
Briel menawarkan kehangatan yang mungkin Gea butuhkan. Gea menatap Briel ragu. Kemudian Briel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum untuk meyakinkan Gea. Tanpa berlama–lama lagi, Gea meringsut ke dalam dekapan Briel. Ia menumpahkan segala kesedihan di sana. Rasa hangat itu membuatnya tenang dan nyaman. Ia merasa dilindungi dan disayangi kembali.
Beberapa saat Gea menikmati rasa itu. Briel mengelus kepala belakang Gea dengan lembut. Sesekali ia mencium pucuk kepala Gea.
"Jangan bersedih lagi, Gey. Jangan sakit."
Gea mengangguk di dalam dekapan Briel. "Kalau begitu, jangan sakiti aku, Bang."
"Saya tidak akan pernah berjanji, namun saya akan berusaha semampu saya."
Briel melepaskan dekapannya. Dia menatap Gea lagi. Ada sesuatu yang membuatnya masih penarasan.
"Tadi kamu menceritakan kalau Dela itu saudara satu ayah, tapi kenapa dia bisa menjadi kakak kamu?"
Briel bertanya lagi dengan hati–hati agar tak menyinggung perasaan Gea. Gea memejamkan matanya lalu kembali mengingat fakta apa yang telah ia ketahui.
"Karena dia adalah kesalahan Papa di masa lalu. Aku mengetahuinya belum lama ini. Dulu aku mengira dia memang saudara kandungku. Tapi Mami Clara yang mengaku sendiri saat aku melihat foto Papa bersama dengan Mama Anna."
"Tapi ternyata aku salah. Aku masih sedarah. Aku dibantu kak Bima, kakak sepupuku untuk mencari informasi tentang masa lalu Papa dan semuanya. Ternyata Mami adalah sekretaris Papa. Jadi waktu itu Mama Anna belum hamil padahal usia pernikahan mereka sudah dua tahun berlalu. Hingga sang sekretaris yang tak lain adalah Mami Clara ternyata telah menaruh hati pada Papa."
Gea menjeda ucapannya. Rasa dahaga membuatnya tenggorokkannya kering. "Bang minta minumnya. Haus …" Gea menyengir, memperlihatkan giginya.
"Nah … tapi ini bekas saya." Briel memberikan gelasnya.
"Tak apa. Lagian tidak akan bisa membuatku mati."
Gea meminum air itu hingga tandas. Ia menyerahkan kembali gelas kosong itu kemudian kembali bercerita.
"Mami Clara ingin membuat Papa menghamilinya agar Papa memilihnya dan segera meninggalkan istri sahnya. Tapi saat itu Papa begitu mencintai mendiang Mama Anna. Lagi pula Mami Clara memasukkan obat ke dalam minuman yang dibawakannya untuk Papa. Alhasil Papa menyembunyikan Mami Clara dan anaknya agar tak ketahuan Mama Anna."
"Selang beberapa bulan setelah kelahiran Dela, Mama Anna hamil aku. Maka dari itu usia kami terpaut satu tahun. Namun ternyata, Mama Anna meninggal saat ia melahirkanku. Aku tidak tahu penyebabnya apa. Di saat itulah, Mami Clara mulai masuk ke dalam keluargaku. Awal mulanya kehadiran Mami Clara ditolak oleh kakek. Namun karena Papa bisa meyakinkan kakek jadi ya dia bisa diterima dan dia juga yang membesarkanku," jelas Gea.
"Apakah kamu tidak benci dengan mereka?"
"Dulu tidak. Karena bagaimanapun juga aku tidak tahu apa–apa dan Mami Clara juga membesarkanku dengan baik. Yeahh walaupun semuanya terungkap setelah kakek tiada. Dan kalau sekarang … aku tidak tahu. Karena bagaimanapun juga dia telah membagi kasih sayangnya untukku hingga aku bisa merasakan bagaimana kasih seorang ibu walau semuanya hanyalah topeng." Gea masih bisa tersenyum. Ia mengingat masa bahagianya bersama ibu tiri dan kakaknya. Tapi justru rasa bahagia itu yang menimbulkan luka yang besar di hatinya.
"Astaga, Gey … kisah hidupmu memang tak bisa kutebak. Dan pantas saja informasi mengenai dirimu sangat sulit dilacak. Ternyata ada seseorang yang berbakat ada dibelakangmu. Bahkan ia bisa mengorek masa lalu yang disembunyikan rapat oleh Tuan Wiyarta," batin Briel setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Sampai itu saja ya, Bang aku ceritanya," batin Gea. Ia masih belum bisa mengungkap tentang siapa dirinya. Ia menatap Briel yang tengah termenung. Mungkin dia sedang mencerna cerita yang Gea ungkap, pikir Gea.
Mereka saling terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing–masing. Gea berusaha untuk membuat hatinya membaik.
"Lalu bagaimana denganmu, Bang?" Gea memecah keheningan yang ada. Gea penasaran dengan hidup Briel.
"Bagaimana apanya?" tanya Briel kembali. Ia berniat untuk membuat Gea jengkel.
"Bagaimana dengan hidupmu?"
"Ya begini–begini saja," jawab Briel dengan santainya. Jawaban itu membuat Ges kesal. Bukan itu jawaban yang ia mau. Ia menatap Briel dengan tatapan penuh ancaman. Briel malah tertawa. Entah mengapa, kekesalan Gea selalu saja menjadi hiburan baginya.
__ADS_1
"Iya–iya, Gey …" Briel berusaha meredam tawanya. Briel memperbaiki posisi duduknya lagi.
"Saya mengelola perusahaan keluarga yang ada di Jerman sejak saya menginjak pada usia 22 tahun. Ayah yang meminta saya karena ia tidak mau meninggalkan Bunda yang masih ingin tinggal di negara ini. Sekarang saya akan menginjak usia tiga puluh tahun."
"Benar benar terpaut cukup jauh, hampir sembilan tahun" gumam Gea lirih.
"Bicara apa kamu, Gey?" Briel memicingkan matanya.
" Ya … aku bicara kalau umur kita terpaut cukup jauh," jawab Gea santai. Briel memutar matanya malas. Ia mengakui kalau umur mereka berbeda jauh. Namun itu tidak perlu disebutkan bukan. Ia selalu kesal jika membahas umur dengan orang yang lebih muda dengannya.
Pletak
Briel menyentil ringan kening Gea. "Pikirannya dijaga. Sekarang saya mau tanya. Siapa tadi yang lupa dengan namaku? Sudah jelaskan yang sudah tua siapa?"
"Ahh terserah lah, Bang. Lanjutkan saja ceritamu," ucap Gea yang masih mengusap keningnya yang cukup sakit karena ulah Briel.
"Sudah itu saja."
Tidak ada lagi hal yang ingin Briel ceritakan. Ia mengambil gelas airnya lalu meminumnya lagi.
"Astaga airnya sudah habis," keluh Briel. Ia lupa karena sebelumnya air miliknya telah habis diminum Gea. Seketika hal itu mengundang tawa Gea. Tawa itu juga menular padanya. Mereka tertawa bersama.
"Terbukti itu ... Abang sudah tua," ledek Gea yang masih tertawa.
Briel membiarkannya Gea berbuat sesuka hatinya untuk saat ini, jika itu bisa mengalihkan sedikit luka Gea.
"Lalu, kenapa kamu menikahiku tiba–tiba?"
Pertanyaan Gea membuat Briel terdiam. Dia masih belum bisa menjawab semuanya.
"Ya–ya gak tahu. Kebetulan aja kamu di sana," jawab Brie asal.
"Maafkan aku Gey, aku masih belum bisa memberitahumu. Karena ini semua belum jelas kelanjutannya," ucap Briel dalam hati. Dia belum berniat untuk membicarakan tentang masalah ini pada Gea.
"Ooo … asal ya, Bang. Enak aja kamu asal menikahiku! Kalau begitu ceraikan saja aku!"
Gea beralih duduk membelakangi Briel. Ia marah dengan jawaban yang keluar dari mulut Briel. Ia tidak habis pikir. Kenapa ia tidak diinginkan, dan bahkan dinikahi seseorang dengan asal?
"Gey … Saya hanya bercanda. Jangan marah ya …" Briel mendekat dan memeluk Gea dari belakang. Gea tersentak kaget dengan perlakuan Briel.
"Berapa kalipun kamu meminta cerai dari saya, saya tidak akan pernah membiarkanmu pergi."
Gea berbalik badan kemudian melemparkan bantal yang dari tadi dia pegang ke dada bidang Briel.
"Dasar gombal!" Gea tertawa terbahak–bahak. Ia berhasil menjahili Briel. Gea tadi hanya berpura–pura marah. Karena ia tahu, ada sesuatu yang belum bisa Briel katakan. Walaupun berbagai pertanyaan melintas di benaknya, namun Gea menghargai keputusan Briel. Tapi Gea juga heran, mengapa mulut pria itu sangatlah manis, bahkan lebih manis dari pada madu.
"Wah … sudah mulai nakal ya? Sini–sini yang mulai nakal." Briel menerkam Gea. Ia menggelitiki pinggang Gea. Gea berteriak meminta ampun agar Briel melepaskannya.
"Bang … lepaskan, Bang. Aku capek, aku gak kuat."
__ADS_1
Gea tidak tahan dengan rasa geli dari gelitikan Briel. Gea sudah menyerah. Akhirnya Briel melepaskannya. Namun ….
"Yaaa …" Gea berganti menggelitiki Briel. Briel berteriak meminta agar Gea melepaskannya.
"Astaga Gea … ahahahaha … lepaskan Gey … hahaha … geli …"
Gea menggelitiki Briel sampai Briel terlentang di sofa.
Grep
Tangan Gea tak bisa bergerak. Briel telah mengunci pergelangan tangan Gea lalu menarik Gea hingga tubuh Gea terjatuh di atas tubuhnya. Ia menatap lembut netra Gea. Gea diam mematung. Bagaikan diiringu musik disko, jantung Gea menari–nari dengan cepat.
"Astaga jantungku … Aihh kenapa dia tampan sekali?" batin Gea. Ia mengakui ketampanan Briel yang bahkan tak pudar termakan usia. Dadanya mulai sedikit sesak, ia menahan nafasnya. Nafas hangat Briel menerpa wajahnya. Harum mint sangat menyegarkan.
"Ahh malunya diriku. Pasti dia dapat merasakan kencangnya degup jantungku …" batin Gea meringis malu.
Briel tersenyum. Ia dapat merasakan degup jantung Gea yang sama cepatnya dengan degup jantungnya
"Apakah kamu masih mau tahu kenapa saya tidak menggunakan kata aku?"
Gea mengangguk pelan. Dia juga ingin mengetahui jawaban tentang ini.
"Karena saya akan mengatakan aku setelah ini."
Gea memicingkan matanya. Ia bingung dibuatnya. Bagi Gea, ucapan Briel itu adalah teka–teki untuknya yang dia sendiri tidak bisa menerka.
"Apa maksudnya? " batin Gea.
🍂
//
Hai hai haii... hari ini Asa kembali up lagi 🤭 tanggung juga kalau nggak up nanti kalau pada penasaran, aku takut digentayangi mbak kun yang ada di apartemennya Bang Briel 😂
(Maaf mbak kun, namamu tak bawa lagi 😄😄)
Semoga pertanyaan mengenai masa lalu hidup Gea sudah bisa terjawab di sini ya... 🤗🤗
Salam receh jadi utuh
🤝🤝
🍂
//
Happy reading guys
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1