Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Penyesalan yang Terlambat


__ADS_3

Edi tertawa sumbang lantaran apa yang ia lihat waktu itu sangatlah berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi jika dilihat dari rekaman CCTV.


"Bodohnya diriku! Gea memang salah, namun mereka sangatlah salah bahkan lebih salah."


Ia meraup kasar wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Tangannya mengepal erat dengan kedua mata yang semula menatap tajam, kini mata itu memerah, berkaca–kaca. Selama ini ia hanya menuruti semua emosinya tanpa melihat lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi lantaran ia begitu percaya dengan Clara maupun Dela.


Bagaimanapun dahulu, ia pernah mencari bukti tentang bagaimana kronologi kecelakaan Dela dengan Gea sebagai tersangkanya, namun dilihat dari sisi manapun Gea tetaplah salah. Ia mendorong Dela hingga Dela tertabrak dan koma beberapa hari. Setelah kejadian itu, ia memutuskan untuk tidak percaya lagi dengan Gea.


Namun kepercayaannya disalahgunakan oleh istri dan anaknya yang lain. Ternyata kenyataan kejadian beberapa waktu lalu, Gea tak pernah menampar Dela. Namub Delalah yang bersandiwara seakan–akan Gea menamparnya keras.


"Paman tidak apa apa?"


Pertanyaan Bima membuyarkan pikiran Edi. Cukup lama Bima memperhatikan gerak gerik Edi sedari tadi. Dialah yang memulihkan rekaman CCTV yang telah dihapus Dela. Dela memang pintar, namun kepintarannya tak sebanding dengan kecerdasan Bima sebaga ahli IT.


Namun Edi tak lekas menjawab pertanyaan Bima. Seketika terlintas bayangan beberapa waktu silam. Edi mengingat kejadian yang membuat bisnisnya hampir hancur.


"Tidak. Aku baik baik saja."


Tatapan mata Edi masih memandang ke segala arah, tak menatap Bima lantaran ia masih memikirkan kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi.


Ia beralih menatap ke arah Bima. "Bim, tolong cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di butik waktu itu! Aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi."


Edi menatap Bima penuh harap. Ia benar–benar khawatir jika apa yang ia pikirkan benar adanya. Entah mengapa, seketika ia menduga jika karyawati yang menerima kekerasan dari Dela dan Clara adalah Gea.


Mendengar permintaan Edi, Bima tersenyum miring di dalam batinnya. "Kemana aja kau Paman?! Sudah lewat berbulan–bulan kau baru menyadarinya!"


Rasa kesal kembali muncul. Rasanya ia ingin sekali mengganti kacamata Edi agar ia tak buta dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Mencari tahu?


Sangat mudah bagi Bima hanya untuk mencari tahu. Bagaimana tidak? Orang yang menyensor wajah Gea adalah dirinya. Ia masih mempunyai file asli yang masih tersimpan. Namun ia tak akan menyerahkan video itu saat itu juga. Ia ingin Edi berpikir lebih lama.


"Baiklah Paman."


Bima menilik jarum dan angka yang ada di pergelangan tangannya. "Paman, aku pergi dulu. Aku harus segera kembali ke kantor!" pamit Bima. Ia tak bisa berlama lama berada di sana lantaran masih banyak hal yang harus ia selesaikan.

__ADS_1


Edi mengangguk mengiyakan. "Carilah secepatnya dan beritahu aku apapun fakta itu!"


Kalimat yang terlontar dari mulut Edi itu terdengar begitu lesu dan juga pasrah. Edi akan menerima apapun kenyataannya.


"Pasti Paman," sahut Bima dengan seulas senyum yang mengembang di wajahnya. Setelah urusannya selesai, ia akan segera mengirimkan videonya.


🍂


"Sam ...!"


Briel memanggil pria berjas putih itu dari kejauhan. Sam yang semula hanya berjalan dari ruang pemeriksaan pun datang menghampiri Briel, teman lama yang sangat jarang bertatap muka.


Sam menyipitkan kedua matanya, menatap Briel dengan tatapan menyelidik. "Tumben kamu ke rumah sakit. Ada perlu apa? Siapa yang sakit" tanya Sam kemudian. Pertanyaan beruntun terlontar begitu saja lantaran menemukan hal yang tidak biasanya.


"Ck kau! Biasalah!" 😎 Seperti itulah kira–kira ekspresi wajah Briel.


"Hahaha iya iya putra pemilik," gurau Sam. Gelak tawa pun terdengar di antara mereka.


Sudah menjadi rutinitas Briel mengecek rumah sakit dalam waktu sebulan sekali semenjak Briel kembali. Dan hari ini adalah waktunya ia melakukan tanggung jawabnya.


"Sudah makan siang?"


Briel merapatkan bibirnya lantas mengangguk ringan. "Boleh juga. Kamu yg traktir ya!"


Briel tersenyum usil. Lantas tanpa menunggu jawaban Sam, Briel melenggang terlebih dahulu. Sam melongo dibuatnya. Baru kali ini seorang bos minta ditraktir oleh pekerjanya.


"Hei dasar Bos peak! Kebalik Bri kebalik!" ucap Sam yang saat ini menyusul Briel.


"Aku tidak peduli!" jawab Briel acuh tak acuh.


Mereka berdua melepas rindu yang telah lama mereka rasakan. Selama ini rindu akan kebersamaan mereka itu hanya tersimpan dan terkubur dalam kegengsian antar pria yang tak mungkin secara terang–terangan mereka ucapkan. Atau mereka akan disebut tidak normal.


🍂


Hari telah berganti. Sebuah surel yang masuk itu ia buka perlahan. Terdapat sebuah video yang Bima lampirkan. Ia pun segera memegang mouse komputer. Jari telunjuknya menekan ke tombol bagian kiri. Video itu pun mulai berputar perlahan.

__ADS_1


Brak!!!


Edi menggebrak meja kerjanya dengan sebelah tangannya. Ia begitu geram melihat perbuatan Clara dan juga Dela. Mungkin orang lain tak akan tahu siapa wanita yang sebenarnya bermasalah dengan mereka berdua. Namun tak bisa dipungkiri, hati seorang ayah akan terasa begitu sakit kala melihat bagian dari hidupnya diperlakukan secara tidak adil.


"Maafkan aku Tuhan"


Edi benar –benar menyesali dan kecewa dengan dirinya sendiri. Video yang ia terima dari Bima benar–benar membuka matanya. Bima berhasil mengganti kaca mata Edi dengan kacamata yang lebih jernih. Sebulir kristal lolos dari matanya. Secepat mungkin Edi segera menghapus air matanya itu. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk meratapi apa yang telah terjadi.


Tiba–tiba saja, bunyi telepon masuk pun terdengar. Edi meraih gagang telepon lantas menempelkannya pada telinganya. Edi mendengar ucapan dari sang penghubung dengan seksama.


"Terimakasih"


Hanya kata itu yang terucap dari bibir Edi sebelum ia mengakhiri sambungan itu.


Seketika Edi berdiri. Ia menyambar kunci mobilnya lantas berjalan dengan langakh kaki yang panjang.


🍂


"Hemmm ... Tunggulah kehancuran kalian sebentar lagi!"


Bima memutar–mutar benda pipih canggih yang ia genggam. Ia menyandarkan badannya pada punggung kursi kerja seusai menelpon Edi. Sudah sejak lama ia memang ingin mengatakan yg sesungguhnya pada Edi. Namun berulang kali Gea melarangnya.


Dan saat ini, adalah waktu yang tepat. Ia tak meminta persetujuan dari Gea. Yang ia inginkan adalah selesai. Selesai akan hidup yang melelahkan untuk Gea.


🍂


//


Bagi yg lupa alur ceritanya, boleh baca ulang lagi loh 🤭 atau kalian boleh komentar di kolom komentar. Maaf ya atas ketidanyamanannya. Othornya lagi menyelesaikan RLnya 😭😭🤧


Sampai jumpa besok malam 😉Tunggu kelanjutan ceritanya kakak kakak semua 😘


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2