Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
80. Gila Karena Pengujian (Merindu)


__ADS_3

Di kamar ini, Gea berbaring. Matanya tak kunjung terpejam. Ingin hati untuk segera menyelami alam mimpi, namun pikirnya tak mengijinkan dirinya untuk tertidur.


Berganti posisi, berguling ke kanan dan ke kiri, bahkan terlentang tak membuatnya kunjung terlelap.


"Arrrgh …" teriak Gea.


Ia membalikkan badannya, tengkurap. Ia menggunakan sebuah bantal untuk menutup kepalanya dari belakang. Namun bayangan Briel yang tengah tersenyum kembali memenuhi pikirannya. Bahkan bayangan bagaimana Briel bersedih beberapa waktu lalu pun terbayang jelas di pikirannya.


"Eeeeemmmmm!!!"


Suaranya semakin lama semakin meninggi.


Gea menekan bantal yang ia taruh di belakang kepalanya itu. Kedua kakinya bergerak menendang secara bergantian dengan ritme yang cepat. Ia sangat kesal.


"Akkh …! Enyahlah!!!" teriaknya tertahan, karena mulutnya tenggelam di ranjang yang empuk.


Dia langsung mengambil posisi duduk. Ia melempar bantalnya.


"Astaga … lama–lama aku bisa gila!"


Gea tak tahu, harus dengan cara apa ia bisa mengenyahkan bayangan Briel dari pikirannya. Bayang–bayang itu terus menghantuinya tanpa bisa mengusirnya. Bayangan itu bagaikan jalangkung yang datang tak diundang.


Ia turun dari ranjang, berjalan ke luar untuk mencari udara malam. Ia berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa membuatnya lebih tenang.


🍂


Di dalam ruangannya di markas itu, Briel tengah duduk bersama Adam. Mereka saling terdiam, ditemani kesunyian malam yang berbaur dengan kegundahan hati. Briel menatap lurus ke depan. Kosong dan hampa terlihat jelas pada sorot matanya. Adam hanya menemani Briel di sana.


Sampai sekarang belum ada hasil dalam melacak di mana keberadaan Gea. Baru kali ini Naga Hitam kesulitan melacak keberadaan seseorang.


"Aarrggh...!" Briel mengusap kasar wajahnya. Ia khawatir tidak bisa menemukan Gea dalam waktu seminggu. Tinggal tersisa enam setengah hari lamanya. Dalam sisa waktu itu, dia harus menemukan di mana Gea berada dan membawanya kembali.


Briel memutuskan untuk mengambil benda pipih canggihnya yang ia simpan di sakunya. Ia mencari nomor yang ingin ia hubungi. Ia menekan tombol itu. Ia berharap Bima mau mengangkat teleponnya. Hanya Bima kunci dari keberadaan Gea.


Wajah Briel gusar. Tidak ada jawaban dari seberang. Berulang kali ia mencobanya. Namun hanya suara operator saja yang selalu menjawabnya.


Adam hanya melihat kegusaran Briel. Ia juga tak bisa melakukan apapun saat ini.


"Dam..."


"Iya, Bos?"


"Ambilkan persediaan minuman beralkohol yang kita simpan!" Suaranya sendu, namun masih terdengar tegas untuk sebuah kalimat perintah.


"Tapi–"

__ADS_1


"Ambilkan!"


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Adam mengambil beberapa botol miras itu. Kali ini ia menuruti apa mau Briel, karena ia tahu, Briel membutuhkan hal yang bisa membuat pikirannya lebih tenang. Terpisah dengan orang yang dicintai itu tidaklah mudah.


Adam menyerahkan botol–botol itu pada Briel, namun ia menariknya kembali tatkala Briel ingin mengambil alih botol itu. Hal itu membuat Briel mendengkus kesal.


"Untuk kali ini saja Bos!"


"Hem!"


Briel hanya menjawab itu dengan gumaman. Adam menggeleng pelan dan berdecak saja lalu menyerahkan apa yang Briel minta.


Briel menenggak miras itu berkala, sembari menatap kosong apapun yang ada di depannya. Bayangan–bayangan hidupnya dan Gea akhir–akhir ini tak mau lepas dari pikirannya. Ia semakin banyak menenggak minuman itu untuk melupakan apa yang ada di pikirannya.


Adam hanya melihat Briel. Ia menghela napas kasar, menatap sendu Briel sembari berucap dalam hati.


"Semoga badai cepat berlalu Bri."


Adam masih terus menatap Briel yang kalap minum di depannya ini.


🍂


Sementara itu, Bima tengah duduk tenang di sebuah kursi panjang dengan atap rumah transparan, dengan kaca. Ia memandang langit yang gelap bertaburan bintang itu. Damai ia rasakan.


Tiba–tiba saja Bima tersenyum miring. Ia mengingat kalau gawai dengan nomor yang sering ia pakai ia matikan. Ia sudah berpikir, pasti Briel akan menghubunginya. Ia juga tahu, kalau Briel memiliki pasukan rahasia. Jika sekali saja ia menghidupkan gawainya, semuanya akan segera berakhir. Briel akan menemukan keberadaan Gea dengan mudah.


"Aku ingin melihat, sebesar apa cintamu untuk memperjuangkan Gea," gumamnya lirih.


Bima tersenyum simpul nan samar.


"Kak …" panggil seseorang yang tak lain adalah Gea.


Bima menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke arah Gea.


"Belum tidur?"


Gea melipat bibirnya semakin rapat. Kemudian ia hanya menjawab dengan menggeleng.


"Ngapain sih Kak di sini malam–malam? Bukannya enak tidur?" tanya Gea. Ia duduk di kursi panjang itu.


"Ngapain juga kamu di sini? Bukannya enak tidur?"


Bima mengulang pertanyaan yang sama dengan apa yang Gea tanyakan. Gea hanya menghela napas kasar lalu ikut menikmati keindahan langit malam yang dapat ia lihat di sana.


"Bintang …. Apakah keputusan yang kuambil ini adalah keputusan terbaik?" tanya Gea dalam hati, kepada bintang–bintang gemerlapan di sana.

__ADS_1


Gea masih menatap lekat bintang–bintang itu. Dia ingin pergi, namun hatinya ingin kembali. Ia sudah menaruh hati sepenuhnya pada Briel. Ia tak bisa memungkiri hal itu.


Namun apa daya. Orang tua Briel menginginkannya untuk pergi. Ia tidak mau merusak sebuah keluarga apalagi keluarga orang yang dia cintai.


"Rasanya sakit. Namun aku tak memiliki pilihan lain. Jika aku tetap berada di sisinya, bagaimana jika mereka membenci Bang Briel? Bahkan Bang Briel sampai tega mengucapkan apa yang seharusnya tidak ia ucapkan."


Kata–kata yang Briel lontarka pada kedua orang tuanya terngiang jelas di kepalanya. Pasti mereka sakit mendengar perkataan itu keluar dari mulut anaknya sendiri.


Diam–diam Gea menghela napas.


"Aku mencintaimu, Bang."


"Bintang … sampaikan salamku padanya. Aku ingin dia hidup bahagia."


Sejak tadi Bima hanya diam menatap Gea. Dia mengamati bagaimana Gea. Tak tega juga ia melihat adik kesayangannya seperti itu. Namun ia juga ingin melihat seberapa besar cinta Briel pada Gea. Ia tak mau kecolongan seperti tragedi Gea yang hanya dipermainkan oleh Davin.


Bima menepuk kedua pahanya sendiri. Bima beranjak dari duduknya.


"Dahlah … Kakak mau ke kamar. Jangan malam–malam. Segera tidur! Sayangi dirimu sendiri."


Bima tak mau melihat Gea bersedih hati terus menerus. Ia juga tak ingin Gea sakit karena terlalu lama begadang.


Gea menoleh ke arah Bima lalu menganggukkan kepalanya. "Iya, Bang."


Cepat–cepat Gea menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Betapa malunya ia ketika salah memanggil Bima dengan sebutan "bang".


"Iya deh yang tengah dirundung kegalauan maksimal, sampai kakak aja dipanggil 'abang'," ledek Bima. Ia menyunggingkan senyum gelinya.


Seketika Bima mendapat lirikan tajam dari Gea. Bima semakin terkekeh dibuatnya.


"Gini. Kakak mau bicara." Bima menatap Gea dengan sorot mata yang mulai serius.


"Jangan pernah menyesali apa yang telah kamu putuskan. Apa yang telah kamu putuskan, berarti kamu sudah mengizinkan dan sudah siap menerima risiko yang terjadi. Tidak bisa ditarik jika sudah terjadi. Hanya bisa diperbaiki."


Jika Gea menyadari, kalimat yang Bima lontarkan adalah pesan tersirat yang tersembunyi dibalik kalimat itu. Bima bisa saja langsung membantu Gea kembali kepada Briel jika Gea menginginkannya saat itu juga.


Namun rupanya Gea tak mengerti apa yang Bima katakan. Ia hanya mengangguk. Otaknya yang tidak jernih, membuat pikirannya buram. Ia tak dapat berpikir dengan jernih pula. Namun ia menyimpan kata–kata Bima untuk ia pahami nanti setelah pikirannya jernih.


Setelah mengucapkan apa yang ingin disampaikan, Bima pergi meninggalkan Gea sendirian di sana.


🍂


//


Happy reading guys

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2