
"Kenapa mukamu seperti itu?" ucap Adam menyadari keanehan pada diri Runi. Ia menatap Runi dengan tatapan menyelidik.
"Tidak Bos."
"Aduh tamatlah riwayatku," batin Runi yang kian cemas.
Runi mencengkeram kuat nampan yang ia pegang dengan ibu jarinya. Gigi–giginya menggigit–gigit kecil di balik bibir yang menutupi keberadaanya. Bahkan ibu jari kakinya turut menari gelisah di balik sepatu kerjanya yang membungkus cantik kakinya.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Adam menelisik, mencari kebohongan yang mungkin saja Runi sembunyikan.
"Ti–tidaklah Bos. Mana mungkin aku berani membohongimu," ungkap Runi tergagap. Sungguh hal ini tidak termasuk dalam rencananya semula. Ingin sekali ia melarikan diri dari sana.
"Kau tidak menaruh racun pada kopiku kan? Atau kau malah menaruh siiaaniidaa atau zat racun lainnya yang tidak berbau jadi aku tidak bisa mendeteksi keberadaan racun itu dari baunya?"
Adam menatap Runi dengan tatapan menelisik. Ia sadar akan dendam kesumat yang Runi miliki untuknya dan begitupun juga dengan dirinya. Jadi hal yang wajar jika ia sedikit menaruh rasa curiga pada Runi. Atau bahkan masih wajar jika ia terlalu curiga.
"Bos yang baiknya luar biasa..." sindir Runi. Mimik wajahnya yang tersenyum begitu kontras dengan hatinya yang kian memanas. "... mana mungkin saya berani membunuh atasan saya sendiri? Saya masih belum sukses masih butuh cuan dari Anda," lanjut Runi tanpa sedikitpun hal yang ditutupi. Tentunya kebenaran dari ucapannya akan cuan, bukan dengan kebohongan yang ia putar–putarkan.
Runi tidak peduli dengan sikapnya terhadap Adam walaupun Adam adalah atasannya. Adam memang pantas mendapatkannya. Memang menjadi penjilat saat berhadapan dengan atasan diperlukan, namun tidak berlaku pada Adam. Sampai kapan pun juga Adam tidak akan pernah bisa mendepaknya dari perusahaan itu. Ia masih memiliki Gea. Lagi pula Gea tahu bagaimana dirinya. Jadi seandainya Adam bertindak, Gea tidak akan langsung percaya begitu saja.
Adam menghirup kembali aroma kopi dengan uap yang masih mengepul. Matanya tidak terlepas dari Runi. Ia menatap Runi horor.
Bersikap bodo amat adalah hal yang wajib Runi lakukan, meskipun dalam hatinya tetap saja ia khawatir.
"Kau dulu yang minum."
Adam menyodorkan kopi itu kepada Runi. Ia tidak mau hilang nyawa setelah meminum kopi itu.
Runi menggeleng cepat. "Saya tidak minum kopi Bos. Asam lambung saya tinggi."
Adam memutar bola matanya malas. "Alasan!" Ia tidak percaya dengan ucapan Runi.
"Swear Bos, tidak bohong. Kalau tidak percaya obatnya sering saya bawa di tas saya," ucap Runi mencoba meyakinkan.
"Ya ya ya ya..." Adam pada akhirnya percaya.
Runi tersenyum dalam hati. Obat lambung yang sering dia bawa adalah milik Gea yang dahulu pernah titip di tas Runi dan dia tidak pernah mengambilnya lagi.
Adam mulai menyeruput kopi itu. Adegan itu seperti rangkaian gerakan yang di–slow motion.
Srrruuulllp
"Mbuaaahhhhh"
__ADS_1
Adam menyemburkan kopi yang ia minum. Lidahnya benar–benar menolak rasa kopi itu. Bahkan jika ada daftar hitam, ia akan memasukkan kopi buatan Runi ke dalam daftar hitam yang tidak akan pernah ia sentuh sedikitpun. Rasanya pedas dan asin. Siapapun pasti tidak akan pernah bisa minum kopi dengan rasa yang seperti itu.
"Kau beri apa pada kopi yang kuminum Runiii!!" Kini Adam telah naik darah. Ia meneriaki Runi kala itu juga. Runi hanya berjengit kaget dengan mata yang menutup.
"Saya tidak memberikan apapun yang aneh, Bos," ungkap Runi yang masih berkilah.
Adam tersenyum sarkastik. "Kalau berbohong jangan bodoh–bodoh amat! Kelihatan bodohnya."
"Saya memang tidak bohonglah Bos."
Runi masih membela dirinya sendiri. Walaupun ia sudah ketahuan namun sebisa mungkin ia berusaha agar tidak terlihat salah.
"Ini apa ini?! Yang ada aku mati karena minum kopi buatanmu!" Adam menunjuk kopi pada cangkir yang masih ia pegang. "Haaiihh... Kalau saja aku tega, sudah ku minumkan paksa!" gerutu Adam.
"Ooo karena garam dan lada ya..." ucap Runi dengan santainya. Ia memang tidak memberikan gula sedikitpun dan ia tidak berniat menunjukkan kesalahannya.
Adam semakin kesal dengan sikap Runi. Tidak ada sedikitpun penyesalan yang Runi tunjukkan bahkan dengan santainya Runi berucap.
"Enak saja kau bicara ya!!!"
Dada Adam kini mengembang dan mengempis. Amarahnya sudah di ubun–ubun dan siap untuk meledak.
"Ya kan itu sesuai dengan kebutuhan Bos saat ini. Dan kopi itu adalah racikan yang bisa membuat Bos kembali bugar. Kurang percaya cari aja di google."
Tanpa menunggu lagi, Briel membuka benda pipih canggihnya. Jarinya mulai berselancar dalam dunia perinternetan dengan lancar. Ia mulai mencari kebenaran dari apa yang Runi katakan. Kebenaran yang ia yakin adalah sebuah kebohongan besar yang kemungkinan besar hanya untuk mengisengi dirinya.
Runi menanti dengan harap–harap cemas. Pasalnya ia juga tidak tahu dan mencari kebenaran dari apa yang ia ucapkan. Bahkan untuk hanya sekadar tahu dari "katanya" saja ia tidak pernah.
Sebuah artikel telah terbuka. Adam menautkan kedua alisnya. Lantas ia menatap Runi dengan tatapan penuh selidik.
"Dari mana kau tahu tentang ini semua?" tanya Adam. Ia masih curiga dengan niat Runi.
"Dari ... mmm dari nenek moyang saya, Bo–Bos." Bahkan Runi tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Adam kembali melihat artikel yang ia buka. Khasiatnya begitu banyak mulai dari menjaga kekebalan tubuh, meredakan sakit tenggorokkan, meredakan migrain, menambah semangat, menambah stamina dan masih banyak lagi.
Seketika terlintas ide jahil. Adam tersenyum miring.
"Ooo ... dari nenek moyang ya..."
Runi mengangguk mantap.
Adam mulai berjalan perlahan mendekati Runi. Runi menelan ludahnya susah payah. Ia mulai was–was, berpikir apa yang sebenarnya ingin Adam lakukan.
__ADS_1
"Hmmm ... kalau begitu ... Kau juga harus meminum kopi ini." Adam menaikkan sebelah alisnya licik.
"Ka–kan saya tidak minum kopi, Bos," ucap Runi menegaskan ketidakmauannya.
"Menurut artikel yang saya baca ... racikan kopi ini sangat sangat cocok untuk penderita asam lambung yang tinggi. Kau mengidapnya bukan?"
Adam tersenyum licik. "Berani–beraninya kau membodohiku, Runi," gumamnya dalam hati. Ia tahu jika Runi sengaja mengisengi dirinya. Dan kali ini Runi harus merasakan jebakannya sendiri.
"Tapi–"
"Tidak ada kata tapi. Kau juga harus merasakan racikan kopi yang sangat berkhasiat untukmu juga."
Adam memotong pembicaraan Runi. Ia menunjukkan artikel yang ia baca.
Susah payah Runi menelan ludahnya sendiri. Tenggorokkannya mendadak kering. Kali ini ia tidak bisa menghindar lagi. Ia meratapi nasibnya yang begitu sial. Inilah definisi senjata makan tuan.
"Minumlah"
Adam tersenyum licik. Senyum itu penuh dengan kemenangan.
Runi menerima cangkir itu ragu. Ia meminumnya sedikit demi sedikit.
"Eeeekkkhhh ..." Runi menyengir. Rasa kopi itu begitu menyiksa lidahnya. Sedangkan Adam mengibaskan jas yang ia pakai sebagai simbol kemenangan. Runi kini harus menelan pahit jebakannya sendiri.
Kau belum cukup pintar untuk membodohiku, Runi.
Begitu kira–kira yang Runi tangkap dari ekspresi yang Adam tunjukkan.
🍂
//
Kebayang gak kalian dengan rasa kopi itu 🤣🤣 astagaa ...
Btw kalau ada yang salah mohon dibenarkan ya. Soalnya Asa juga cuma tanya mbah gugel yang ternyata kebetulan juga ada 🤭
Terima kasih semua
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia