Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
96. Aku dan Kenangan (Gea)


__ADS_3

Gea keluar kamarnya dengan kondisi yang lebih segar. Ia berjalan ke sana ke mari mencari sesuatu. Bahkan ia sampai membungkukkan badannya.


"Bubu .... Bubu …"


Berulang kali Gea memanggil nama itu, namun tak kunjung ia temukan di mana keberadaannya. Ia bahkan mencarinya di kolong meja berharap bisa menemukannya di sana.


"Bubu …."


Ia memanggil lagi nama itu.


"Cari apa?" tanya Briel tiba–tiba dari arah belakangnya membuat Gea kaget, lalu membalikkan badan dia. Bahkan cukup cepat karena terlalu kagetnya.


"Ah Bayang ngagetin aja!" gerutu Gea sembari mengelus pelan dadanya. "Untung aku gak jantungan!" gerutu Gea. Dia harus kaget karena ulah Briel. Dan dia paling sebal dengan hal itu.


"Hahahaha maaf, Nek," ledek Gea. Gea terperangah dengan jawaban Briel. Gea berdecak kesal.


"Bayang …. Ingat umur ya, aku sama Bayang itu lebih tua Bayang. Jadi jika aku nenek, Bayang berarti buyut," ledek Gea menjadi.


Gea tertawa cukup keras bahkan terdengar renyah. Sedangkan Briel hanya menganga. Kemudian Briel tersenyum usil. Dia menubruk Gea dan merebahkannya ke sofa. Dia menggelitiki tubuh Gea. Gea pun berteriak meminta ampun agar dilepaskan. Rasa geli menjalar ke seluruh tubuhnya. Begitu menyiksa tanpa bisa ia hentikan dengan sendirinya.


"Hahahahaha Bang, lepasin Bang, geli …. Hahahahaha …."


Bukannya berhenti, Briel masih saja menggelitiki Gea.


"Bicara yang benar. Nanti akan aku lepaskan!" pinta Briel. Briel ingin Gea memanggil dia dengan sebutan sayang Gea padanya.


"Hahahaha …. Ini sudah benar, Bang … aahahaha"


Gea masih belum bisa mengalah. Ia gengsi untuk mengatakannya kembali.


"Panggil aku seperti tadi!"


"Yang mana? Hahahahaha"


Bukannya menjawab, Briel masih terus menggelitiki tubuh Gea.


"Hahahaha baiklah, Bang." Gea memilih untuk mengalah. Ia tak mau digelitiki terus menerus hingga esok pagi.


"Bayang …. Lepasin aku dong …." pinta Gea melas.


Akhirnya Briel pun melepaskan Gea. Inilah ucapan yang ia minta. Panggilan "bayang" dari seorang Gea.


Gea berusaha keras untuk menormalkan kembali napasnya yang tersenggal–senggal karena terlalu banyak tertawa.


"Gak ingin tahu Bang, apa itu 'Bayang'? " Gea melirik ke arah Briel.


"Enggak. Sudah tahu, Gey!" ucap Briel dengan percaya diri.


"Apa coba?"

__ADS_1


"Abang Sayang?"


"Salah!"


"Terus apa dong?" Briel tak mempunyai pemikiran lain selain kata itu. Ia bertanya–tanya dalam hatinya.


"Abang kuyang."


Gelak tawa Gea memenuhi ruangan itu. Dia tertawa mendengar istilahnya sendiri. Sedangkan Briel hanya terperangah. Ia tak tahu apa yang dimaksud Gea.


"Kuyang? Apa itu?"


Baru saja Briel yang terperangah, kali ini gantian Gea yang terperangah dibuatnya. Ternyata kata viral itu tak juga viral di hidup Briel.


"Beneran tidak tahu apa itu kuyang?"


Briel menggeleng pelan. Seketika Gea menepuk dahinya sendiri.


"Kudet sekali kamu, Bang."


"Dari mana kamu dapat kata itu?" tanya Briel penasaran. Baru kali ini ia mendengar kata itu. Kata kuyang terdengar asing di telinganya.


"Kemarin, dari temenku si Desy. Dia itu anak tik tok. Terus aku kena virus deh sama dia."


Desy adalah salah satu rekan kerja Gea. Ia sangat update sekali perihal tik tok dan hal yang viral di sana.


"Dah ah, tanya sendiri sama Desy. Aku mau cari Bubu."


Gea beranjak pergi tanpa memberi tahu jawaban yang jelas apa itu kuyang. Karena ia sendiri pun tak paham. Ia hanya terbawa apa yang dikatakan Desy saja.


Sepeninggalan Gea, Briel merogoh gawainya. Ia mencari tahu apa itu kuyang. Dan ia kesal mengetahui fakta apa itu kuyang.


"Rupanya aku harus mencari Desy supaya gak sembarangan sebarin virus tik tok ke otak istriku ini!"


"Masak tampan begini disamain sengan kuyang."


🍂


Seusainya makan malam, mereka berdua kembali ke dalam kamar. Di sana mereka sibuk dengan dunia mereka masing–masing. Briel berkutat pada laptopnya sedangkan Gea mengamati kembali papan catur peninggalan kakeknya.


Gea membuka papan catur itu. Ia mengeluarkan bidak–bidak itu. Tangannya bergerak menata rapi bidak itu sesuai dengan letaknya.


Seulas senyum tercetak jelas di wajahnya. Ia mengingat betapa bahagianya ia tatkala mulai bermain catur dengan mendiang kakeknya di kala itu. Dari permainan catur, ia bisa belajar tentang banyak hal. Mulai dari strategi, mengalah untuk menang, dan menyerang dikala musuh lengah. Bahkan ketelitian dibutuhkan untuk memenangkan permainan ini.


Pemain yang terlihat akan menang, bisa saja akan hancur di akhir permainan atau sebaliknya. Semua itu tergantung strategi yang digunakan oleh sang pemain.


Gea memandang deretan rapi tatanan bidak–bidak itu sembari bernostalgia. Hingga tanpa sadar ternyata sudah hampir setengah jam ia berada di posisi itu tanpa beranjak sedikitpun.


"Mau main?" tanya Briel tiba–tiba. Sedari tadi ternyata perhatian Briel tersita oleh Gea hingga ia rela meninggalkan pekerjaannya untuk memperhatikan istrinya. Ia menghela napas dalam karena ia tahu rasa rindu membelenggu Gea.

__ADS_1


Gea menatap Briel dalam. Ada suatu kebahagiaan muncul di hatinya. Namun ia bertanya kembali lewat sorot matanya.


Briel tersenyum sembari mengangguk ringan. Dengan senang hati Gea menyambut tawaran itu. Gea membawa papan catur itu lantai yang beralaskan karpet. Dia duduk di sana bersama Briel dengan papa catur di tengah–tengah mereka.


"Kamu putih, aku hitam."


Briel memilih bidak hitam. Ia ingin memberikan kesempatan untuk Gea menyerang terlebih dahulu.


Permainan berlangsung menegangkan. Permainan pertama Gea berhasil memimpin permainan dengan dengan jumlah bidak yang menang telak. Bidaknya lebih banyak dari bidak Briel karena dia beehasil mematikan satu persatu bidak itu. Gea tersenyum cerah. Di sini ia tinggal menggerakkan beberapa langkah lagi untuk memenangkan permainan.


"Skak mat!" ucap Briel sembari tersenyum penuh kemenangan.


Ternyata, walaupun ia kalah telak, Briel masih bisa mengejar ketertinggalannya dengan strategi yang lebih matang. Gea hanya terheran–heran melihat strategi yang Briel gunakan. Tak terduga dan penuh dengan jebakan.


"Bagaimana mungkin?" gumam Gea lirih. Baru kali ini ia menemukan lawan setangguh mendiang kakeknya. Selama ini ia belum bisa menemukan lawan yang tangguh. Hingga Briel berhasil mematahkan anggapan itu.


"Ya memang mungkin. Buktinya kamu kalah," ucap Briel sembari terkekeh. Gea hanya diam tanpa menjawab perkataan Briel. Ia tidak bisa berkata–kata.


"Mau main lagi?"


"Udah, Bang. Berpikir membuat kepalaku seperti mau pecah," keluh Gea.


Memang benar. Berpikir strategi dengan lawan yang tangguh sangat menguras tenaga dan membuat otaknya panas. Namun permainannya dengan Briel mebuatnya rasa rindunya terobati.


"Bayang, makasih ya …" ucap Gea tulus.


"Sama–sama. Sudah, ayo tidur."


Gea mengangguk. Mereka merebahkan diri mereka, untuk mengisi daya agar esok hari bisa kembali bangun dengan badan yang lebih bugar dan beraktivitas dengan baik pula.


🍂


//


Hohai semuaa ... pernah dengar nama Desy?


Iya. Ini dia karya keren dan seruu dari kakak kembar online Asa 🤗🤗


Sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir dulu ke karya dia. Karyanya sudah end. Jadi kalian gak bakalan digantung lagii 😊😊



🍂


//


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2