Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
29. Menikah Dengan Orang Asing


__ADS_3

Di dalam sebuah mobil, seorang pria berusia matang, yang mengenakan tuxedo memacu mobilnya sendirian. Pikirannya kacau. Sungguh ia tidak habis pikir dengan pemikiran kedua orang tuanya. Ia harus melangsungkan pernikahannya dalam keadaan yang seperti ini atas permintaan mereka.


Sebenarnya ia sendiri bingung mau bagaimana. Inilah kesalahannya. Ia tidak mengetahui siapa wanita yang akan ia nikahi. Sedangkan kejadian buruk tengah menimpa kedua orang tuanya. Adam, sang asisten, tidak ikut bersamanya karena harus mengurus segala sesuatu yang menimpa keluarga Briel.


"Bodoh kau Briel! Siapa dia? Bagaimana caraku menemukannya?"


Briel merutuki keputusan yang pernah ia ambil dulu. Ia tidak menyangka kalau akan seperti ini pada akhirnya.


"Arrrghh... Sial!" umpatnya.


"Terserahlah. Nanti aku cari saja wanita bergaun pengantin yang ada di sana."


Dengan kecepatan tinggi, Briel menembus jalanan yang mulai padat itu menuju ke tempat di mana ia akan melangsungkan pernikahannya dengan orang yang tidak ia kenal.


πŸ‚


Briel turun dari mobilnya. Ia berjalan ke sana ke mari, mencari wanita calon pengantinnya. Ia menghela napas kasar. Ia tak menemukan siapapun wanita bergaun pengantin di sana. Bahkan ia sudah bertanya dengan petugas hotel, apakah ada wanita bergaun pengantin yang sudah memasuki hotel atau tidak. Namun mereka tidak melihat satupun. Dia mengacak kasar rambutnya. Bingung mau bagaimana lagi cara untuk menemukan wanita itu.


Briel memutuskan untuk pergi dari hotel itu. Ia membuka pintu mobilnya. Namun ia mengurungkan niatnya ketika mendengar suara sorakan banyak orang dari jalan raya depan hotel itu.


"Ada apa sih itu? Kenapa ramai-ramai di sana?" ucap Briel sambil menutup kembali pintu mobil yang sempat ia buka. Briel melangkah menuju di mana suara itu berasal. Betapa kagetnya ia saat melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah seorang wanita bergaun pengantin yang tengah menyebrang jalan itu.


"Awas...!" teriak Briel. Namun teriakannya tidak didengar oleh wanita itu.


Briel berlari kencang, berusaha menghampiri wanita itu secepat mungkin.


πŸ‚


Decitan rem dan klakson mobil itu terdengar nyaring, memekakan telinga semua orang yang ada di sana. Suasana begitu tegang, hingga banyak orang berkerumun di tempat kejadian itu.


Tubuh Gea terhuyung. Seorang pria menarik tubuh Gea tepat saat mobil itu hampir saja menabrak tubuh Gea. Pria itu mendekap tubuh Gea yang hampir saja tertabrak itu. Air mata Gea luruh kembali di dalam dekapan pria itu.


"Kenapa tak Kau biarkan aku mati saja Tuhan? "


Semua orang yang menyaksikannya begitu lega melihat Gea selamat. Mereka mengucap syukur di dalam hati mereka.


"Hei, Mbak! Kalau mau mati jangan di sini! Sana ke laut kek atau ke tebing kek atau ke rel kereta kek! Jangan di sini! Lo yang bunuh diri, urusannya gue yang bertanggung jawab di sini! Hah... Ni mobil masih baru juga. Sayang kan kalau masih baru malah nabrak Mbaknya ini!"


Seorang pemuda yang keluar dari dalam mobil dengan langkah sempoyongan. Ucapannya terdengar keras namun tidak begitu jelas. Bau alkohol menguar dari padanya.

__ADS_1


"Masnya... " ucap pemuda itu dengan kondisi mabuk. "Lain kali ajari pacarnya ini cara nyebrang yang bener. Untung gue pinter ehehehe." Pemuda itu terkekeh dengan tubuh yang sempoyongan.


"Gimana kalau tadi gue gak bisa ngendaliin mobil gue? Udah ****** tuh orang!"


Pemuda itu menunjuk-nunjuk Gea sambil tertawa sendiri. Tidak ada yang menanggapi ucapan pemuda itu. Walaupun sebenarnya ingin sekali pria itu marah. Percuma saja jika ditanggapi. Dengan kondisi yang setengah sadar ini, pemuda itu tidak akan mudah untuk diajak bicara.


Tak lama kemudian datanglah dua orang polisi yang tengah berpatroli. Mereka berdua menghampiri kerumunan itu untuk melihat apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi?" tanya salah satu dari mereka kepada salah satu pria paruh baya yang ada di sana. Pria paruh baya itu menjelaskan kronologi kejadian yang telah terjadi. Mereka berdua akhirnya paham dengan apa yang telah terjadi. Mereka segera mengamankan pemuda itu karena pemuda itu mengendarai mobil disaat mabuk. Tindakan itu sangat berbahaya untuk keselamatan berlalu lintas.


"Tuan, urusan kami telah selesai. Anda bisa melanjutkan aktivitas Anda. Maaf telah mengganggu kenyamanan Anda," ucap salah satu polisi itu kepadanya.


Pria itu mengangguk. "Terimakasih atas bantuannya."


Kedua polisi itu pergi dengan menyeret pemuda itu.


"Hei polisi gak ada akhlak! Seharusnya bukan gue yang kalian tangkap. Dia tuh mbaknya yang nyebrang sembarangan. Lepasin gue! Gue gak salah!" rancau pemuda itu memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman polisi.


Satu persatu dari mereka pergi dari tempat itu. Pria itu masih saja mendekap Gea yang masih menangis. Ia tidak tega melihat Gea seperti itu. Ia mengelus kepala dan punggung Gea dengan lembut untuk menenangkannya. Hatinya mengiba melihat Gea sefrustasi seperti itu.


"Jika menikah denganku adalah suatu beban bagimu, pergilah saja. Maka aku akan melepasmu," batin pria itu sambil mengelus pundak Gea.


Nyaman.


Adalah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan hal yang Gea rasakan. Rasa dilindungi menyelimuti hatinya. Dan tidak ada alasan bagi Briel untuk mengurungkan niatnya untuk menikahinya.


"Hiyaaa... " teriak pria yang tak lain adalah Briel, saat mendengar suara kucing. Ia melihat ke bawah. Dan benar saja. Ada seekor kucing yang lewat dan ndusel-ndusel kakinya. Bergidik bergidik geli ketika ada kucing di dekatnya. Ia melompat-lompat kecil, dan...


Bruk


"Aw... " Mereka berdua mengaduh bersamaan.


Briel kehilangan keseimbangannya. Ia kaget saat melihat kucing itu. Mereka berdua jatuh bersamaan dengan posisi Gea menimpa tubuh Briel. Mereka terdiam untuk beberapa saat dengan pandangan saling beradu.


"Cantik" "Tampan"


Kata-kata itu mereka lantunkan di dalam hati mereka masing-masing.


"Mbak, Mas, kalau mau main pengantin-pengantinan jangan di sini. Pergilah ke kamar kalian dan tutup pintu. Di sini banyak anak-anak Mbak, Mas," ucap seorang ibu muda sambil menutup mata anaknya. Ia tersenyum menggoda pasangan yang sebenarnya tak mengenal satu sama lain itu.

__ADS_1


"Jangan lupa, pintunya dikunci!" teriak ibu muda itu sambil berlalu menjauh dari mereka berdua.


Gea dan Briel segera tersadar. "Bangunlah!" perintah Briel pada Gea. Gea segera bangun dan membenahi gaun yang ia pakai.


"Loh, kenapa kakiku tinggi sebelah ya?"


Gea melihat ke arah kakinya. "Yahh patah." Gea mengambil heel nya yang patah.


"Eeee... " Gea kaget di saat Briel mengambil heel-nya sebelah.


Briel berjongkok kemudian mematahkan hak heel itu dengan memukulkan hak pada aspal jalan. Lalu ia memakaikan heel yang sudah berganti menjadi flat shoes itu pada kaki Gea. Gea merasa canggung saat mendapat perlakuan seperti itu dari Briel, pria yang Gea anggap asing. Ia tidak menyangka dengan apa yang terjadi.


Briel kembali berdiri lalu menepuk-nepukkan tangannya agar debu yang menempel pada telapak tangannya hilang.


"Baiklah, sudah cukup waktunya untuk bermain-main."


Gea pun tersadar ketika mendengar ucapan Briel. Namun ia tidak paham dengan apa yang terjadi. Briel meraih tangan Gea lalu menarik Gea untuk masuk ke dalam hotel. Keluarganya telah menyewa ballroom hotel itu untuk melangsungkan pernikahannya


Gea terkesiap. "Ada apa ini? Siapa dia? Kenapa dia bilang seperti itu? " batinnya dalam hati. Langkah Gea terseok-seok saat Briel menariknya. Langkah lebar Briel sulit untuk ia imbangi dengan langkah kakinya yang tidak sebanding.


"Hei... tunggu! Lepaskan aku!" ucap Gea sambil memukul-mukul ringan tangan Briel dengan tangannya yang sebelah. Ia berharap pria yang Gea anggap asing itu melepaskannya. Namun apa daya, Briel tak menghiraukannya.


πŸ‚


//


Oh iya. Sambil menunggu cerita Gea up lagi, kalian bisa mampir dulu ke novel ketjeh milik kakak- kakak online Asa yang uwuw




πŸ‚


//


Happy reading guys,


jangan lupa bahagia πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2