
"Janin istri anda tidak bisa kami selamatkan, Kehamilan pada usia muda atau remaja sangat berisiko dan rentan pada pendarahan karena rahim yang dibuahi belum cukup matang untuk reproduksi, dan beruntung Istri anda masih bertahan disaat nyawanya dipertaruhkan, dan saya harap untuk kedepannya lebih baik anda menunda dulu untuk memiliki momongan karena rahim Istri anda termasuk lemah."
Kata-kata itu yang terus terbayang di pikiran Nathan, ucapan sang dokter setelah selesai melakukan operasi pada istrinya. Kini Nathan hanya bisa berdoa dan mengucap syukur, karena Tuhan masih melindungi Istrinya.
Meskipun kehilangan calon bayinya yang begitu dia inginkan, lantas tidak membuat Nathan merasa kehilangan. Dirinya merasa terpukul dengan musibah yang menimpanya, hatinya juga hancur ketika disaat kita mengharapkan sesuatu yang berharga dan ternayata takdir berkata lain.
"Nak, kamu makan dulu gih." Indira menyentuh pundak putranya, sejak di bawa kerumah sakit Nathan sama sekali belum mengisi perutnya, dan sekarang mereka sedang berada di ruang inap VVIP.
Nathan hanya menggeleng, sejak Ami dipindahkan di ruang rawat pria itu tidak beranjak dari duduknya di samping ranjang Ami, dan tangannya selalu menggenggam tangan Ami yang matanya terpejam.
"Ini sudah malam Nak, kamu harus makan." Ucap Indira lagi, namun hanya mendapat gelengan kepala lagi dari Nathan.
"Sudah Mah, jangan dipaksa kalau tidak mau." Ucap Allanaro pada instrinya.
Indira hanya menatap sedih putranya, dirinya teringat disaat dulu berada diposisi seperti ini.
"Bang, kenapa anak kita merasakan hal yang sama seperti kita dulu." Ucap Indira pada suaminya.
Kedua orang tua itu berdiri sedikit jauh dari Nathan.
"Ya, dan aku tahu persis perasaan Nathan bagaimana." Icao Allanaro dengan merangkul bahu Istrinya.
Jam menunjukan pukul sembilan malam, Allan dan Indira sudah pamit pulang, karena memang Nathan hanya ingin berdua saja dengan istirnya, sedangkan bunda Raya yang juga ingin menunggu putrinya, diminta pulang oleh Nathan.
Mereka semua meninggalkan Nathan hanya sendiri bersama sang Istri.
"Sayang." Suara Nathan bergetar rasanya begitu sesak didada. Nathan ingin menumpahkan rasa sedihnya dengan sang Istri, mengutarakan perasaannya yang begitu hancur, jika didepan kelaurga Nathan masih bisa sedikit tegar, tapi sekarang dirinya benar-benar rapuh.
"Maaf, aku yang tidak bisa melindungimu." Bibirnya mengecup punggung tangan Ami, air matanya tak bisa dia tahan.
Dia tidak ingin egois lagi, diawal memang dirinya yang menginginkan Istrinya hamil di usia muda, karena memang dirinya sangat menginginkan memiliki anak.
Tapi lihatlah apa yang dia dapatkan sekarang, Istrinya berbaring di rumah sakit hampir saja kehilangan nyawanya. Ini adalah hari terberat untuknya, hari yang begitu meremukkan hatinya.
Menatap wajah pucat Istrinya yang masih memejamkan terasa begitu perih, lebih baik dirinya yang seperti ini jika bisa Nathan ingin mengatikan istrinya untuk berbaring di ranjang pesakitan.
__ADS_1
"Engh.." Leguhan kecil membuat Nathan tersadar.
"Sayang, kamu sadar." Bibirnya tertarik meskipun harinya hancur.
"B-byy.." Suara parau dengan bibir kering membuat Ami seperti tersiksa.
"Minum dulu sayang." Nathan membantu memberikan air minum di gelas, dibantu menggunakan sedotan.
Ami membuka mata, melihat ruangan yang asing dirinya sudah menebak ada dimana.
"Apa yang kamu rasakan." Tanya Nathan dengan mengelus rambutnya, tangan satunya menggenggam tangan istrinya.
Ami menggeleng, "Tidak, ada. Hanya sedikit perih diperut." Ucapnya tersenyum tipis.
Nathan mengelus perut rata Ami dari balik bajunya.
"Tidak apa, nanti juga hilang." Hibur Nathan dengan tersenyum.
Merasa lega ketika bisa melihat Istrinya kembali tersenyum, meskipun hanya sedikit.
"By, aku lapar." Ucap Ami dengan wajah memelas, entah mengapa dirinya merasa lapar.
"Hu-um." Ami mengaguk dengan ekspresi lucu, membuat Nathan menarik sudut bibirnya tertawa.
Ami ikut tersenyum, melihat suaminya tertawa hatinya menghangat, wajah Nathan yang lelah serta gurat kesedihan diwajahnya membuat Ami yakin jika terjadi sesuatu padanya. Karena tidak ingin membuat suaminya terus bersedih Ami mencoba untuk membuat bibir Nathan terseyum.
"Mau makan apa, kata dokter kamu masih harus makan yang lembut-lembut dulu."
Ami hanya diam nampak berfikir. "Lembut-lembut apa dong, padahal aku pengen makan bakso." Ucapnya dengan wajah cemberut.
"Ngaco kamu." Nathan menarik hidung kecil istirnya. "Jangan buat aku gila dengan permintaanmu." Keluhnya hanya untuk meledek.
"Ck, gila ya tinggal aku masukin rumah sakit jiwa, ogah punya suami ganteng tapi gila." Ketus Ami membuat kedua mata Nathan melebar.
"Kamu menyumpahi ku gila beneran hah." Nathan menatap Istrinya tidak percaya, dengan wajah dibuat serius.
__ADS_1
Ami tertawa pelan. "Ngak lah, nanti siapa yang bakalan marah-marah kalau kamu gila."
Nathan yang gemas mengecup bibir Ami cepat. "Ihh modus." Ami mengerucutkan bibirnya.
"Kamu nyebelin sekarang."
"Biarin, asal kamu bisa tersenyum. jelek tau liat kamu sedih." ucap Ami dengan tangan menyentuh pipi suaminya. "Jangan sedih, kita jalani dan hadapi bersama-sama." Bibir Ami terseyum, senyum manis yang membuat Nathan semakin merasa bersalah.
"Maaf sayang, aku tidak menjaga kalian." Nathan mengecup kening sang Istri.
"Kemarilah." Ami menepuk ranjang sebelahnya, dan sedikit bergeser agar Nathan bisa ikut duduk disampingnya.
"Dia hanya titipan dari Tuhan, dan mungkin Tuhan belum mempercayakan kita untuk memilikinya." Ami terseyum.
Nathan menaruh dagunya diatas kepala istrinya, dan Ami bersandar di bahu Nathan.
"Yakinlah, tuhan pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik."
Nathan hanya mengangguk, istrinya begitu tegar dan lihatlah dirinya yang rapuh.
"Hm, kamu benar." Kedua matanya sudah berkaca-kaca, sebisa mungkin tidak lagi menjatuhkan air mata didepan istrinya.
"Janji jangan sedih dan merasa bersalah." Ami mendongak menatap wajah suaminya. "Kita hadapi bersama, janji tidak akan buat Hubby marah-marah." Kalimat terakhir membuat Ami meringis memperlihatkan jejeran giginya yang rapi.
Nathan menahan tawa. "Kalau kamu ingkar, jangan harap bisa lepas dari hukuman kamu." Nathan menaikkan satu alisnya.
"Ihh atut." Ami berekspresi wajah ketakutan membuat Nathan menciuminya wajahnya tanpa terkecuali.
"Ampun By, sudah. hah_ Auwss." Tiba-tiba perutnya terasa kram ketika tertawa.
"Mana yang sakit." Tanya Nathan panik, tumbuhnya langsung bangun untuk memastikan keadaan sang istri.
"Hanya sedikit, mungkin karena tertawa, sudah tidak apa-apa." Ami menyakinkan suaminya yang sudah berwajah khawatir.
"Jangan buat aku takut sayang." Tatapan Nathan begitu dalam, hingga rasanya sesuatu yang membuat istirnya sakit akan membuat dirinya jantungan.
__ADS_1
"Ck, justru kamu yang selalu membuat aku takut By."
Bukanya tidak merasa sedih dan kehilangan, tapi itulah cara Ami untuk menghibur diri sendiri dan suaminya, dia tahu jika kehilangan itu berat dan rasanya tidak akan bisa kuat. Tapi hati gadis itu berusaha untuk tegar dua kali dirinya merasa kehilangan, kehilangan seorang ayah, dan sekarang kehilangan bagian dari dirinya sendiri.