
"Kamu kenapa Gey?" tanya Runi pada Gea yang kini tengah berpikir.
"Emm ini Run ... Aku dan Bayang mencari baby sitter, tapi kami belum menemukan baby sitter yang cocok untuk kami." Gea mengungkapkan keluh kesahnya. Ia bingung ke mana lagi ia bisa menemukan seseorang yang bersedia ikut merawat anaknya.
Runi mengangguk–angguk. "Mmm susah juga sih... Tapi kamu sudah mencarinya ke berbagai yayasan penyalur pekerjaan itu?" tanya Runi.
Setahu Runi, banyak yayasan yang menyediakan jasa baby sitter. Mereka yang butuh tenaga itu tinggal menghubungi mereka dan mereka akan memberikan pegawai profesional yang telah tersertifikasi.
"Sudah. Tapi belum ada yang kosong." Sudah berulang kali Gea menghubungi mereka, namun mereka masih belum memberikan konfirmasi apapun. Ada satu, tapi ternyata sudah ada orang yang membutuhkannya terlebih dahulu.
"Apa kamu ada kenalan gitu yang bisa jaga bayi, Run?"
Seingat Gea, Runi berasal dari kampung. Tidak harus profesional, asalkan mau bekerja dan suka anak kecil sudah masuk kriteria yang ingin mereka pekerjakan.
"Tidak ada Gey. Lagi pula misalpun ada, mereka di kampung semua. Tidak ada yang bisa kuhubungi lagi nomornya."
Sudah bertahun–tahun ia lost kontak dengan teman–temannya. Semenjak ia merantau, teman–temannya pun satu persatu sudah mulai membina rumah tangga bahkan sudah ada yang mempunyai 2 anak di pernikahan mereka.
Gea menghirup napas dalam–dalam. Rupanya ia dan Briel memang harus mencari lebih lama untuk mendapatkan mereka.
"Aduh aduh si kecil Oyo ..." Runi membelai lembut pipi Rio yang kini tengah menguap. Imut dan unyu. Tingkah bayi selalu saja membuat Runi gemas.
"Iiiii ingin sekali aku mencubit pipimu yang gembul ini, Rio," ungkap Runi gemas. Runi telah menggerak–gerakkan tangannya seperti ingin menguyel–uyel pipinya.
"Hei jangan macam–macam dengan anakku!" ucap Gea dengan Nino yang ada di gendongannya. Gea tidak rela jika anaknya dijadikan objek kegemasan oleh Runi. Gea memberikan peringatan keras.
🍂
Wow rumahnya kayak istana ..." ucap seorang wanita yang datang dengan tas yang cukup besar yang ia bawa.
Ia mulai bertanya kepada satpam. Ia langsung masuk mencari sang majikan.
Siang hari di hari itu terasa panas dari pada biasanya. Gea telah menyalakan AC namun tetap saja ia merasakan dahaga.
Sesampainya di dapur, Gea mengisi botol minumnya dari jumbo. Ia mengisinya hingga penuh. Dari dapur terdengar suara samar beberapa orang tengah bercakap–cakap.
"Untuk kamar kalian, kalian bisa menempati ruangan yang ad di belakang. Untuk apa–apa, kalian bisa minta bantuan Bi Siti," ucap Tere. Akhirnya apa yang ditunggu–tunggu telah sampai di sana. Ia menunjukkan di mana kamar mereka.
Gea yang mendengar hal itu lantas pergi untuk melihat mereka. Gea hanya mengangguk ringan melihat mereka telah sampai di kediaman Yohandrian.
__ADS_1
"Eh Gege, kok ke sini. Bagaimana dengan mereka?" tanya Tere tiba–tiba.
"Ada kok, Bun, mereka tidur," jawab Gea. Sedetik kemudian ia menatap ke arah dua wanita berseragam yang sama. Gea mengangguk angguk.
"Ini dia ibu dari bayi," ungkap Tere menjelaskan. Kedua wanita itu menunduk sopan. Mereka memperkenalkan diri mereka.
"Minah"
"Dini"
Mereka memperkenalkan diri mereka bergantian. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Gea.
"Baiklah kalian bisa beristirahat terlebih dahulu. Seusai itu kalian nanti bisa mulai bekerja," ucap Gea.
"Baik, Nyonya."
🍂
Kini ruangan yang sebelumnya kosong telah terisi. Kamar bayi itu telah selesai di dekorasi sesuai kemauan mereka. Briel rela menggunakan jasa design interior untuk menata semuanya. Mereka tidak cukup waktu untuk mengatur kamar si kecil.
"Mbak tolong geser kuda–kudaan itu ke kiri." Gea menunjuk dua kuda–kudaan yang ada di sana. Ia cukup terganggu dengan tata letak kuda–kudaan itu.
"Ke sini, Nyonya?"
Setelah dirasa cukup mereka ia kembali ke kamar utama. Dini mengikuti langkah Gea.
"Apakah mereka sudah tidur?" tanya Gea pada Minah yang menemani anaknya.
"Belom Nyonya. Mereka masih menggeliat–menggilat," ungkap Minah. Minah menatap mereka dengan penuh kasih sayang.
"Kalai gitu, ayo kita bawa mereka ke sana," ajak Gea. Ia ingin mengenalkan kamar baru itu pada kedua anaknya.
Tiba–tiba gawai Gea berdering. Gea bergegas mengambil benda pipih canggih itu. Tertera nama Edi di layar utama.
"Iya, Pa, hallo" sahut Gea pada orang di seberang sana.
"Iya, Pa, ke sini saja. Gea pasti selalu di rumah."
Edi memastikan anaknya itu di rumah. Pasalnya ia begitu kangen dengan si kembar. Seusai itu, mereka mengakhiri percakapan mereka.
__ADS_1
"Mbak tolong jaga mereka ya. Aku ingin memompa ASI–ku untuk mereka."
"Siyap Nyonya," ucap mereka bersamaan.
Gea meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke kamar. Gea ingin memberikan hal yang sama secara bersamaan untuk kedua puteranya. Ia tidak akan membiarkan salah satu di antara mereka kekenyangan atau bahkan yang satunya kelaparan.
🍂
Di kontrakan, kini Dela dan juga Gaza duduk di teras rumah. Mereka menyediakan minuman untuk mereka sendiri. Gaza dengan secangkir teh sedangkan Dela dengan segelas susu ibu hamil.
Mereka saling terdiam, sibuk dengan dunia mereka sendiri. Duduk bersama hanyalah ritual yang mereka lakukan.
"Kamu tidak mau melihat keponakanmu?" tanya Gaza tanpa basa basi. Ia menatap ke depan tanpa menoleh ke arah Dela.
"Gaklah. Biarkan mereka hidup dengan hidup mereka dan aku hidup dengan hidupku," ucap Dela sok bijak.
"Sekarang gak nafsu maksudnya. Aku dah capek dengan hidupku sendiri. Nanti deh kalau mau aku ngerecoki mereka, aku mau julid. Aku benci melihat mereka tertawa lepas," ucap Dela dengan masih terus meminum sesekali susunya. Tersirat begitu dalam kebencian dalam sorot mata Dela.
Gaza mengangguk pelan. "Papimu." Gaza menoleh ke arah Dela. "Apakah kamu tidak rindu padanya?"
Dela diam sejenak. Ia seperti orang yang tengah berpikir. "Enggak ... maybe," ucapnya ragu. Ia belum bisa membedakan rasa yang ia rasakan saat ini. Ia masih merasa baik–baik saja tanpa adanya rasa rindu yang mendominasi. Dan kemungkinan terbesar adalah, dia tidak menyadarinya.
"Ah entahlah," ucap Dela. Dela sendiri ragu akan ucapannya sendiri. Ia berdiri dengan cangkir yang masih ia bawa.
Gaza menarik napas dalam, diam, lantas berbicara, "Tapi sebelum terlambat, lebih baik kau datang padanya," ucap Gaza.
Dela tak menyahut. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang jelas rasa gengsinya begitu besar.
"Ck gak usah ceramah di sini. Gak ada umatnya. Mending kamu urusin hidup kamu."
Dela mengucapkannya dengan ketus
Gaza menyerah. Kata–kata itu membuatnya berhenti untuk ikut campur lebih jauh.
Sebenarnya banyak hal yang membuat Dela kepikiran. Antara egonya yang tinggi dan takutnya penolakan dari mereka. Dela tidak akan pernah siap dengan kata penolakan meski itu halus sekalipun. Namun untuk saat ini, ia ingin memakan gengsi itu sendiri. Lagi pula ia tidak tahu di mana ayahnya tinggal sekarang. Setahunya rumahnya yang dulu telah disita.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading, gaess,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕