
Sampainya di rumah sakit Nathan langsung mengendong Istrinya yang sudah tak sadarkan diri, tidak peduli dirinya sebagai pusat perhatian Nathan berteriak memanggil dokter.
"Tuan, tidurkan pasien diranjang." Ucap perawat yang sigap menghadang Nathan menggunakan brankar rumah sakit.
Nathan segera menuruti perkataan perawat itu, Mendorong brankar menuju ruang UGD Nathan dengan setia mengikuti perawat itu membawa istrinya.
"Taun anda tidak boleh masuk, silahkan tunggu diluar." Ucap perawat yang ingin menutup pintu setelah dokter masuk.
"Tapi saya ingin menemani istri saya sus, saya ingin melihatnya." Kekeh Nathan yang masih ingin menerobos masuk membuat suster itu kewalahan.
"Nat, Nathan..hey tenangkan diri kamu, biarkan dokter melakukan tugasnya." Ando menarik tubuh Nathan agar menjauh, dan memberi kode agar suster itu menutup pintunya.
"Lepas Sialan..!!" Bentak Nathan menyentak tangan Ando yang memegangi tubuhnya.
"Nat, lu harus kuat istri lu pasti baik-baik saja." Ucap Ando mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Lu gak tau rasanya jadi gue, Istri gua kesakitan tidak sadarkan diri. Dan lu nyuruh gue tenang, lu gak tau rasanya jadi gue bangsad."
Bugh
Nathan meluapkan emosinya dengan meninju tembok yang ada di depannya.
Olive yang melihatnya menutup mata, tidak berani melihat.
"Nat, gue ngerti perasaan lu. Setidaknya lu tenang dan berdoa untuk istri lu." Ando mencoba untuk tidak ikut tersulut emosi karena ucapan Nathan. Ando tahu keadaan Nathan yang sedang hancur.
Tak lama suster keluar membuat Nathan segera menghampiri.
"Suster bagaimana istri saya." Tanya Nathan dengan keadaan yang berantakan, air matanya masih membasahi pipinya.
"Kami akan melakukan operasi, karena pasien mengalami pendarahan dan kami butuh donor darah dengan golongan B+ kebetulan stok dirumah sakit ini sendang kosong."
Seketika tatapan mata Nathan kosong, sesaat napasnya berhenti mendengar penuturan perawat itu.
"Liv, kamu hubungin orang tua Ayana." Ucap Ando menyuruh Olive. mungkin saja darah mereka sama. Karena Ando tahu jika golongan darah Nathan tidak sama dengan Istrinya, begitupun dia.
Olive mengangguk, dan segera menghubungi bunda Raya agar segera datang kerumah sakit.
__ADS_1
"Sabar Nat." Ando masih mencoba untuk menenangkan Nathan.
Tubuh Nathan merosot ke bawah kakinya sudah tak bisa lagi berdiri tegak.
"Tuhan, cobaan apa yang kau berikan pada hamba."
Bahu Nathan bergetar hebat pria itu kini telah rapuh dengan keadaan yang menimpa Istrinya.
Ando yang melihatnya sampai tidak percaya, jika Nathan pria dingin dan kaku itu bisa serapuh ini ketika sang Istri sedang bertaruh nyawa.
Ando membiarkan Nathan untuk meluapkan kesedihannya.
"Kak, kata bunda akan segera kesini. Tapi golongan darah bunda tidak sama dengan Ami." Ucap Olive dengan wajah panik bercampur takut.
"Maksud kamu."
"Ami memiliki golongan darah yang sama dengan ayahnya." Jelas Olive membuat Ando mengusap wajahnya kasar.
Ando langsung menyingkir dirinya menguhungi keluarga Nathan siapa tahu diantara mereka ada yang memiliki golongan darah yang sama.
Nathan menuduk dengan bahu yang tidak lagi setegap biasanya, pria itu kini merasakan hidupnya hancur.
"Olive." Loli menghampiri Olive yang duduk termenung dikursi tunggu. Sedangkan Nathan duduk bersandar di samping pintu UGD dengan kaki satu lurus dan satunya ditekuk, untuk menyandarkan keningnya dilutut, pria itu menunduk dengan diam.
Loli langsung memeluk Olive, yang kembali berderai air mata. "Ami, Lol. Ami mengalami pendarahan." Ucap Olive terisak, kedua gadis itu menagis berpelukan.
Loli datang dengan kepala sekolah dan Loli juga sudah menceritakan apa yang terjadi kepada Ami, hingga Ami sampai bisa seperti sekarang ini.
Cukup lama mereka menunggu hingga Ando datang bersama bunda Raya dan juga Mustafa yang kebetulan sedang berada di rumah pak Teguh.
"Nathan." Bunda Raya berkata lirih, durinya tidak percaya melihat Nathan yang sepeti orang kehilangan arah hidup.
"Sebaiknya Om langsung menemui suster." Ucap Ando yang mengantar Mustafa untuk mendonorkan darahnya. Karena secara kebetulan Mustafa memiliki golongan darah yang sama dengan Ami.
Ando juga menunggu kedatangan kedua orang tua Nathan, karena Mama Indira memiliki golongan darah yang sama, dan beruntung karena Mustafa juga memiliki golongan darah yang sama, sehingga Ami cepat mendapat pendonor.
"Bunda." Olive memeluk bunda Raya. "Ami bunda, Ami pasti baik-baik saja kan." Ucap Olive diperlukkan bunda Raya.
__ADS_1
"Iya sayang, Ami gadis kuat dia akan baik-baik saja." Bunda Raya menyakinkan Olive tapi lebih kepada dirinya sendiri, jika putrinya pasti akan baik-baik saja.
Nathan masih diam dengan keadaan yang sama hingga Ando kembali datang menghampirinya.
"Nat, bersihkan dirimu." Ucap Ando yang melihat pakaian Natha yang begitu kusut, apalagi celana yang dia pakai terkena darah Ami, meskipun tidak terlihat karena celana yang Nathan pakai berwarna hitam.
"Apa mereka akan baik-baik saja." Tanya Nathan dengan suara lirih, lebih tepatnya bergumam.
"Kita do'akan saja semoga semua baik-baik saja." Ando berdiri, mengulurkan tangannya untuk membantu Nathan berdiri. "Kamu harus kuat untuk istrimu."
Ando tahu mungkin saja kejadian ini akan membuat Ami syok dan terguncang, apalagi Ami mengalami pendarahan sudah pasti keadaanya tidak baik-baik saja.
Nathan mendongak dan menerima uluran tangan sahabatnya itu. "Gantilah pakaianmu, aku akan menunggu disini." Ando memberikan pakaian Nathan yang di bawakan supir pak Husein.
Nathan menerimanya dan berjalan pelan dengan langkah beratnya menuju toilet rumah sakit.
Sementara itu Allanaro dan Indira baru saja sampai setelah pamit pulang lebih dulu karena sedang menghadiri acara amal yang diselenggarakan di salah satu panti asuhan.
"Mbak.." Indira langsung menghampiri Raya yang duduk dengan Olive dan Loli.
Keduanya berpelukan. "Apa yang terjadi dengan Ayana." Tanya Indira yang sudah menitikan air mata.
"Insiden disekolah." Jawab Raya seadaanya.
Allanaro masih bicara dengan Ando dan Mustafa, karena Nathan masih berada di toilet.
"Nat." Allanaro melihat putranya dari kejauhan.
Semua menoleh kearah Nathan, "Nathan.." Lirih Indira yang tidak bisa berkata-kata. Wajah putranya begitu menyedihkan, tubuh tegap itu kini sedang tumbang dan rapuh.
Indira langsung berdiri untuk menyongsong sang putra, "Nathan.."
"Dia pasti baik-baik saja mah, tidak akan meninggalkan aku." Nathan menangis, menumpahkan beban pikiran dan hati pada sang Mama, pelukan seorang ibu mampu menenangkan sang putra yang sedang hilang arah.
"Iya sayang, Ayana pasti baik-baik saja. Dia menantu Mama yang kuat." Indra semakin banyak mengeluarkan air mata, selama lebih dari dua puluh tahun, dirinya tidak pernah melihat putranya menangis dengan keadaan rapuh seperti ini, hatinya benar-benar tersayat.
Allanaro mendekati Istri dan putranya, memeluk kedua malaikat dalam hidupnya.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja."