
Keheningan tengah menyelimuti dua insan yang kini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka duduk saling membisu, diam seribu bahasa. Tak ada salah satu dsri mereka yang memulai pembicaraan. Hanya suara kendaraan dari luar mobil yang menemani perjalanan mereka. Raga mereka ada di sana, namun pikiran mereka berkelana mencari apa yang perlu mereka cari tanpa mengetahui jawabannya.
"Kamu ... "
Sekali berucap, mereka berdua melafalkan sebuah kata yang sama. Rasanya begitu canggung ketika ada hal yang ingin disampaikan namun ternyata malah bersamaan ketika memutuskan untuk berbicara.
"Kamu duluan aja."
"Tidak! Wanita terlebih dulu."
"Kamu saja dulu."
Gea tetap ngotot agar Briel terlebih dahulu menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Sedangkan diam-diam Briel menghela napas dalam.
"Kam--"
Niat Briel untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan kepada Gea terhenti tatkala gawainya berdering. Ia menekan tombol hijau pada layar gawainya. Ia berbicara menggunakan airpods yang ia pasangkan di telinganya dengan masih tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"β¦."
Briel mendengarkan apa yang dibicarakan di seberang telepon. Namun tiba-tiba raut mukanya berubah. Dahinya mengkerut dan kedua alisnya bertautan.
"Wha--what? You must be kidding me!"
Briel tertawa sumbang. Bagaimana mungkin ini terjadi? Sungguh suatu misteri baginya.
"Baiklah, Aku akan segera ke sana!" Setelah mengucap kata itu, Briel mengakhiri panggilan telepon itu.
Gea menatap suaminya penuh selidik. Ia penasaran dengan apa yang terjadi. Ia menuntut suatu penjelasan keluar dari mulut Briel.
"Apa?"
Briel risi dengan tatapan Gea yang begitu menuntut. Ia mengerutkan dahinya lagi.
"Ada apa?" tanya Gea penasaran.
"Tidak ada apa-apa."
__ADS_1
Briel tak mengatakan tentang apa yang baru saja ia dengar. Ia tak mau menambah beban pikiran wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Gea hanya mengangguk-angguk saja kemudian mengalihkan pandangannya ke jalan depan.
"Terus kamu tadi mau ngomong apa?" tanya Gea lagi. Ia juga penasaran ingin mengetahui apa yang akan dibicarakan Briel namun terhenti karena dering gawai yang mengambil alih.
"Nanti saja. Sekarang kamu akan saya antar ke apartemen saya. Tunggulah saya di sana. Ada urusan penting yang harus saya selesaikan. Setelah saya pulang, saya akan mengatakan lagi apa yang ingin saya sampaikan!"
"Baiklah. "
Gea menyenderkan punggungnya pada jok mobil. Ia asik menikmati pemandangan jalanan padat di siang itu.
π
"Baiklah, tunggulah saya di sini. Saya akan segera kembali!" pamit Briel setelah mengantar Gea ke apartemennya. Gea mengangguk.
"Jika mau makan, coba carilah bahan makanan di kulkas. Kalau mau tidur, pilihlah tempat yang nyaman untukmu tidur."
"Baiklah."
Setelah kepergian Briel, Gea mulai berkeliling melihat apa saja yang ada di apartemen Briel.
"Rapi juga, untuk ukuran kebersihan apartemen cowok."
"Hahh ... aku bosan." Gea meraih remot yang ada di atas meja lalu menyalakan televisi itu.
"Huaaaahem β¦."
Gea menutup mulutnya sendiri yang menguap lebar. Kenyataan berat yang ia hadapi hari ini membuat kantuk datang lebih cepat menghampirinya. Ia menidurkan dirinya sendiri di sofa itu dengan televisi yang masih menyala.
π
"Bang, acara adikmu dibatalkan saat ini. Ada hal yang terjadi di sini." Itulah jawaban yang terdengar dari gawainya ketika Davin menanyakan keberlangsungan acara adiknya.
"Baiklah, Dad. Kalau begitu, aku mau langsung pulang ke apartemen saja."
"Okay. Yasudah, daddy akhiri."
Davin meletakkan kembali gawainya. Kemudian dia melajukan kembali mobilnya yang sempat berhenti di pinggir jalan, menembus padatnya kota. Ia belum berniat menceritakan pernikahan dadakannya dengan Dela yang berlangsung hari ini.
__ADS_1
Davin melempar senyum ke arah Dela. Dengan senang hati Dela membalas senyuman itu dengan senyum menggodanya.
Sesampainya di apartemen, mereka menikmati hari indah mereka bersama. Hingga mereka lupa akan waktu yang terus berjalan.
(Ya sudahlah mau bagaimana lagi. Pengantin baru ya terserah mereka mau ngapain aja, Asa nggak nanggung dan gak mau ngintip π€£π€£π€£)
"Thank darling." Davin mengecup bahu polos Dela. Dela yang kebetulan sudah menyelami dunia mimpinya, hanya mengerang kecil dan menggeliat saja. Davin mengikuti jejak Dela yang telah berkelana di dalam alam mimpinya.
π
Dua orang pria berbadan tinggi besar berhenti di bawah pohon yang cukup rindang. Salah satu di antata mereka, tengah berbicara dengan sebelah tangan yang memegang gawai. Pria itu menempelkan gawainya di dekat telinga.
"Tuan, maafkan kami. Kami kehilangan jejak Nona."
Suara helaan napas kasar terdengar di indra pendengaran pria itu. Rasa takut menyelimuti hati mereka berdua karena kehilangan jejak orang yang mereka berdua ikuti. Mereka takut kena marah oleh pria yang ada di seberang telepon.
"Cepat cari dan temukan di mana dia berada! " perintah seorang pria di sebrang sana. Ada kekhawatiran yang tergambar jelas di setiap kata yang terlontar dari mulutnya.
Dengan sigap kedua pria itu mengiyakan permintaan sang tuannya. Mereka berdua langsung memulai pencarian ekstra
π
//
Hai-hai semua sambil menunggu Asa up lagi, kalian semua bisa membaca karya kakak-kakak online Asa yang keceee π€π€
check it out
π
//
Terimakasih yah semua, atas dukungan dan support yang telah kalian berikan untuk Asa hingga saat ini. π€π€
__ADS_1
Happy reading guy
jangan lupa bahagia ππ