Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 Sakit Jiwa


__ADS_3

Mrs. L mengangguk–angguk tanpa menjawab pertanyaan Gea.


"Kamu terlalu berani untuk ke sini sendirian. Tapi itu lebih baik," ucapnya dengan tersenyum miring.


“Siapa kamu?!"


Gea bertanya kembali dengan suara yang meninggi lantaran pertanyaannya hanya dijawab dengan suara tawa yang membuatnya semakin jengkel dan penasaran.


Mrs. L kembali tertawa, memenuhi ruangan yang cukup luas itu.


“Sepertinya aku perlu mengingatkanmu kembali, “anak kesayangan Wiyarta” yang tersayang?!”


Mrs. L menekan ucapannya seraya memainkan jari jemari tangannya yang lentik dengan kuku Panjang meronanya itu.


“Atau ….” Mrs. L menjeda ucapannya. Tatapan matanya menatap Gea lekat. “…. Aku harus menguburkanmu bersama dengan ibumu yang sudah membusuk dan tinggal tulang – tulangnya?!”


Mrs. L menyukai permainannya saat ini. Bermain teka – teki memang permainan yang sangat menarik. Inilah detik – detik di mana ia bisa mendapatkan apa yang ia mau.


"One step closer," batinnya di balik senyuman licik itu.


Gea tidak mengerti apa yang terjadi. Ia benar – benar tidak dapat menebak. Abu–abu. Terlalu gelap untuk menebak warna putih dan terlalu terang untuk menebak warna hitam. Gea terdiam, mulutnya terbungkam, pikirannya masih berputar.


Hanya satu jawaban yang pasti di dalam benaknya. "Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali?" tanya Gea dalam batinnya. Ia masih menunggu apa yang terjadi selanjutnya.


🍂


"Berhenti!!! Gaza berhenti Gaza!! Kumohon berhenti," pinta Dela. Ia sudah tidak kuat lagi. Perutnya memberontak, seluruh isinya seperti terkocok lepas, seperti sudah diujung tenggorokan. Mobil yang melaju kencang itu seperti tidak berkesudahan. Cara mengemudi Gaza pun ugal–ugalan. Tak berhenti sampai di situ saja. Jantungnya turut senam aerobik.


"Mentang–mentang aku gemukan, ikut bakar kalori juga kau tung, jantung.... Oh My gosh... Aku sudah tidak kuat lagi."


Kepala Dela semakin kliyengan. Kehamilannya yang semakin membesar, sangat mempengaruhi kondisi badan Dela. Semula Dela tahan banting meski berada di dalam mobil lebih lama dengan kecepatan di atas rata–rata. Berbeda dengan sekarang yang cepat sekali merasa pusing.


Gaza menulikan telinganya. Ia tidak akan berhenti sebelum Dela mengaku kepadanya.


"Dasar Psikopat?! Aku ini ibu hamil! Berhenti bangsadd!!" umpat Dela yang sudah habis kesabaran.


"Kau gila! Cepat menepi, atau aku yang keluar dari mobil ini!" ancam Dela.


Ancaman Dela bukanlah hal yang menakutkan bagi Gaza. Mobilnya telah ia kunci. Bagaimana mungkin Dela bisa membuka pintu mobil semudah itu jika ia sendiri tidak memberikan celah untuk membuka kunci pintu mobil itu.


“Kau pikir aku bodoh? Tidak semudah itu, Dela,” batin Gaza penuh kemenangan.

__ADS_1


Rahang Dela menganga lebar tatkala melihat respon Gaza yang biasa saja. Dalam bayangannya, Gaza akan bersikap seperti cowok – cowok di film, yang mampu luluh dengan ancaman turun paksa dari mobil. Bisa saja Dela memecahkan kaca jendela. Tapi tenaganya hanya akan terbuang sia – sia. Badannya kini tidak muat lagi untuk keluar lewat jendela. Perutnya kini telah membesar dan menyulitkannya untuk menerobos keluar, tidak seperti kala dia masih gadis.


Dela memikirkan cara untuk menghentikan Gaza yang semakin menjadi dengan kepala yang masih kliyengan dan rasa mual yang semakin menyiksanya. Ia tidak ingin rasa itu menyiksanya lebih lama.


Dela melirik ke arah Gaza yang masih fokus dengan stir kemudi yang ada di bawah kendalinya.


Sreetttt


Mobil yang mereka kendarai oleng. Dela merusuh dengan turut membelokan stir kemudi. Gaza yang tidak siap dengan tindakan Dela, mengumpat keras.


Gaza menepikan mobil itu. Cepat, ia melirik ke arah jok penumpang. Ia segera meraih benda yang ada di sana. Gaza mengikat tubuh Dela dengan sebuah tali yang ia bawa ke jok mobil agar Dela bisa diam sejenak dan tidak mengganggu aktivitas Gaza.


“Boodoh! Apa yang kau lakukan bisa membahayakan kita bertiga,” omel Gaza sembari terus mengikat tubuh Dela tanpa menyakiti tubuh Gea. Sedangkan Dela meronta, mencoba melepaskan diri dari ikatan Gaza.


“Lepasin!!! Kau seperti penculik tau gak? Tindakanmu itu kriminal!” omel Dela tidak ingin kalah.


“Kriminal? Lebih kriminal juga, kamu. Kau berniat membunuhku kan?”


“Mana ada. Buktinya juga kamu masih napas juga!”


“Bawel!” ucap Gaza diikatan terakhir. Gaza tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya mimpi buruknya bisa ia bereskan.


//


Sreekkk


Briel berhasih menghindar. Nyawanya selamat. Rasa perih kini menghampiri. Lengan atasnya tergores mata panah itu. Cukup dalam, namun ia masih bisa menahan luka itu.


“What the...” umpat Biel kala tangannya menyentuh darah segar yang keluar dari luka goresan itu.


Briel menatap musuhnya tajam. Ia berlari kencang, memberikan tendangan maut untuk sang musuh. Tak sempat menghindar, anak buah Mrs. L itu terkapar, tersungkur ke lantai.


“Harusnya kau datang nanti pas lebaran!” ujar Briel sarkas pada Adam yang baru saja sampai di sana.


“Niatnya begitu. Tapi takut digentayangi kalau tadi kau maati terpanah maut,” sahut Adam tak kalah sarkas pula.


Briel memutar bola matanya malas. Kehadiran Adam memang sangat menyebalkan. Namun ia tidak bisa memungkiri, jika dia juga harus berteimakasih dengan Adam yang sudah menyelamatkannya itu.


“Anak buah yang kita bawa tidak cukup banyak untuk menghadapi anak buah mises seres itu,” ujar Adam yang hanya dibalas dengan kerutan kening Briel lantaran julukan untuk Mrs. L yang sulit Briel mengerti.


“Astaga... gitu saja tidak tahu!”

__ADS_1


“hmmm...”


Briel hanya berdeham saja. Ia sudah malas menanggapi Adam yang semakin tidak jelas.


“Pada intinya, aku sudah menyuruh yang lainnya untuk segera ke sini,” ungkap Adam. Briel mengangguk mengerti.


Tiba – tiba derap sepatu yang sangat banyak menghampiri mereka dari belakang. Mereka terkejut. Briel dan Adam segera sigap untuk membereskan musuh mereka.


//


Gea tekejut. Matanya membeliak. Ia tidak percaya akan kenyataan di depannya itu.


“Haloo anak kesayangan Wiyarta.. sudah lama kita tidak bertemu,” ujar Mrs. L dengan angkuh seusai membuka penutup wajah. “Perkenalkan, saya, Laurensia Clara. Ibu tiri yang sudah lama kau bunuh.”


“Ups... salah. Bukan kau bunuh. Tapi memang gagal kau bunuh,” lanjutnya.


“Ma-Mami?”


Reflek Gea menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia masih kebingungan, bagaimana bisa Clara masih hidup, sedangkan jasadnya saja ia lihat tepat di depan matanya dan semua orang.


“Mami? Siapa kamu memanggilku mami? Bukankah ibumu sudah di makan ulat? Atas dasar apa kau memanggilku "mami"?” ujar Clara merendahkan. “Haaahhh ... kukira kalian pintar. Ternyata kalian lebih bodoh dari yang kukira,” ejek Clara.


Tidak sabar lagi Gea berada di dalam posisi itu. Ia berjalan cepat kala Clara mulai lengah, beniat untuk merebut kembali anaknya.


“Aaarrggh...” Gea tersungkur. Kakinya terjegal oleh seorang Pria bertubuh tegap yang menghadangnya.


“Hei... mau apa buru – buru. Aku belum cukup puas untuk bermain – main denganmu. Bukankah... bermain itu menyenangkan? Sudah lama kan kau tidak bermain – main. Kamu terlalu sibuk mengurus mereka.”


“Aku sudah cukup berbaik hati padamu. Aku membantumu untuk mengurangi bebanmu. Pastinya berat kan mempunyai dua anak sekaligus? Aku bantu ya. Mungkin dengan memenggal kepala Rio, akan sedikit mengurangi bebanmu. Bukan hanya sedikit, tapi separuhnya.”


Senyum psikopat itu terlihat jelas di wajah wanita paruh baya itu. Sebilah pedang ia mainkan dengan menggunakan tangannya di samping tubuh mungil Rio yang masih tertidur dengan pulas.


“IBU SARAP!!” umpat Gea. Ia tidak menyangka jika wanita di depannya benar – benar sakit jiwa. Bagaimana bisa papanya dulu bisa menikahi wanita tidak punya hati seperti itu. Rio itu adalah cucu Clara. Tapi tetap saja hati nurani Clara tidak terketuk sedikitpun. Gea memberontak, namun tubuhnya tertahan oleh tenaga yang lebih besar. Bahkan untuk bangun saja ia tidak bisa.


“Shuttt... tenang... tenang. Kau lihat? Anakmu saja setenang itu. Wajahnya saja damai. Lihat lihat!! Bahkan dia tersenyum. Ahh ... mungkin ia ingin menyambut malaikat maut dengan senang hati.”


Clara mulai berhalusinasi. Ia memang melihat Rio tengah tersenyum kepadanya. Padahal kenyataannya Rio tertidur saja karena masih dalam pengaruh obat tidur yang Dini berikan.


Clara tersenyum sinis. Sebilah pedang yang ia pegang, sekarang ia ayunkan ke arah kepala Rio.


"JANGAAAN!!!" teriak Gea dengan air mata yang mulai menetes kembali. Titik lemahnya sudah tersentuh. Rio adalah salah satu titik rapuh.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2