
"Kau masuklah terlebih dahulu. Aku mau menelpon istriku," ucap Briel pada Adam yang hanya mengeluarkan deheman kecil sebagai jawaban.
Briel menatap Adam yang menatapnya, menunggunya selesai melakukan aktivitasnya. Namun sebelum menekan nomor Gea, ia menatap ke arah Adam. "Apa lihatβlihat? Awas pengin. Sana masuk dulu!" usir Briel dengan candaan.
"Yeee ...! Dasar gak peka. Udah ditunggu tapi gak sadar diri!" gerutu Adam kesal.
"Bodo amat!"
Briel mendekatkan gawai di telinganya ia percakapan demi percakapan terlontar begitu saja dari bibirnya. Sedangkan Adam masih setia menunggu di sana, tak berniat untuk masuk terlebih dahulu.
π
"Pak ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap sekretarisnya yang telah diberitahu oleh resepsionis depan.
"Siapa?"
"Saya tidak tahu Pak. Beliau tidak mau menjelaskan identitasnya namun beliau hanya bilang jika dia adalah orang yang dekat dengan Anda."
Edi terdiam sejenak. Terlintas di pikirannya sosok Briel. Hanya dia orang terdekat yang tidak pernah datang ke kantor perusahaannya.
"Ada apa dia ke sini?" Satu kalimat tanya itu terucap begitu saja dalam batinnya.
"Suruh dia masuk!"
"Baik Pak."
Tak berapa lama, sang sekretaris kembali dengan dua orang di belakangnya.
"Silahkan Pak"
"Terima kasih"
__ADS_1
Briel membenahi stelan jasnya kala ia bejalan menghampiri Edi.
Suasana terasa begitu kaku kala mereka duduk bersama. Hubungan itu tak terasa seperti hubungan antara mertua dan menantu. Namun layaknua dua perusahaan besar yang ingin bekerjasama.
"Apa yang ingin kamu lakukan di sini?" tanya Edi memecah keheningan.
"Tidak ada. Tapi saya ke sini mewakili ayah saya yang tidak bisa ke sini sendiri untuk mengatakan kepada Anda kalau ada undangan makan malam di rumah besok malam, jika Anda berkenan. Kalaupun tidak kami tidak akan memaksa. Namun jangan sampai anda menyesal."
Tak ada keraguan di setiap ucapan Briel. Yang ada hanyalah ketegasan. Sedangkan Adam hanya diam di samping Briel. Kemanapun Briel pergi, dia akan selalu ada di sana.
"Baiklah, saya akan datang. Katakan pada Tuan Frans."
Briel mengangguk. "Bawa serta anak istri Anda yang lain."
Briel melakukan apa yang Frans minta. Namun kedinginan itu masih melekat dalam dirinya. Memang secara hubungan nyata, mereka berkaitan erat, namun secara hati, Briel masih belum bisa membuka hatinya untuk sang mertua. Edi pun merasakan hal tersebut. Namun ia tak mampu berbuat lebih lantaran ia sadar akan segala kesalahan yang ia perbuat.
π
"Hem?" sahut Briel dengan jari jemari yang membelai lembut surai Gea yang panjang itu.
"Harus ya?"
"Ya harus Gey. Bukankah kita sudah membicarakan semuanya?"
"Iya ... Tapi lihatlah tubuhku sekarang. Tak akan cantik lagi jika mengenakan gaun pernikahan lagi."
Gea meneliti tubuhnya sendiri. Semakin hari berat badannya bertambah. Pipi yang semula tirus kini telah menggembung. Imut, layaknya bakpau yang menempel di pipinya. Perutnya kini telah membuncit. Dan itulah yang membuat Gea tidak percaya diri dengan tubuhnya saat ini.
Tanpa menjawab apapun, Briel menghujani seluruh wajah Gea dengan ciuman penuh cinta. Jambang yang baru saja dicukur membuat Gea tertawa geli.
"Cukup Bayang, cukup!" Gea masih tertawa dengan tangan yang berusaha menahan wajah Briel agar berhenti menghujani wajahnya dengan ciuman. "Jawab dulu!" Gea memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Cup
"Bayaang ..." Gea berteriak malu sekaligus kesal. Namun ia menyembunyikan rasa malunya di balik rasa kesalnya.
Gelak tawa terdengar begitu renyah di kamar itu.
"Iya iya ... "
"Gak usah saja ya."
Gea menatap Briel dengan penuh harap. Ia terlalu memikirkan pandangan orang lain akan dirinya.
Briel membelai lembut wajah Gea, menatap lekat manik indah itu. "Tidak bisa. Harus tetap dilaksanakan. Resepsi itu telah kita bicarakan bersama Gey. Dan resepsi itu adalah bentuk permintaan maaf dariku karena pernikahan kita yang tidak meninggalkan kesan baik sedikitpun. Lagi pula, waktu itu Ayah sama Bunda dan juga Papamu belum melihat kita. Melihat kita di pelaminan itu adalah impian mereka Gey."
Briel mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Ia merasa bersalah karena pernikahan mereka bukanlah pernikahan impian. Meskipun tanggal belum ditentukan, namun ia memastikan bahwa ketika perut Gea membesar, saat itu juga acara harus berlangsung.
"Baβ"
"Ssssttt ..." Briel mengerti kekhawatiran yang Gea pikirkan. " ... jangan pikirkan hal yang tidak penting. Malahan, aku suka lihat kamu pakai baju pengantin dengan perut yang membuncit," ungkap Briel sembari membayangkan betapa imut dan seksinya Gea memakai gaun itu. Itulah hal yang sudah ia impikan. Ia ingin melihat Gea tampil beda dari pengantin lainnya.
Briel mengulas senyum tulus. "Kamu akan semakin cantik dan seksi saat itu Gey." Briel menyentuh ringan hidung Gea.
Senyum Briel menular pada Gea. Kini wajah itu kembali cerah, lantaran beberapa ucapan itu. Ternyata benar. Jika seseorang itu adalah jodoh yang telah Sang Penyedia siapkan, maka apapun yang dilakukan mampu menenangkan jiwa pasangannya. Bahkan hanya dengan sebuah kata ataupun perbuatan kecil saja hal yang semula terlihat begitu berat, akan terasa ringan begitu saja. Dan apapun yang melekat dalam diri pasangannya akan selalu dicintai bagaimanapun itu.
π
//
Happy reading gaees,
Jangan lupa bahagia π€ππ
__ADS_1