My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Bulan madu


__ADS_3

Setelah kejadian di belakang sekolah tadi, Ami nampak kikuk sama Olive, meskipun sudah memberi alasan nampaknya Olive tidak mudah percaya, apalagi tatapan Olive masih sama, seperti mencurigainya.


"Ol, udah sih jangan natap aku kayak gitu." Ujar Ami dengan menghela napas. Bukanya tidak ingin menceritakan apa yang terjadi pada hidupnya, tapi Ami benar-benar malu dengan apa yang sudah terjadi pada hidupnya.


Olive hanya diam, bukan hal mudah bagi Ami memiliki barang seharga puluhan juta, jika kemarin Ami memakai ponsel yang yang kak Zian kasih Olive tahu. Tapi sekarang sahabat yang duduk satu bangku dengannya memiliki benda yang mustahil untuk Ami beli.


"Sepetinya kamu banyak rahasia Mi." Lirih Olive menatap Ami sendu.


"Tapi aku ngerti, mungkin kamu belum bisa bercerita dan aku harap kita bisa saling terbuka satu sama lain." Lanjut Olive dengan senyum tipis. Ami yang mendengar menjadi lega, ternyata Olive mengerti apa yang dia rasakan.


"Maksih ya Ol, kamu memang sahabat terbaikku, maaf aku belum bisa cerita sekarang." Ami merangkul sahabatnya itu, dan Olive membalasnya.


Nanti Ami akan cerita tentang pernikahannya pada Olive, dan itu tidak sekarang karena dia juga masih ragu mau di bawa kemana pernikahannya. Mengingat perjanjian yang sudah mereka sepakati Ami tidak masalah, tapi semakin hari Nathan mulai bersikap beda, pria itu bisa perhatian dan kejam bersamaan.


Tadi malam Nathan membuatnya menangis meratapi ponselnya, dan tiba-tiba pagi dirinya diberi ponsel yang lebih mahal apalagi Ami juga memegang kartu debit yang di beri Nathan.


Sungguh selama ini Ami mulai berpikir apalah Nathan mulai berubah pikiran dan melupakan perjanjian itu, dan di sisi lain mana mungkin seorang Nathan pria egois melupakan hal yang menguntungkan dirinya, sungguh tidak akan mungkin terjadi.


Ami menatap gedung tinggi yang berada di depannya, gedung yang pernah dia singgahi hanya beberapa Minggu setelahnya dirinya dipecat gara-gara ketahuan.


Waktu Nathan nelepon menyuruh Ami untuk datang ke kantornya setelah pulang sekolah, dan Ami tidak tahu ada apa. Mau menolak Nathan selalu punya cara untuk membuatnya tetap menurut. Meskipun dengan terpaksa.

__ADS_1


Nathan sudah banyak membantunya, semenjak bunda Raya masuk rumah sakit Nathan yang membayar semua perawatan bunda Raya, termasuk uang yang sudah dikeluarkan oleh pak Teguh. Ami hanya ingin membalas kebaikan Nathan yang sudah menolongnya.


"Dek mau kemana?" Tanya wanita yang berdiri sebagai resepsionis.


"Mau ke ruangan Om_ Eh maksud saya pak Nathan." Jawab Ami yang lupa jika sedang di kantor, dan Nathan adalah pemilik perusahaan ini.


"Sudah membuat janji, karena semua yang mau bertemu dengan pak Nathan harus membuat janji lebih dulu." Resepsionis Wanita itu melirik penampilan Ami yang masih memakai seragam sekolah, dan hanya dibaluti sweater.


"Apa perlu membuat janji, maksudnya saya kesini kerena di suruh beliau." Ucap Ami yang merasa ribet, hanya untuk bertemu pria kejam itu.


"Maaf saya tidak bisa mengijinkan orang sembarangan masuk menemui bapak Nathan." Resepsionis itu terus saja menahan Ami untuk tidak boleh masuk.


"Baiklah, tapi jika pak Nathan marah, mbak yang tanggung akibatnya, hati-hati dia pria kejam yang suka menindas orang." Ancam Ami dengan wajah kesal menatap sinis resepsionis wanita itu.


Deg


Paru-paru Ami berhenti bernapas sejenak mendengar suara bariton yang terdengar dingin di telinganya, dan dia hafal betul suara itu.


"Siang pak?" resepsionis wanita itu menunduk hormat, melihat dua orang penting berdiri dibelakang Ami, sedangkan Ami memakamkan matanya.


Menghirup napas dalam sebelum berbalik Ami menyiapkan kekuatan mental.

__ADS_1


"Anda memangnya siapa lag_" Ucapanya terhenti ketika melihat satu pria yang sangat dia segani dan pria itu berdiri di samping Nathan. Ami menutup mulutnya rapat berganti dengan sebuah senyuman yang di paksakan.


"Papa." Cicit Ami pelan hanya bisa didengar Nathan dan Allan.


"Jadi dia pria kejam dan suka menindas." Tanya Allan dengan melirik Nathan yang sudah berwajah kesal.


"Heee.." Ami hanya tertawa kaku.


"Ck, dia yang lebih menyebalkan dan keras kepala." Gerutu Nathan yang tidak mau di jelek-jelekkan.


Ami mendelik menatap Nathan, enak saja dirinya disebut menyebalkan.


Allan hanya geleng kepala. "Mama Indira sudah menunggumu di butik nak, kata Nathan kamu tidak mau dijemput disekoah dan ingin kesini sendiri." Tutur Nathan langsung membuat Ami memincingkan mata pada Nathan yang hanya pasang wajah datar tanpa ekspresi.


Indira memang menyuruh Nathan untuk membawa Ami ke butik miliknya, karena mereka akan melakukan foto keluarga dan Indira sudah menyiapkan baju untuk anak-anaknya dan juga yang lain. Hanya Ami yang Indira belum tahu ukuran yang pas, maka dari itu Indira menyuruh Nathan untuk mengantarnya.


Mereka bertiga masuk mobil yang sama, meskipun banyak karyawan yang memperhatikan gadis berseragam SMA berjalan dengan dua orang petinggi perusahaan. Mereka merasa iri, apalagi para karyawan wanita.


"Nat, kapan kalian akan bulan madu, bukankah sebentar lagi Ami akan libur sekolah."


Uhuk...uhuk..

__ADS_1


Kedua orang yang duduk bersampingan itu saling pandang, setelah tersedak ludah mereka sendiri.


Bulan madu 😩


__ADS_2