
Seorang wanita dengan tubuh yang gemetar ketakutan, keluar dari mobilnya. Wajahnya terlihat pucat pasi. Bahkan untuk berjalan saja terlihat sangat lemas.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat kejanggalan pada diri putrinya itu.
Dengan cepat ia menggeleng. Bahkan ia lupa untuk menatap mata sang lawan bicara. Hal itu membuat sang lawan bicara khawatir. Ia menyentuh pundaknya.
"Ayu …"
Yeahh … dia adalah Ayu. Ia berjengit kaget. Bahunya sedikit terangkat. Ayu menatap wanita paruh baya yang tak lain adalah mommynya.
"Iya, Mom?"
Ayu mendadak linglung. Ia tak mendengar pertanyaan yang telah terlontar dari bibir Selly. Ternyata Ayu masih membayangkan kejadian di perjalanan tadi. Dan ia berusaha menghalau agar kilasan–kilasan itu tak kembali dengan menggeleng. Selly mencoba bersabar demi anaknya itu agar ia juga bisa mengetahui apa yang telah terjadi.
"Kamu kenapa?" tanya nya lembut. Ia tak mengerti dengan sikap anaknya yang janggal itu.
"Oh … itu, Mom. Em .... Ayu tidak apa," jawab Ayu sembari mengulas senyum terpaksa. Ia berbohong pada Selly. Kebohongan itu nampak jelas di wajahnya. Bahkan ia pergi meninggalkan Selly tanpa menunggu jawaban Selly.
Selly tak menanyakan lebih lanjut. Ia membiarkan Ayu menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Kenapa dia, Mom?" tanya Davin yang datang dari belakangnya. Kebetulan, ia pulang ke rumah itu sebentar, mumpung Dela pergi ke luar. Sedari tadi ia melihat gelagat Ayu yang aneh. Ia penasaran kenapa dan bertanya kepada Selly.
Selly mengedikkan bahunya. "Gak tahu tuh, Vin. Adikmu terlihat aneh. Kenapa sih dia?"
"Astaga ... dia kan anak Mom bukan anakku. Davin aja baru sampai, kenapa tanya Davin?" ucap Davin balik. Ia benar–benar tak mengetahui penyebab kenapa Ayu seperti itu.
"Kalau sudah tahu Davin gak bakalan tanya Mom," lanjutnya lagi.
Selly berdecak kesal mendengar jawaban Davin yang menyebalkan. Selly juga memutar bola matanya dengan malas karena memang benar adanya.
"Mom tidak bersenang–senang?"
Ia heran mengapa Selly sudah di rumah padahal masih sore. Biasanya Selly akan pulang malam jika tak ada acara yang membuatnya harus di rumah.
"Malas, Vin. Lagian juga sulit, karena mommy harus menyiapkan seribu rencana agar tidak ketahuan publik. Nah kalau Daddymu itu enak. Dia tiap hari sama madunya. Sedangkan mommy? Errr …"
Selly merasa tak adil dengan apa yang ia alami, sedangkan suaminya dengan bebas bisa bersenang–senang.
"Ahh sepertinya memang semesta sulit untuk memihakku," gerutunya kemudian.
Davin hanya menggeleng–geleng. Ternyata kebiasaan kedua orang tuanya itu masih berlanjut hingga saat ini. Selly terbuka dengan Davin karena Selly tahu Davin tahu. Dan Davin tak mempermasalahkan hal itu karena kedua orang tuanya sama–sama sepakat.
__ADS_1
"Kenapa tidak membawa lelakimu ke sini saja, Mom?"
Selly menghela napas dalam.
"Gak bisa tiap hari, Vin. Ada Ayu yang seringnya di rumah. Mommy bisa bawa dia kalau Ayu pergi seharian," keluh Selly.
"Ya sudahlah terserah Mommy. Yang jelas aku mau tidur sebentar lalu pulang. Bosan juga di apartemen sendiri kalau istri tidak di rumah."
"Jiaelah yang gaya–gayaan ada istri. Biasanya aja clubbing," ledek Selly.
"Biarin saja. Males, Mom. Nanti aja kalau udah pengin ke sana lagi."
Davin berlalu meninggalkan Selly di sana.
Sementara itu di dalam kamar, Ayu melempar sling bag–nya ke atas ranjang empuknya. Bahkan sepatu yang ia kenakan hanya ia lempar ke sembarang tempat. Ia membanting tubuhnya sendiri ke tempat tidur. Tubuhnya bergerak sesuai gerakan tempat tidur yang empuk itu.
"Ahh …."
Ayu mencoba memejamkan matanya sebentar. Namun ternyata kilasan–kilasan kejadian tadi kembali terngiang. Kejadian itu dimulai ketika ada orang yang tiba–tiba menghadang mobil Ayu, dengan sengaja menabrakkan diri.
Pria itu roboh. Ayu turun dari mobil untuk melihat keadaan pria itu. Pria itu tergeletak di jalanan yang lumayan sepi. Ayu mencoba untuk membangunkan pria itu. Namun ternyata ia dibohong. Pria itu tak cidera apapun. Tangannya dicekal. Kemudian datanglah beberapa pria yang lain. Ia diseret paksa. Bahkan teriakan dan rontaannya tak di dengar sedikitpun.
Hingga datanglah seorang wanita yang tak ia kenal menyelamatkannya. Ia bersyukur, karena wanita itu, ia masih utuh sampai saat ini. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi. Mungkin bisa saja sehabis dilecehkan, ia akan dibunuh secara tragis. Membayangkannya saja membuatnya bergidik ngeri.
"Aku harus berterimakasih sama wanita itu."
"Tapi siapa dia? Kenapa aku lupa tidak bertanya siapa namanya? Bagaimana dong aku bisa mencarinya?"
Ayu terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Pertanyaan–pertanyaan itu masih saja berputar di dalam benaknya, tanpa tahu apa jawabnya.
"Ah bodoh kau, Yu," umpatnya pada dirinya sendiri. Ia merutuki kebodohannya yang tidak dengan sigap bertanya siapa nama penolongnya itu.
"Baiklah, semoga nanti aku bertemu lagi dengan dia. Kalaupun tidak, ya harus ketemu!" tekat Ayu.
Ayu mengendus–enduskan hidungnya. Hidungnya bergerak kembang kempis, mencoba mencium bau yang tidak sedap. Sampai ia mencium ketiaknya sendiri.
"Iyuhh …. Aku harus mandi. Astaga kenapa bauku seperti ini?" ucap Ayu sembari mengibaskan tangannya di depan hidung. Baunya cukup masam untuk ukuran dirinya sendiri.
Ayu beranjak dari tempat tidur. Ia menyiapkan segala keperluannya untuk mandi. Ia memutuskan untuk berendam dengan berbagai aromaterapi untuk merilekskan kembali pikirannya.
🍂
__ADS_1
Sementara itu, Gea, Briel, dan Runi telah sampai di rumah kontrakan. Mereka semua turun lalu berjalan masuk ke rumah itu. Briel berjalan di paling belakang.
"Maaf, Tuan, silahkan masuk."
"Jangan panggil saya dengan sebutan tuan!" tegas Briel. Entah mengapa ia kurang suka dipanggil demikian, apa lagi orang yang cukup dekat dengan dia maupun istrinya. Dan Runi masuk dalam kategori itu.
"Baik, Bos!"
Gea meminta untuk mampir sejenak. Ia ingin mengambil barang yang tertinggal di rumah kontrakan itu. Gea dan Runi masuk ke dalam kamar meninggalkan Briel di ruang tamu.
"Sudah?" tanya Briel tatkala ia melihat Gea dan Runi menghampirinya.
Gea hanya mengangguk dan tersenyum. Tangannya menenteng papan catur. Briel mengernyit heran.
"Itu punya siapa?"
"Punyaku."
"Masa?" Briel mengernyitkan dahinya. Ia tak percaya jika papan catur itu milik Gea. Pasalnya Gea adalah seorang wanita. Sedangkan sangat jarang ada wanita yang suka bermain catur.
"Iya. Ini adalah kenanganku bersama mendiang kakek yang bisa ku bawa." Gea tersenyum. Wajahnya sendu mengingat kenangan–kenangannya saat bermain catur dengan mendiang kakeknya.
"Ayo pulang!" ajak Briel. Gea mengangguk sebagai persetujuannya.
"Run kami pulang dulu."
"Hati–hati, Bos." Runi memperlihatkan deretan gigi putihnya dengan cengiran khasnya.
Gea tersenyum menanggapi tingkah Runi. Gea berjalan memeluk Runi, lalu Briel dan Gea pergi meninggalkan rumah itu. Sedangkan Runi berdiri menunggu sampai mobil Briel menghilang di depan rumahnya.
🍂
//
Hai hai hai ... bagi yang masih setia menunggu (Latihan PD dulu guys 😂😂), maaf ya Asa telat up. Ada urusan RL yang membuatku harus segera menyelesaikannya. Namun tenang saja. Khusus hari ini Asa akan up lagi 🤗🤗
🍂
//
Happy reading guys,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕