
“Eh… Eh? Mau Ke mana kamu?”
Gaza mengejar Dela yang kini berjalan cukup cepat ke sebuah toko baju dan perlengkapan bayi. Kedua netra Dela menyapu selulur ruangan sembari berdecak kagum. Pernak – pernik dan baju – baju mungil itu begitu unyu dan menarik hati. Ia berjalan ke sana ke mari, memegang baju – baju mungil itu antusias. Ingin sekali ia membeli semua baju dan perlengkapan bayi itu dalam sekejab.
“Kamu mau apain itu baju?” Tanya Gaza yang kini sudah menyusul di belakang Dela.
“Beli,” jawabnya singkat dengan binar mata yang masih menatap baju itu tanpa sedikitpun menoleh ke arah Gaza.
“Memang ada uang?” tanya Gaza dengan memicingkan matanya. Ia yakin seratus persen jika Dela tidak mempunyai uang sepeserpun. Melihat penghinaan yang Gaza lakukan, Dela mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibirnya seirama.
“Enak saja kau berbicara!” Dela menatap Gaza nyalang. Harga dirinya seperti terinjak – injak. Sebuah kalimat yang terlontar dari bibir Gaza adalah ejekan yang menyebalkan untuk didengar meskipun semuanya adalah fakta.
“Oke! Belilah kalau begitu,” ejek Gaza semakin menjadi.
Dela terbungkam sejenak. “Oke! Aku akan membelinya!” jawab Dela sedikit ragu.
Gaza menaikan sebelah alisnya dengan anggukan dan tatapan yang masih menatap Dela tidak percaya. Bagaimana mau percaya. Selama ini ia hanya memberikan sedikit uang pada Dela. Itu pun hanya untuk cukup untuk membeli kebutuhan dasar saja.
“Tentu saja dengan uangmu!” lanjut Dela kemudian dengan percaya diri. Ia memperlihatkan deretan gigi rapinya itu. Hanya itu cara yang bisa ia lakukan. Selama ini ia juga hidup bersama dengan Gaza. Otomatis apa yang menjadi kebutuhan Dela adalah kewajiban bagi Gaza, begitu pikir Dela.
Gaza membulatkan matanya. Gaza menghembuskan napas kasar.
“Enak saja pakai uangku! Pakai uangmu sendiri dong!” ujar Gaza tidak terima.
Membelikan perlengkapan bayi saat ini bukanlah kewajiban dan tanggungjawab Gaza. Lagi pula yang memilih tinggal dengan Gaza bukanlah Gaza, melainkan Dela sendiri. “Rugi bandar kalau begini ceritanya!” gerutu Gaza sembari memalingkan wajahnya.
“Mana bisa. Sekata – kata kamu bicara. Itu kan tanggungjawabmu!” Dela balik marah.
“Wah mulai amnesia sepertinya. Mungkin sedikit benturan bisa membenarkan pikirannya yang kini rusak!” ujar Gaza menahan kekesalannya. Telunjuknya mendorong dahi Dela. Dela merintih kecil. Bukan karena sakit, namun karena kaget semata.
“Sudah mengambil jantung, kini minta ampela. Minta dijitak lagi ini orang!” geram Gaza dalam batinnya. Netranya menatap netra Dela tajam.
“Pelit sekali orang ini. Aku doakan kuburannya nanti sempit. Petinya doang yang masuk, orangnya tidak bisa!” umpat Dela kesal dalam batinnya.
“Aduh Mas, Mbak... kalau berantem jangan di tempat umum ya. Malu atuh dilihat banyak orang. Urusan rumah tangga diskip untuk bahan bertengkar di rumah saja ya,” ujar seorang ibu yang masih terbilang cukup muda. Tangan ibu itu menujuk sekitar, memperlihatkan jika sudah mulai banyak orang yang menyorot mereka berdua.
Dela menggaruk dahinya yang tidak gatal. Sedangkan Gaza mengelus tengkuknya. Mereka malu menjadi perhatian publik seperti itu. Mereka berdua tersenyum canggung.
“Apa yang kalian lihat!” bentak Gaza cukup arogan. Ia menunjukan ketegasannya untuk menutupi rasa malunya itu. Rasa malu hanya akan membuat kepercayaan dirinya menurun.
Semua orang bubar. Sedangkan ibu itu tersenyum geli melihat pasangan muds di depannya itu.
"Ibu kenapa tertawa? Maaf Bu. Kami bu–"
__ADS_1
Ucapan Gaza terpotong. Ibu itu tidak mau tahu. Beliau malah menimpa ucapan Gaza dengan ucapan lain.
"Aihh... Pasangan muda jaman sekarang." Ibu itu menggeleng geli. Anak muda jaman sekarang tidak ada malu–malunya mengumbar masalah rumah tangga mereka di depan publik, pikirnya.
"Kami bu–" Sekali lagi Gaza ingin menjelaskan. Tapi percuma. Ibu tu tetap tidak mau mendengarnya. Gaza menghela napas kasar. Pasrah.
"Sudah berapa bulan?" tanya ibu itu pada Dela.
"Lima bulan," jawab Dela singkat dengan senyum canggung.
"Ibu hamil masih muda ternyata... Jangan membeli perlengkapan dan baju bayi sebelum 7 bulan. Pamali ya..." Ibu itu mewanti–wanti.
Dela yang baru pertama kali mendengar hal omong kosong itu pun hanya tercengang sembari menautkan kedua alis matanya.
Bagai celah yang dapat diterobos, kehadiran ibu itu membawa berkah bagi Gaza. Ia tidak perlu membelikan apa yang ingin Dela beli saat itu juga.
"Nah dengar tu... Si ibu ini aja tau. Gimana hayo kalau sampai ada sesuatu terjadi pada kalian. Kalau dibilangin suaminya tu nurut. Ya kan, Bu?" Gaza memanfaatkan pernyataan ibu itu dan mencari pembelaan. "Dengar ni kata ibu ini, Sayang. Harusnya kamu berterimakasih pada ibu ini karena telah memberitahu kita," ujar Gaza sok bijak.
"Kurang ajar ini manusia! Bisa–bisanya mencari pembelaan. Awas aja kamu!! Tunggu saatnya nanti!" Nazar Dela dalam hati. Lirikan sinisnya sangatlah tajam dan terkesan licik.
Gaza menatap Dela dengan senyum miring, penuh dengan kemenangan. Ia memenangkan perang kecil saat ini, mengabaikan lirikan Dela.
"Terima kasih ya, Bu, sudah mau bantu menasihati istri saya. Kami pamit dulu, Bu," pamit Gaza.
Dengan berat hati, Dela meninggalkan toko itu. Tentunya wajahnya sangatlah masam.
🍂
Tuk tuk tuk tuk
Hentakan kaki itu terdengar cukup menggema di ruangan itu. Kedua tangan bersidekap menjadi penegas sebuah kekesalan seseorang. Tatapan tajam turut andil.
"Biasa aja!" ujar Adam tanpa dosa. Ia berjalan di depan Briel lantas langsung duduk santai di sofa.
"Biasa ... Biasa!! Enak saja! Dari mana kau?! Sadar tidak telat berapa lama?"
"Ada tadi. Baru juga setengah jam. Belum satu jam Bos!" kilah Adam yang masih saja tidak merasa bersalah.
"Gaji kamu saya potong sepuluh persen!" Briel memberikan ultimatumnya sebagai atasan.
"Potong saja. Bunda pasti siaga," ujar Adam tanpa dosa. Bukan mengancam, tapi Tere masih sering menanyakan uang Adam walaupun Adam sudah dewasa.
"Kau ya...!" Briel menggerakkan telunjuknya geram. Ia sungguh kesal jika Adam membawa nama bundanya.
__ADS_1
"Aku apa?" tanya Adam santai.
"Kalau bunda tau berarti kau yang ember!" tuding Briel. "Mulut pria kok samaan dengan mulut kang panci yang ember!" Briel bergedumel asal.
"Idiihhh marah."
Suara Adam sangatlah mengesalkan membuat amarah Briel semakin memuncak.
"Sudah–sudah. Waktu kita tidak banyak. Meleset sedikit, 3 nyawa jadi taruhannya. Selesaikan urusan kalian nanti!"
Hendri angkat bicara. Apa yang direncanakan harus tepat. Ia tidak ingin apa yang akan mereka lakukan hancur seketika hanya karena ulah dua orang dewasa yang menjelma menjadi bocah titan.
"Dengar tu dengar!" Adam semakin menjadi. Briel ingin memukul kepala Adam dengan telapak tangannya, namun tangan Bima lebih sigap melerai mereka berdua.
"Lama–lama kalian aku masukan ke kandang harimau mini ya!!!" ujar Bima. Harimau mini yang dimaksud adalah kucing. Ia tahu jika Briel dan Adam tidak suka berada di kawanan kucing. Bukan takut katanya, namun geli yang menjadi alasannya.
Seketika kedua manusia dewasa itu diam seketika dengan kekesalan yang masih berdiam di dalam hati mereka masing–masing
🍂
Ting tong
Suara bel pintu depan terdengar. Seorang wanita umur 30 an berdiri di depan rumah dengan menenteng sebuah ransel yang cukuo besar. Ia celingukan menunggu Sang Tuan rumah membukakan pintu untuknya.
"Waahh rumahnya besar sekali," ujarnya terkagum menatap rumah mewah yang baru pertama kali ia lihat.
"Kukira hanya ada di tivi tivi saja," gumamnya kemudian.
"Siapa ya?" tanya Gea yang kini telah membuka pintu itu. Ia menelisik wanita di depannya itu dari atas ke bawah, sedangkan wanita yang masih tercengang dengan kemewahan rumah itu seketika terdiam dan menunduk.
"Masuk!"
.
.
.
To be continue
🍂
//
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻🌻