My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kamar mandi.


__ADS_3

Nathan mengikuti istri nya yang berjalan keluar kamar.


Di ruang tengah sudah disulap menjadi lesehan untuk makan bersama, Nathan bingung ingin duduk di mana karena Ami istrinya berada di antara bunda Raya dan Olive, sedangkan Mustafa bersampingan dengan Husein.


"Tuan sebelah sini." Husein sedikit bergeser duduknya, untuk memberi tempat pada bosnya disebelah Mustafa.


"Nak, layani suamimu makan." Ucap bunda Raya melirik putrinya.


Ami hanya mencebik.


Nathan menatap istrinya penuh harap, agar mau bergeser tempat.


Olive yang mengerti pun berdiri memilih mengeser duduk didekat pak Husein.


"Om, duduk disini." Ucap Olive yang sudah pindah.


Ami menatap Olive mendelik.


Bunda Raya hanya geleng kepala, tak lama Ando keluar dari pintu arah dapur.


"Bos." Ando pun menyengir ketika melihat Nathan yang baru akan duduk.


Nathan mendelik melihat asisten sekaligus sahabatnya itu. 'Ternyata dia biang keladinya.'


"Eh, tadi mau nganter berkas yang ketinggalan, jadi gass kesini." Ando yang melihat tatapan tajam Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


'Mampus gue.'


"Mau makan pake apa?" Tanya Ami dalam mode judes.


Nathan mengalihkan pandangannya pada sang istri. "Yang kamu masak tadi, selain itu tidak usah." Jawabnya yang tidak lepas menatap sang Istri.


"Ehem." Ami yang di tatap intens Nathan berdehem untuk mengurangi rasa gugupnya, meskipun sering tapi jantungnya masih tidak aman jika ditatap seperti itu.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian, Nathan sepertinya tidak peduli dengan keadaan sekitar.


Nathan memang tidak punya malu🤧.


Makan malam dengan keadaan sederhana dan menu sederhana mampu membuat suasana hangat di rumah Ami.


Meskipun Mustofa baru di bagian keluarga itu, tapi dirinya merasa senang bisa mengenal kelaurga Raya.


Ando dan Olive yang baru bertemu malah seperti anjing dan kucing berebut makanan.

__ADS_1


Bunda Raya yang melihat itu hanya tersenyum, tanpa tahu jika sejak tadi Mustafa selalu memperhatikannya.


.


.


Setelah makan malam, Nathan pamit lebih dulu untuk membawa istrinya pulang ke apartemen, setelah tamu bunda Raya pergi. Dia tidak perduli dengan Ando yang sudah membuat istrinya merajuk.


Sedangkan Olive diantar oleh supir, Ami yang menyuruhnya.


"Sayang." Panggil Nathan ketika Istrinya hanya diam saja sejak tadi, keduanya berada didalam mobil menuju apartemen.


Ami hanya menoleh dan kambali menatap lurus kedepan.


"Jangan cemberut." Tangan Nathan mengusap pipi Ami, "Boleh ikut asal mendapat ijin dari sekolah." Lanjut Nathan membuat Ami langsung menoleh.


"Hubby tinggal hubungi kepsek, dan tinggal bilang aku ijin, pasti dikasih." Ucap Ami dengan senyum senang. Dirinya yakin jika suaminya yang meminta ijin pasti tidak akan ada penolakan.


"Jangan memanfaatkan seseorang demi kepentingan sendiri sayang, meskipun aku memiliki wewenang disana. Tapi jangan menyalahgunakannya." Ucap Nathan pelan, sebisa mungkin tidak menyinggung Istrinya.


Ami menghela napas, "Oke." Jawabnya singkat dan padat, membuat Nathan gemas sendiri.


Nathan semakin mempercepat laju mobilnya, agar cepat sampai Diaparteman.


Mau bagaimana lagi, dia tidak ingin Istrinya mejadi orang yang memanfaatkan keadaan, dan Nathan ingin istrinya menjadi dewasa dalam bersikap dan berfikir. Menyembunyikan pernikahannya juga agar Ami tidak diperdaya dan dimanfaatkan oleh orang, karena gadis itu belum tahu kerasnya dunia luar. Didepan kita baik belum tentu debelakang kita baik.


Dua puluh menit mobil Nathan sampai diparkiran apartemen. Dia melihat Istrinya yang tertidur, entah benar-benar tidur apa bohongan Nathan hanya mencoba untuk bersabar menghadapi sifat Istrinya.


"Sayang, kita sudah sampai." Jemari Nathan mengelus pipi mulus Ami, gadis itu langsung merespon dan membuka matanya.


Ami menatap ke sekeliling lalu turun dari dalam mobil.


Nathan kambali menghela napas, mengusap wajahnya kasar. "Nasib punya bocil yang bisa diajak bikin bocil." Gumamnya yang melihat Ami sudah lebih dulu berjalan.


Segera Nathan keluar dari dalam mobil dan mengejar Istrinya yang sudah lebih dulu berjalan jauh.


"Sayang hey." Nathan mencegah pintu lift yang akan tertutup menggunakan kakinya, agar dirinya bisa masuk. "Kenapa tidak menungguku." Ucapnya kesal.


"Oh, aku kira masih di dalam mobil." Jawab Ami cuek, entah mengapa dirinya begitu kesal dan dongkol mendengar perkataan Nathan tadi.


Apakah suaminya itu tidak tahu jika dirinya benar-benar ingin ikut bersamanya, apa memang Nathan yang tidak mau dia ikut dan melakukan sesuatu diluar sana. Entahlah memikirkan itu membuat Ami merasa sesak sendiri.


"Ck, kamu memang selalu seperti itu." Ketus Nathan dengan datar.

__ADS_1


Ami hanya diam dan tidak menjawab lagi, jika menjawab pasti dirinya semakin sakit hati mendengar jawaban pedas Nathan.


Ting


Pintu lift terbuka, Nathan lebih dulu keluar dan menarik tangan Istrinya.


Menekan kode password, Nathan masuk lebih dulu dan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Ami hanya menatap punggung tegap yang semakin menjauh, perasaan tiba-tiba berkecamuk. Hanya karena Nathan ingin pergi keluar kota dirinya seperti tak rela.


Ami ikut masuk kedalam kamar dan dirinya hanya melihat pakaian yang tadi Nathan kenakan berserakan di lantai.


Nathan memang suka menaruh pakaian kotornya sembarang.


Ami menatap pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat, dan mendengar suara gemericik air yang mengalir.


Bibirnya menyunggingkan senyum ketika menemukan ide.


Perlahan dirinya melepas pakaian yang dia kenakan dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Langkah kakinya berjalan pelan masuk ke kamar mandi dan dirinya bisa melihat suaminya yang berdiri dibawah guyuran air shower dengan tubuh yang membelakanginya.


Degan jantung berdebar dan langkah kakinya yang pelan, Ami merasa malu dan juga ingin ketawa pada dirinya sendiri yang nekat menghampiri pria mesum seperti Nathan.


"Engh.." Nathan merasakan jantungnya berdebar merasakan tangan kecil memeluknya dari belakang dan ketika menunduk dirinya melihat tangan Istrinya.


"Kenapa kesini, aku belum selesai." Ucap Nathan dengan memejamkan matanya, merasakan air yang mengalir membasahi wajahnya dan sentuhan lembut tangan Ami yang mengelus dadanya naik turun sampai ke perut bawah.


"Apa aku tidak boleh mandi bersama." Ucap Ami yang menempelkan pipinya di punggung Nathan yang terbuka.


"Ssh, sayang." Tangan Nathan mencegah tangan kecil Ami yang akan menyentuh miliknya yang sudah setengah menegang. "Jangan diteruskan jika tidak ingin aku makan." Ucap Nathan dengan kepala menoleh ke samping , dan dia bisa melihat jika istri kecilnya tersenyum.


"Em, kenapa tidak mau." Balas Ami mendongak hingga tatapan mereka bertemu. Tubuh keduanya sudah basah oleh air.


Nathan membalikkan tubuhnya dan memeluk pinggang ramping Ami, membuat gadis itu merapat ke tubuhnya, dan dada Ami menyembul akibat bersentuhan dengan dada Nathan.


"Kamu nakal sayang, aku tidak akan berhenti untuk malam ini."


"Emph.."


Nathan langsung melahap bibir tipis Ami dengan rakus. Kedua tangannya menangkup wajah Ami, membuat gadis itu mendongak.


Keduanya saling memanggut dan menyesap rasa manis disetiap inci bibir keduanya, hingga sesuatu dalam tubuh mereka menggebu-gebu ingin melakukan hal lebih.


Sepertinya mereka mencoba suasana baru didalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2