
Briel menatap Gea yang menghilang di balik pintu apartemen.
"Memang dia kerja apa, sampai ia begitu mencintai pekerjaannya?" tanya Briel dengan dirinya sendiri. Sebenarnya ia penasaran namun ia masih enggan untuk bertanya panjang lebar kepada Gea. Ia masih memerlukan waktu untuk membiasakan diri agar bisa lebih dekat dengan Gea.
"Oh iya Adam."
Briel mengambil gawainya dan menyuruh Adam untuk segera datang ke apartemennya.
🍂
"Geyy!!!" panggil Runi dari belakang Gea, saat Gea menaruh tasnya di loker. Gea berjengit kaget. Ia ngelus dadanya pelan.
"Apa sih Run?"
"Ciyee … pengantin baru …!
Runi memeluk Gea erat. "Selamat ya, Gey!" ucapnya sambil terus memeluk Gea. Runi bahagia melihat sahabatnya ini telah sampai pada jenjang pernikahan. Gea hanya tersenyum. Ia tidak tahu harus merespon Runi seperti apa.
"Bagaimana rasanya menikah? Apakah dia baik padamu? Apakah kamu tadi diantar suamimu?" ucap Runi sembari melepas pelukannya. Gea tak kunjung menjawab pertanyaan Runi. Ia bingung mau mengatakan apa. Ia tahu, bahwa yang dimaksud 'dia' adalah Davin. Gea hanya tergagap.
Runi menatap lekat sahabatnya itu. Ada sesuatu hal yang aneh pada diri sahabatnya itu. Gea tersenyum, namun tidak ada sepatah katapun yang Gea ucapkan. Hal itu membuat Runi curiga.
"Gey …" Ia menatap Gea semakin dalam. Gea mengerutkan dahinya.
"… kenapa kamu terlihat tidak bahagia Gey? Apa yang terjadi?"
Runi merasakan kejanggalan–kejanggalan itu. Ia mengingat saat ia bertelepon dengan Gea. Gea tidak mengucapkan apapun. Hanya sapaan saja yang terdengar di telinganya kemarin.
"Emm … bagaimana keadaan ibumu, Run?" Gea mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Rasanya kurang nyaman saat mulai membahas pernikahannya.
"Ia sudah membaik Gey … dan aku tahu kalau kamu berusaha mengindar dari pertanyaanku!" ucap Runi tanpa basa–basi.
Bukan Gea yang biasanya jika ia mengalihkan pembicaraan. Gea yang biasanya, akan menjawab sesuai pertanyaan, bukan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan yang bahkan tidak ada hubungannya dengan yang Runi tanyakan.
Runi menatap Gea dengan tatapan menyelidik. Gea merasa terhakimi oleh tatapan Runi. Gea yang tidak bisa menyembunyikan masalah hati pada sahabatnya ini pun akhirnya mengalah.
Gea menghela napas berat. "Baiklah … aku menikah, tapi bukan sama dia," ucap Gea. Runi membulatkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Gea.
"Bukankah mereka itu sepasang kekasih. Kenapa bisa? Kenapa bisa seperti itu? " batin Runi.
"Bu–buk—"
"Iya memang seperti itu!" Gea seakan tahu apa yang akan Runi katakan.
"Kok bisa Gey? Kamu ngeprank aku ya?" ucap Runi. Ia masih belum percaya dengan kenyataan yang Gea ucapkan. Logikanya menolak Runi untuk percaya.
__ADS_1
"Bisalah! Tidak ada yang tidak mungkin, Run. Buat apa aku ngeprank kamu? Tidak ada untungnya buat aku, Run."
"Eheeemm …!
Suara dehaman itu terdengar di telinga mereka. Sosok pria berpakaian rapi dan formal berdiri di belakang Gea. Mereka berdua mengalihkan perhatian mereka pada pria itu.
"Sudah rumpinya? Sudah waktunya bekerja!" perintah pria itu, yang tak lain adalah Heri.
Gea dan Runi menelan ludah kasar. Mereka tak menyangka jika mereka harus kepergok lagi oleh atasannya itu. Mereka menampilkan deretan gigi putih mereka.
"Maaf, Pak!" ucap Gea dan Runi bersamaan. Mereka segera pamit berlalu, untuk menjalankan tugas mereka karena memang sudah waktunya mereka kembali bekerja.
"Astaga ... dasar mereka!" ucap Heri. Sudah beberapa kali Heri memergoki Gea dan Runi malah mengobrol saat jam kerja. Ia menggeleng pelan, melihat kelakuan dua bawahannya ini sambil melenggang pergi.
"Apa yang terjadi Gey? Kenapa bisa seperti itu?" ucap Runi yang berjalan di sebelah Gea. Runi mengejar Gea dengan pertanyaan itu.
"Nanti akan aku ceritakan Run, sepulang kerja. Tapi di kosanmu saja."
Gea tidak mau mengambil risiko pembicaraannya di dengar oleh orang lain selain mereka. Akhir–akhir ini Gea harus lebih waspada karena ia merasa masih terus diintai oleh seseorang.
"Baiklah, Gey." Runi menyetujui Gea. Mereka bergegas melakukan aktivitas mereka seperti biasanya.
🍂
Sedangkan, di apartemen, Briel tengah menunggu Adam yang tak kunjung sampai. Ia tidak suka berurusan dengan menunggu orang terlalu lama.
Tak lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Briel segera membukakan pintu.
"Ck! Kurang lama, Dam!" ucap Briel kesal tatkala melihat Adam berdiri di depan pintu.
"Baiklah, Bos, kalau begitu aku akan pergi lagi!" ucap Adam. Ia membalikkan badannya untuk segera pergi lagi.
"Pergilah! Bonusmu gagal!" ancam Briel. Briel tersenyum licik. Briel mengetahui cara ampuh untuk mengancam spesias manusia pecinta rupiah seperti Adam.
"Dalam hitungan ketiga pasti dia akan berbalik. Satu, dua, ti ...."
"Astaga Bos, jangan dong, Bos," ucap Adam dengan wajah memelas. Benar dugaan Briel. Adam tidak rela jika bonus yang sudah Briel janjikan gagal berada di genggamannya. Dengan sigap Adam telah berada di hadapannya.
Briel memutar matanya malas. "Giliran persoalan tentang bonus aja gerak cepat!"
"Iya dong, Bos. Tidak ada yang bisa menolak bonus!" ucapnya dengan nada yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Briel. Briel menatap Adam dengan jengah.
"Masuk!"
Briel melenggang ke dalam. Ia menyuruh Adam untuk menutup pintunya.
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah dapat?" ucap Briel tanpa basa basi.
"Sudah, Bos."
Adam mengangkat map coklat berisi informasi tentang Gea. Senyuman itu terukir jelas di wajah Adam. Siapa sih yang tidak bahagia ketika bonus akan segera berada di genggamannya?
"Jelaskan!"
"Dia adalah Gea Agatha, seorang wanita—"
"To the point aja Dam. Aku juga tahu kalau dia wanita," pungkas Briel. Ia sudah tidak sabar mengetahui info apa yang Adam dapatkan.
Adam berdecak kesal. "Sabar, Bos, sabar!"
"Umurnya 21 tahun. Wanita yang hidup mandiri, bekerja di Mega Raya Group sebagai seorang cleaning service. Ia mempunyai seorang kekasih bernama Davin Angkara. Namun ia dikhianati tepat di hari pernikahannya."
Adam memaparkan apa yang ia dapatkan. Namun wajahnya menunjukkan sesuatu hal yang masih kurang. Hal itu membuat Briel bertanya–tanya. Briel mengelus pelan dagunya sendiri.
"Dari data yang saya dapatkan, istrimu adalah wanita yatim piatu. Namun saya menemukan kejanggalan yang bisa saja membuktikan bahwa sebenarnya dia bukan wanita yatim piatu."
Briel juga merasakan hal yang sama. Ia teringat bahwa Gea tidak mau menceritakan siapa keluarganya. Ia juga yakin kalau orang tua Gea masih hidup.
"Cari tahu Dam sampai tuntas. Aku juga merasakan kalau dia masih mempunyai keluarga. Laporkan padaku secepatnya!"
"Baik, Bos!"
"Jangan lupa transferannya, Bos."
Lagi–lagi ucapan Adam membuatnya kesal. Ia tidak habis pikir dengan pikiran Adam yang isinya itu uang, uang, dan uang. Adam menaik–turunkan kedua alisnya.
"Ck! Iya–iya!" ucap Briel kesal.
"Untung cara kerjamu cepat! Kalau tidak sudah saya pecat kamu!" gerutu Briel kemudian.
Bukannya marah, Adam malah menampilkan senyumannya yang begitu menyebalkan di mata Briel.
"Bos, Ayah memintamu untuk datang ke rumah sakit sekarang. Beliau berpesan itu kepadaku."
"Ayok berangkat ke sana!" ucap Briel sambil berjalan mendahului Adam.
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕