My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Rencana Ami


__ADS_3

Acara berjalan lancar hati senang perut kenyang, begitulah kata pepatah atau kata author sendiri.


Keluarga pak Teguh pun pamit berserta Istrinya, Hesti tidak kalah senang karena akan menjadi ipar dengan Raya. Dan pak Teguh juga senang menjadi salah satu kerabat orang terpandang dan disegani di kota.


"Ray, besok aku kesini lagi untuk membicarakan pernikahan kita." Ucap Mustafa diteras rumah, Mustafa ingin pamit pulang.


"Iya Mas." Raya hanya tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah aku pulang dulu."


Raya kembali mengaguk, tapi sepertinya Mustafa terasa berat melangkah.


"Ada apa Mas." Tanya Raya yang merasa heran, karena Mustafa tak kunjung berjalan pergi ke mobilnya.


"Em, itu." Musthafa merasa malu dan juga tidak enak.


"Ada yang tertinggal?" Tanya Raya lagi.


"Tidak, hanya saja_"


"Kecupan di kening yang tertinggal bunda."


Suara belakang pintu membuat kedua orang itu menoleh dan disana ada Ami dan juga Niko yang sedang tertawa.


"Kalian menguping."


Niko dan Ami kompak menggeleng. "Tidak."


"Kalian tidak sopan menguping pembicaraan orang tua." Ucap Mustafa yang sebenarnya menahan malu mendengar kedua anaknya meledek.


"Bunda ayah, mau ijin cium kening boleh." Tanya Ami dengan mengedipkan mata lucu.


Musthafa terseyum, sedangkan Raya membulatkan kedua matanya.


"Ck, Papa Cemen." Niko menunjukan jari jempolnya, dan dibalik kebawah. Setelah itu Niko kabur masuk kedalam.


"Nak kurang ajar."


"Oke, ayah udah Ami wakili minta ijin, selanjutnya terserah bunda." Ami menutup mulutnya cekikikan, dan berlalu pergi.


"Mereka terlalu jail Mas." Ucap Raya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ya, dan apakah boleh." Mustafa menatap lekat wajah Raya yang juga menatapnya.


Raya mengangguk dengan tersenyum malu, wanita yang berusia tiga puluh delapan tahun itu merasa seperti anak gadis.


Mustafa tersenyum lebar, mendekatkan diri kecupan dalam dia sematkan dikening Raya.


"Ciieeeee... cieee." lagi-lagi suara anak lucnat itu kembali menggoda, membuat Mustafa buru-buru pergi dari hadapan mereka.


"Bye Ray." Mustafa melambaikan tangan sebelum masuk mobil.


"Hati-hati Mas." Raya membalas lambaian tangan Mustafa.


"Kalian ini, pada jahil." Raya melewati kedua putra dan putrinya diambang pintu dengan geleng kepala.


"Ndo, lu anter berkas di atas meja kantor gue kemari, gue dirumah bunda." Ucap Nathan pada Ando lewat sambungan telepone.


"...."


"Gue gak mau tau, titik."


"Gimana?" Tanya wanita cantik yang selalu membuat Nathan tidak bisa menolaknya.


"Sesuai permintaanmu sayang." Ucap Nathan menghela napas.


Cup


Ami mengecup pipi Nathan dan berlalu pergi dengan riang.


"Dikasih cium pipi aja hati gue seneng banget apalagi dikasih yang lain." Nathan geleng kepala dan mengikuti langkah Istrinya masuk kedalam.


Ehem


Ami berdehem ketika melihat Niko dan Olive saling tatap, apalagi tangan Niko menggenggam tangan Olive.


"Duduk berdua yang ketiga itu memang setan." Ami langsung menagmbil duduk ditengah-tengah keduanya, hingga mereka bergeser.


"Huh..hih..Lu emang setan nyet." Niko berasa ingin mejitak kepala Ami, karena sudah mengganggunya.


"Eh, berani lu sama bini gue." Nathan yang melihatnya tidak tinggal diam ketika Istrinya ingin di aniaya.


"Wleee.." Ami menjulurkan lidahnya meledek Niko, dirinya senang mendapat pembelaan.

__ADS_1


"Cih, beraninya main pawang." Ketus Niko yang duduk menyingkir.


Sedangkan Olive menghela napas, pasti yang Ami lihat tadi akan menjadi salah paham.


"Bilang aja Lo jones, jomblo ngenes." Ledek Ami dengan wajah tengilnya.


Niko yang kesal ingin maju, tapi tubuh tegap Nathan membuat nyalinya menciut.


Mereka berempat duduk di karpet lantai yang tadi digunakan untuk menjamu tamu bunda Raya, dan kini bunda Raya meninggalkan anak-anak muda diluar.


"Ol mau kemana?" Tanya Ami yang melihat sahabatnya berdiri.


"Mau bikin minuman dingin gerah aku." Ucap Olive dengan cengiran.


"Alah, bilang aja grogi." Ledek Ami yang mendapat plototan mata dari Olive.


"Sekalian Liv, bikinin kita kopi." Ucap Niko dengan senyum tanpanya, namun menyebabkan bagi Olive.


"Gue juga mau Ol, minum dingin." Ami yang bergelayut manja di bahu suaminya menampilkan gigi putihnya.


Tak lama suara mesin mobil terdengar berhenti didepan. Siapa lagi jika bukan Ando yang baru datang mengantarkan berkas yang Nathan minta.


"Kak, temani Olive gih, bantuin kek." Ucap Ami pada Niko yang asik berbalas pesan dengan gawainya.


Niko mendongak. "Kenapa gue, lu lah kan cewek." Ucap Niko cuek.


"Ck, lu berani nyuruh istri gue." Nathan menatap tajam Niko.


Niko menggaruk kepalanya. "Susahnya kalau ada pawang bucin disini." Niko pun beranjak dari duduknya dan mengantongi ponselnya berlalu kedapur.


"Nat lu kira-kira dong, ini berkas ngak penting tapi lu nyuruh gue malam-malam datang kesini." Ando duduk dan membanting map didepan Nathan.


"Gak penting buat Lo, tapi penting buat gue." Ucap Nathan menatap Istrinya yang tersenyum dengan penuh arti.


"Hahaha."


Terdengar suara tawa dari belakang dan Ando mengenali suara perempuan itu, Ando pun ingin beranjak dari duduknya, tapi belum sempat berdiri seseorang sudah muncul dari belakang.


"Kak sudah diam." Olive mengibaskan tangan Niko yang mencubit pipinya.


"Pipi kamu kayak bakpao, jadi gemas." Niko kambali mencubit.

__ADS_1


Ando menatapnya dengan kedua tangan mengepal, entah kenapa dirinya tidak suka melihat keduanya seperti itu.


__ADS_2