya saja dia butuh istirahat."


Vania mengajak semuanya duduk di meja makan, dan Vania menunjukan makanan kesukaan anak-anak Ami Adam dan Daniel.


"Waahh makasih Tante, Tante emang the best."


Cup


Daniel mencium pipi Vania saat wanita itu berdiri disampingnya saat mengambilkan makanan.


"Sama-sama Sayang." Vania mengusap kepala Daniel. "Adam ini kesukaan Adam." Ucap Vania pada putra pertama pasangan Ami dan Nathan.


"Terima kasih." Jawab Adam sambil meraih makanan yang diberikan.


"Lihatlah kedua putramu, Adam dominan seperti kamu, sedangkan Daniel sama-sama memiliki keturunan kita berdua," Bisik Ami pada suaminya.


Nathan hanya terkekeh.


"Mau kemana Mario?" Tanya Vania.


"Tidak apa-apa mbak, Mario masih muda pasti tidak betah mendengar obrolan kita para orang tua." Ucap Ami.


Vania hanya menghela napas.


Mario berdiri sambil bersandar di body mobilnya, pria itu menatap supermarket kemarin malam yang dia datangi.


Entah kenapa dirinya berada disini sekarang.


"Ck, mana mungkin dia datang lagi ke sini." Gumam Mario yang merasa frustrasi, besok pagi dirinya sudah harus kembali ke Swiss, butuh waktu lama lagi untuk pulang ke Indonesia, dan berharap dirinya bisa kembali bertemu dengan Hawa malam ini.

__ADS_1


Satu jam, dua jam. Mario menunggu tanpa kepastian karena memang dirinya menunggu seseorang yang entah di mana.


Pluk


Kakinya menginjak Putung rokok yang sudah kesekian kali dia mengisapnya, Mario menghela napas.


"Mungkin belum sekarang." Ucapnya pada diri sendiri, karena nyatanya sudah dua jam dirinya menunggu tidak ada hasil.


Jam sembilan, Mario terkekeh, ini terlalu malam untuk ukuran gadis kecil keluar rumah.


Blam


Mario masuk kedalam mobilnya, pria itu menyandarkan kepalanya di jok mobil.


"Hawa.." Gumam Mario dengan pelan, dan mata terpejam.


Membayangkan wajah Hawa saat usia pertama kali mereka bertemu, dan terakhir malam mereka juga bertemu, meskipun disini Mario yang mungkin hanya mengingatnya tapi pengaruh Hawa besar pada dirinya.


"Pak, tunggu saja disini Awa tidak akan lama."


Mario membuka matanya saat mendengar suara yang familiar dia dengar. Karena kaca mobilnya dia buka, jadi sangat jelas jika ada yang bicara.


Menoleh kesamping, bibir Mario langsung mengembang sempurna.


"Hawa."


Perasaan membuncah tiba-tiba menyeruaknya dalam dirinya, Mario seperti bertemu kekasih yang pergi lama.


.

__ADS_1


Hawa waktu usia 6tahun🤭



__ADS_2