My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Jaga twins baik-baik


__ADS_3

"Sayang aku berangkat dulu." Ucap Nathan sambil mencium kening Ami yang berdiri disamping mobil Nathan.


"Hati-hati By." Ami terseyum, dan memberikan tas kerja Nathan.


"Hm." Nathan menatap wajah istrinya seperti melupakan sesuatu.


"Kenapa? ada yang tertinggal?" Tanya Ami dengan kening berkerut.


Nathan nampak maju satu langkah untuk lebih dekat dan mengikis jarak keduanya.


Cup


Kecupan lembut dibibir yang sedikit terbuka, Nathan memangutnya dengan lembut, menyesap rasa manis yang setiap kali dia menyentuh bibir tipis itu.


Engh


Ami mengatur napasnya yang sidikit memburu.


Nathan terseyum, dan mengusap sudut bibir Ami yang basah, "Semangat pagi, dan nutrisi pagi." Ucapnya dengan senyum lembar.


Ami memukul dada Nathan pelan, "Malu By, dilihat mang Diman." Ucap Ami yang melihat Diman sedang menyiram bunga di samping, meskipun pria paruh baya itu memunggunginya, tapi Ami tetap merasa malu.


"Bairkan saja, jika mereka yang melihat, pasti akan malu sendiri."


"By, kamu rese." Rengek Ami manja.


Nathan malah tertawa. "Ya salah siapa orang lagi kikuk-kikuk dilihat, kan jadi malu." Ucap Nathan lagi membuat Ami memukul lengan Nathan bertubi-tubi.


"Udah sana ah pergi, bikin orang kesel aja tau nggak." Ami mendorong tubuh Nathan untuk masuk kedalam mobil.


Nathan mau tidak mau masuk kedalam mobil dengan tawanya yang masih tersisa.


"Sayang.." Nathan mencekal tangan Ami ketika ingin bergeser dari pintu mobil.


"Hati-hati, jaga twins baik-baik." Ucap Nathan dengan senyum.

__ADS_1


Pria itu mencium perut Ami beberapa kali, dan mengelusnya lembut.


"Selalu By, aku akan menjaga buah hati kita." Jawab Ami terseyum, dan ikut mengelus perutnya.


Nathan kembali terseyum, kedua matanya menatap lekat wajah sang Istri, dan menyimpannya dalam memori ingatannya, menguncinya disana berharap tidak akan pernah menghilang.


"Daah By." Ami melambaikan tangannya, saat mobil Nathan mulai menjauh meninggalkan rumah.


Mai terseyum, dengan manis hingga mobil Nathan sampai tak terlihat.


"Sayang, kamu sedang apa?" tanya indira yang melihat Ami sejak tadi hanya berdiri diam di depan rumah.


Ami yang mendengar dipanggil menoleh kebelakang.


"Bukanya Nathan sudah berangkat sejak tadi." Tanya Indira dengan mendekati menantunya itu.


"Eh, iya mah." Ami terseyum.


"Yasudah ayo masuk, kita lihat kamar twins yang sudah selesai di bereskan." Ucap indira mengandeng lengan Ami untuk ikut masuk.


"Nah coba lihat." Indira memperlihatkan kamar twins yang sudah didesain sedemikian rupa, warna natural dan sofe adalah yang dipilih selain warna netral.


Karena sampai sekarang, mereka belum tahu jenis kelamin twins.


"Bagaimana?" Tanya Indira dengan senyum yang mengembang.


"Bagus mah, Ay suka." Jawab Ami jujur. Dia menyukai rancangan yang Mama mertuanya buat, Ami hanya menurut. Dirinya tahu jika Ia akan . melahirkan cucu pertama dari keluarga Adhitama, dan Ami mengerti keinginan mertuanya.


"Euum, terima kasih sayang, sudah memberi Mama kesempatan untuk menyiapkan semua keperluan twins." Ucap indira memeluk menantunya dari samping.


"Iya mah, sama-sama. Ay juga terima kasih sudah dilimpahkan kasih sayang." Ucap Ami dengan tulus.


"Kamu menggambarkan Mama saat muda sayang, hanya saja Mama anak yatim piatu." Ucap indira yang mengingat masa mudanya dulu.


Dimana dirinya yang harus berjuang membayar hutang saat ibunya sakit, hingga tidak bisa diselamatkan dan indira dipertemukan dengan Oma Lili, ibu dari Allanaro, nenek dari Nathan.

__ADS_1


Indira yang sedang mencari pekerjaan tidak disangka bertemu dengan orang baik, yang mau membantunya untuk dapat pekerja, hingga Indira rela menjadi pembantu di rumah Allan, dan berakhir keduanya saling memiliki rasa dan berakhir menikah.


"Em, so sweet Mah, Ay ingin rumah tangga Ay seperti Mama dan papa." Ucap Ami yang terenyuh dengan cerita sang Mama. "Ay, berharap bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak Ayana Mah."


"Mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian, anak-anak Mama." Indira mengusap kedua wajah Ami.


"Terima kasih Mah." Ami memeluk Indira dengan kasih. Dirinya begitu beruntung memiliki mertua yang baik dan sangat sayang dengan dirinya.


Ami terseyum ketika membayangkan masa tuanya bahagia dan diberi kesempatan untuk melihat menantu dan cucu-cucunya kelak.


"Kalian disini?"


Ami dan Indira mengurai pelukannya, ketika melihat Allan papa mertuanya tiba-tiba datang dengan wajah panik.


"Ada apa Pah?"


"Kenapa wajah Papa panik begitu?" Tanya Indira dengan menatap intens wajah suaminya.


"sejak tadi aku menghubungi kalian, tapi tidak ada satupun yang mengangkat panggilanku." Tutur Allan dengan sedikit tegas.


"Kami tidak membawa ponsel Pah, memangnya bada opa?" Cecar Indira yang merasa nada sesuatu yang suaminya sembunyikan.


"Tidak apa-apa, kalau begitu." Allan terseyum paksa, mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


"Pah, jangan bohongi mama?" Cecar Indira dengan mengintimidasi.


Ami hanya diam menyimak ucapan kedua mertuanya, dan entah mengapa tiba-tiba perasaanya menjadi tidak enak.


"Tidak apa-apa Mah." Jawab Allan masih menampilkan senyum dengan setenang mungkin.


"Abang..!" Tegas Indira membuat Allan menelan ludahnya kasar.


"Pah." Ami ikut bersuara, sejak tadi dirinya hanya diam, tapi perasaanya tidak baik-baik saja.


Apa yang ditutup-tutupi oleh papa mertunya, Ami yang melihatnya semakin penasaran, apalagi sejak tadi perasanannya sudah tidak enak.

__ADS_1


__ADS_2