Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
67. Mulai Terkuak


__ADS_3

Hari sudah semakin siang. Seorang wanita masih terlelap dengan selimut yang membungkusnya. Perlahan, ia mulai membuka matanya. Suasana yang semula terasa gelap, berangsur–angsur semakin jelas seiring dengan matanya yang mulai mengerjap.


Ia menengok ke sebelahnya, mencari seseorang yang semula berbaring bersamanya. Namun sekarang ia hanya terbaring sendirian di sana.


"Kemanakah dia?"


Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya. Tanpa mengacuhkannya lagi, ia bangun dari tempat ia berbaring, menuju kamar mandi. Rasa gerah dan lengket di tubuhnya, membuatnya ingin segera membersihkan diri dengan mengabaikan rasa perih yang ia rasakan. Selesainya membersihkan diri, ia keluar dari kamar, untuk mencari keberadaan sang suami.


Dari sana ia mendengar suara dentingan penggorengan dari dapur. Bau makanan pun juga tercium oleh indra penciumannya.


"Hem … aromanya enak." Gea memejamkan matanya dengan hidung yang menghirup lebih dalam udara di sana. Ia berjalan menuju dapur, tempat di mana aroma wangi itu berasal.


"Hei … sudah bangun?" tanya Briel sembari menggoyang–goyangkan penggorengan di tangannya dengan lihai.


Gea bergeming. Gea terpana melihat pemandangan di depannya. Seorang pria berkaos hijau army, dengan apron hitam yang dipakai untuk menjaga bajunya agar tidak kotor. Ketampanan seorang Briel semakin terpancar dengan sentuhan kelembutan yang cool. Bahkan Gea sampai lupa untuk menjawab sapaan Briel.


"Astaga … tampannya makhluk ciptaan–Mu ini Tuhan …" batin Gea, tanpa mengalihkan pandagannya sedikitpun dari Briel.


"Gey …"


"E–eh iya, Bang."


Briel tersenyum melihat Gea tergagap. Ia tahu bawa wanitanya saat ini sudah terjerat dengan pesonanya.


Briel menyodorkan menu makanan yang sangat menggugah selera.



Gea menghampiri Briel. Ia menundukkan kepalanya untuk membaui makanan itu.


"Wahh … baunya enak sekali, Bang."


Matanya berbinar tatkala menatap Briel. Seulas senyum manis nan tulus, terlihat jelas di wajah keduanya.


Briel mengajak Gea untuk duduk di sebuah kursi yang ada di sana.


"Cobalah …"


Briel menyodorkan sepotong sosis ditangannya. Ia meminta Gea agar mencicipi makanannya. Gea tersenyum lalu membuka mulutnya, untuk menerima suapan itu.


Cukup lama ia mengunyah. Matanya bergerak–gerak, dengan kepala yang mengangguk–angguk kecil, mencoba merasakan apa saja yang bisa ia rasakan. Briel menunggu reaksi Gea dengan penuh harap.


Kemudian wajah Gea berubah. Tanpa ekspresi dengan kepala yang menggeleng. Seketika Briel menjadi lesu. Ia kecewa dengan dirinya sendiri karena gagal membuatkan menu makan siang yang lezat.


"Baiklah … kita makan di luar saja," ucap Briel sembari tersenyum. Ia berusaha menekan rasa kecewanya agar tak terlihat jelas oleh Gea.

__ADS_1


Melihat ekspresi Briel yang seperti itu, membuat Gea menutup mulutnya sambil tertawa kecil.


Briel menatap Gea dengan tatapan heran. "Kenapa? Ada yang salah?" Brie tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia bingung, kenapa istrinya tertawa setelah ia mengatakan demikian. Briel menautkan kedua alisnya.


"Maksudnya tadi …" Gea menggeleng, "… tidak diragukan lagi Bang rasanya. Sungguh lezaaaaaaatttt!!!" ucap Gea jujur.


Rasa masakan Briel tidak bisa diremehkan. Sangat lezat dan pas di lidah. Wajah Briel yang semula hanya terukir senyum palsu, kini telah berganti dengan senyum yang cerah.


Gea tersenyum. Gea menyantap lagi makanan itu dengan lahap. Tak lupa sesekali ia juga menyuapi Briel dengan tangan indahnya.


"Wah wah wah … sudah mulai usil nih ternyata." Briel mengacak pelan rambut Gea. Gea tak masalah dengan perlakuan Briel. Malah perlakuan Briel membuat kupu–kupu di perutnya berterbangan menggelitik hatinya.


Gea membenarkan rambutnya yang berantakan. "Hahaha … makanya, Bang, selalu dengarkan ucapan orang sampai selesai. Jangan setengah–setengah!" Gea mencomot lagi sepotong sosis. "Kebiasaan!"


Gea mengingat saat dia diseret paksa Briel untuk dinikahi. Dia bahkan tak di dengarkan oleh Briel. Briel hanya terkekeh saja.



(Anggap saja Gea makannya seperti itu ya 🤭)


Briel memandangi Gea dengan seksama. Wajah cantik itu terlihat bahagia tatkala memasukkan makanan suap demi suap. Seulas senyum cerah menghiasi wajah Briel. Dia bahagia, akhirnya ia bisa membuat istrinya bahagia walau hanya dengan membuatkannya menu makan siang sederhana.


"Tapi kalau bukan karena itu, aku pasti tidak akan pernah kenal denganmu, tidak akan pernah menikahimu dan menjadikanmu sebagai istriku."


Gea terkesiap. Ia menghentikan aktivitas mengunyah makanannya. Ia menatap Briel. Begitupun juga dengan Briel. Ia menatap Gea dengan tatapan dalam. Gea bisa melihat tatapan itu dengan jantungnya yang berdebar begitu hebat, seakan–akan jantung itu ingin keluar dari tempatnya.


"Kalau hari itu aku mendengarkanmu, aku tak akan bisa bersamamu seperti ini. Aku tak akan bisa mengenal apa yang namanya cinta. Walau sampai sekarang aku masih belum sepenuhnya mengerti."


Gea bungkam. Lidahnya terasa kelu. Sulit sekali untuk mengucapkan sepatah kata pun. Rasa gugup telah menguasai dirinya. Ia hanya mampu menatap Briel.


Lama kelamaan, wajah Briel semakin mendekat ke wajah Gea. Jantung mereka sama–sama berdebar kencang. Semakin mendekat, semakin mendekat. Dan …


Tiba–tiba saja mereka berdua berjingkat. Mereka mendengar suara kursi yang tertabrak. Ternyata Adamlah yang menabrak kursi itu.


"Opss … maaf," ucap Adam dengan tampang polosnya.


Yeah … dia adalah Adam. Adam ingin menyampaikan sesuatu kepada Briel. Berulang kali ia menekan bel, namun tak kunjung ada yang membukakan pintu. Karena tak sabaran, Adam masuk tanpa ijin. Ia masih ingat password yang dipakai oleh Briel. Dan ternyata masih cocok.


Ketika ia masuk ke dalam, ia melihat Briel dan Gea berduaan. Ia merasa seperti salah masuk ruangan. Niat hati ingin pergi dari sana untuk memberikan ruang waktu untuk mereka berdua, malah tak sengaja ia menabrak kursi yang ada di dekatnya.


Briel mendengkus kesal. Ia merutuki kehadiran Adam yang mengganggu momen romantisnya dengan Gea.


"Ada apa kamu datang ke sini?!" tanya Briel kesal. "Main masuk saja tanpa permisi!" gerutu Briel.


"Hellow Bos. Aku sudah menekan bel yang ada di depan. Tapi tak ada yang membukakan pintu. Taunya eh … tahu begitu lebih baik aku pergi Bos!"

__ADS_1


Adam tidak tahu jika Briel tengah berduaan dengan Gea. Ia kira Gea tetap masuk kerja. Briel hanya mengatakan kalau ia tidak pergi ke kantor, sedangkan Briel langsung menyuruh orang lain untuk mengijinkan Gea tanpa memberitahu Adam. Tidak mungkin ia sendiri yang langsung mengijinkan, atau kalau sampai iya semuanya akan terbongkar kala itu juga.


"Makanya ajak kekasihmu untuk menikah! Biar gak mengganggu orang lagi."


Adam berdecak kesal. "Nanti!" jawabnya singkat tanpa mau menjelaskan panjang lebar.


Gea tertawa melihat interaksi antara atasan dan bawahan ini. Cukup unik di matanya. Tanpa menunggu lagi, Gea pamit pergi meninggalkan mereka berdua. Ia memberikan ruang waktu kepada mereka untuk membicarakan masalah terkait pekerjaan. Gea cukup sadar dengan apa yang harus ia lakukan.


Briel mengangguk saat Gea pamit. Briel melepas apron yang ia pakai, lalu mengajak Adam untuk ke ruangan depan, tempat di mana ia menerima tamu.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Briel kemudian.


Adam menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.


🍂


Sementara itu, di perusahaan Amerta Jaya, Davin tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia mendengarkan informasi yang disampaikan oleh orang suruhannya tentang siapa Gea. Sampai sekarang Larz tak kunjung mendapatkan info mengenai siapa Gea sebenarnya. Sedangkan Davin masih penasaran dengan identitas Gea.


"Apakah informasi itu akurat?" tanya Davin saat orang suruhannya selesai mengatakan apa yang ia dapatkan.


Davin tercengang mendengar fakta yang ia dengar. Ia tak menyangka, ternyata Gea adalah anak dari Edi Wiyarta, sang ayah mertua.


"Akurat, Tuan. Saya sudah menelusuri dari sumber terpercaya."


Davin mengangguk. Wajahnya terlihat gusar. Ia menyayangkan keputusan yang ia ambil. Seketika, muncullah keinginan untuk membawa Gea bersamanya lagi.


"Cari tahu lagi informasi yang lebih detail tentang dirinya!" perintahnya pada orang suruhannya.


"Baik Tuan."


Orang itu membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan sang tuannya.


🍂


//


Hai semuaaa ..... sembari menunggu kisah Gea up, kalian bisa mengunjungi karya uwuw dari othor kecee di bawah ini 😉💃




🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys


jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2