
"Papa.."
"Princess.."
Nathan merentangkan tangannya saat gadis kecil dengan senyum mengembang berlari kearahnya.
Hap
Nathan menangkap tubuh putrinya dengan riang, dan mengangkatnya untuk berputar-putar diatas gendongannya.
"Hahaha..Sudah papa Awa pusing." Tawanya begitu renyah ketika tubuhnya diangkat dan berputar-putar bersama sang papa.
"By, sudah nanti jatuh." Wanita cantik yang masih muda itu memperingati saat suaminya terus membuat tubuh Hawa berputar.
"Hah..hah..Aduh papa capek." Nathan langsung menjatuhkan tubuhnya, dengan duduk di lantai, dan kedua tangan menyangga dibelakang, pria itu pura-pura kelelahan.
"Ya ampun papa sampai dehidlasi." Ucap Hawa yang masih belum faseh dengan huruf R.
"Iya Nak, tolong papa butuh air." Ucap Nathan dengan wajah dibuat memelas mungkin.
"Ail." Hawa langsung berlari kedapur.
Sedangkan Adam baru saja keluar dari dalam kamar.
"Ck. Drama." Pria tampan dan gayanya sudah seperti pria dewasa itu berdecak sebal, karena selalu melihat adik dan papanya bermain drama.
Ami menoleh, ketika mendengarkan ucapan putranya.
__ADS_1
"Adam, kamu sudah selesai?" tanya wanita cantik itu menatap putranya.
Adam yang ditanya hanya mengaguk, dan berjalan untuk duduk disamping Mamanya.
Sejak tadi Adam mengerjakan pr dari sekolahnya, Meskipun usianya masih enam tahun, dan sebentar lagi akan masuk sekolah dasar, Adam selalu meminta pr pada gurunya lebih banyak dari yang sudah gurunya kasih.
Dan ternyata Adam mewarisi otak yang cerdas dari sang Papa, dan sifatnya pun sama.
"Papa ini minum dulu." Hawa memberikan gelas berisikan air putih untuk papanya, yang masih terkapar dilantai.
Dengan senang hati Nathan menerimanya. "Terima kasih prince papa." Nathan terseyum senang.
Hawa hanya menggaguk lucu, gadis kecil itu memperhatikan papanya yang meminum air.
"Hawa, Adam kalian bersiaplah kita akan datang kepesta rekan bisnis papa." Ucap Ami pada kedua buah hatinya. "Mama sudah menyiapkan keperluan kalian dikamar, minta bantuan mbak jika kesulitan."
Gadis kecil itu melompat-lompat bahagia, dirinya begitu senang ketika mendengar pesta dan dirinya ikut serta.
Adam hanya memutar kedua bola matanya malas. "Apakah aku bisa tidak ikut saja Mama." Ucap Adam dengan memohon.
"Tidak bisa sayang, Papa ingin mengenalkanmu dengan rekan papa." Bukan Ami melainkan Nathan yang menjawab.
Nathan duduk di sofa sebelah Adam, dan Adam berada ditengah-tengah orang tuanya.
Adam hanya menunduk lesu, dirinya terlalu malas dan bosan jika berada di antara pesta orang dewasa.
"Tenang saja sayang, ini pesta ulang tahun anak rekan Papa." Ami mengelus punggung putranya.
__ADS_1
Adam memang tidak menyukai pesta, berbeda dengan Hawa yang begitu senang dan antusias saat mendengar kata pesta.
"Mbak Tia! ayo bantu Awa siap-siap." Hawa berteriak memanggil baby siter yang mengasuhnya sejak bayi.
Ami hanya geleng kepala, "Putri kesayanganmu By." Ami menatap Nathan dengan mata memincing.
"Tapi tingkahnya seperti kamu sayang, sangat menggemaskan." Balas Nathan dengan mengedipkan matanya sebelah.
Ami membulatkan kedua matanya sendangkan Adam yang masih berada ditengah-tengah mereka hanya mengehela napas.
"Ck, kalian orang dewasa membuat ku pusing." Gumamnya dan langsung pergi, tidak ingin melihat kemesraan kedua orang tuanya yang tidak tahu malu, meskipun didepan anak kecil, seperti dirinya.
Ya, Adam dan Hawa kini sudah berusia enam tahun, kedua anak Nathan dan Ami sudah menjadi anak-anak yang cerdas dan juga mengagumkan.
Usianya baru enam tahun, tapi tingkah mereka sudah seperti anak-anak dewasa.
Sungguh terkadang Ami merasa heran, apalagi Adam yang begitu mengkopi papanya.
.
.
Next udah sampai disini.
Selanjutkan akan berada di kehidupan percintaan Hawa.
Apakah seberuntung percintaan namanya, ataupun sebaliknya?
__ADS_1
Jangan bosan untuk kasih author dukungan dan semangatnya..🥰🥰🥰