
Hari ini Ami tiba-tiba ingin mengunjungi rumah bundanya, sudah satu bulan dirinya tidak bertemu dengan bunda Raya, dan itu membuatnya rindu.
Apalagi saat ini Ami sedang hamil cucu pertamanya, membuatnya kerap meminta sang bunda untuk membuatkan makanan. Meskipun bunda Raya juga sedang hamil lebih tua usia kandungannya dari Ami, tapi wanita itu sudah kembali ke habitatnya seiring berjalanya waktu usia kehamilannya. Bunda Raya sudah tidak lagi meminta yang aneh-aneh dan sensitif kepada sang suami, dan Mustafa kini sudah benar-benar terbebas dari ngidam meskipun sifat manja bunda Raya masih ada tapi itu hal wajar.
Ami yang sudah siap menggunakan dress berwarna putih untuk mempercantik penampilan ibu hamil yang perutnya membuncit dua kali lipat dari ibu hamil normal, meskipun hamil dan suka makan tubuh Ami tidak banyak berubah, hanya menambah sedikit tumbuhnya yang berisi dibagian lekuk tertentu.
.
"By, sudah belum." Ami membuka pintu kamar, dan melongo kedalam untuk melihat suaminya sedang melakukan apa.
Tidak ada siapapun, Ami masuk dan kembali memanggil Nathan. "By, kamu didalam." Ami memanggil didepan pintu kamar mandi.
"Iya sayang.." Suara teriakan Nathan dari dalam.
Ami memilih menunggu dan duduk di pinggiran ranjang.
Ceklek pintu kamar mandi terbuka.
Nathan dengan lemas berjalan menghampiri Ami yang duduk di ranjang, "By, kamu belum siap-siap." Ucap Ami yang melihat Nathan keluar dari dalam kamar mandi dengan baju yang masih sama.
"Engh, perut aku mules sayang." jawab Nathan lirih, dengan tubuh kembali Ia baringkan diatas ranjang.
"Kamu sakit?" Ami menyentuh kening Nathan dan suhunya normal.
"Gara-gara rujak kemarin, aku jadi diare." Keluh Nathan mengalahkan rujak yang dia beli saat pulang dari kantor.
Ami mengehela napas. "Itu kamu kebanyakan makan By, tiga porsi kamu habiskan dalam sekejap." Kesal Ami yang mengingat kemarin Nathan menghabiskan rujak yang dia beli, bahkan miliknya yang tidak habis Nathan embat juga.
__ADS_1
Nathan hanya diam dengan memejamkan mata, lengan kanannya berada diatas mata dan tangan kirinya mengusap perutnya yang terasa mulas.
"Aku kasih minyak by." Ami kembali duduk disamping Nathan berbaring, dia juga membawa obat pereda diare.
Nathan membantu Ami untuk menaikkan kaus yang dia pakai, memperlihatkan perut kotak-kotak miliknya yang keras.
"Emm." Nathan bergumam ketika tangan halus dan mungil istrinya mengusap lembut perutnya. Nathan benar-benar dibuat lemas akibat makan tak beraturan.
"Minum obatnya dulu By, dan istirahat lagi."
Nathan menerima obat yang Ami berikan, tubuhnya Ia tegakkan dengan siku tangannya sebagai penyangga.
"Tapi aku harus kekantor sayang," Ucap Nathan setelah menelan obat yang Ami berikan.
Ami menaruh gelas air minum di atas meja kecil dekat ranjang.
Nathan kembali merebahkan kepalanya di atas bantal, "Ando sedang cuti satu minggu sayang." Ucap Nathan menoleh pada istrinya. "Dan pekerjaan tidak ada yang menghandle." Tambahnya lagi dengan menatap lekat wajah sang Istri.
Tangannya terulur untuk mengelus purut Ami. "Maaf, kamu tidak bisa datang kerumah bunda." Ucap Nathan yang mengingat janjinya kemarin untuk mengantar Ami kerumah bundanya.
"Tidak apa, bisa besok lagi saat Hubby sudah sembuh." Ami terseyum, tangannya mengelus perut sixpack Nathan, agar bisa mengurangi rasa sakitnya.
.
.
"Bunda lagi apa?" Niko datang-datang langsung mengagetkan bundanya yang berdiri didepan kompor.
"Ya ampun Niko, kamu ngagetin bunda." Raya mengelus dadanya, dengan geleng kepala.
__ADS_1
"Maaf bunda, Niko tidak sengaja, baunya harus bunda masak apa?" Tanya Niko yang mencium harum masakan bundanya.
"Bunda lagi masak makanan kesukaan Ami, katanya sia mau datang kemari." Jawab Raya dengan terseyum.
Niko hanya mengaguk. Dia memang sudah jarang bertemu dengan adik tirinya itu, semenjak sahabatnya sudah pindah ke Surabaya.
"Kenapa? kamu mau mencobanya?" tanya bunda Raya, saat Niko tidak pergi dari area dapur.
"Boleh?" Tanya Niko dengan binar senang.
"Tentu saja, ini menu makan siang kita nanti." Bunda Raya mengambil mangkuk untuk mengambilkan sedikit untuk putra sambungnya itu.
"Niko ada kuliah siang Bun, jadi tidak bisa makan siang bareng." Ucap Niko memberi tahu.
"Oh, yaudah makan sekarang, kamu juga belum sarapan kan sejak pagi." bunda Raya menaruh mangkuk berisikan rawon daging kesukaan putrinya itu diatas meja, agar Niko bisa memakanya.
"Terima kasih bunda." Niko memeluk Raya sebentar, dan Raya mengusap kepala Niko pelan.
"Sama-sama." Raya tersenyum.
"Wah-wah ada apa ini main peluk-peluk." Mustafa baru saja masuk kedapur dari arah belakang, kemana lagi jika bukan dari lahan tambak ikannya di belakang rumah besar itu.
Pria itu langsung menghampiri Istrinya dan memeluk pinggang Raya.
"Ck, papa ganggu aja sih." Ucap Niko meledek papanya, Niko memang selalu bisa membuat Mustafa kesal.
"Memangnya kalian ngapain, kok aku ganggu?" Tanya Mustafa lagi, melirik putranya dan Istrinya.
"Ya, ganggu aja. Papa ngak nyadar kalau papa tuh bau Empang." Ucap Niko tanpa disaring, membuat Mustafa mendelik tajam, sedangkan Raya tersenyum.
__ADS_1