
Menatap air dalam kolam dengan berbagai macam tanaman hijau tak jauh dari sana. Warna biru dari air dan hijau dari tanaman yang ada di sana menyegarkan mata Gea. Kedamaian mengalir lembut dalam dirinya. Ia duduk bersandar dan menyelonjorkan kakinya di sebuah kursi panjang yang ada di pinggir kolam renang, di rumah Frans mertuanya.
"Gege …. Ini bunda bawakan jus jeruk untukmu, Sayang," ucap Tere dari arah belakangnya. Ia melihat Tere membawa sebuah nampan dengan dua gelas jus jeruk berhiaskan satu slice jeruk di gelasnya dan setoples popcorn. Kacang almond pun juga ada di atas nampan itu. Jus jeruk dan kedua camilan itu sangat baik dikonsumsi oleh ibu hamil.
"Wah Bunda …." Gea menegakkan badannya. Ia mulai duduk menghadap ke arah Tere. Tere meletakkan yang ia bawa di atas meja. Gea memberikan tempat untuk Tere duduk di kursi, samping Gea.
"Makasih ya, Bun …" ucap Gea. Ia memeluk Tere ringan sebagai ungkapan rasa terimakasihnya untuk Tere. Seulas senyum tanpa syarat terukir di wajah cantik itu.
Tere membalas pelukan hangat itu dengan hangat pula. Tak berlama–lama, ia melepaskan pelukan itu. Ia duduk berhadapan dengan Gea. Arah matanya menatap perut Gea yang baru sedikit membuncit.
Tangan Tere bergerak, mengusap lembut perut Gea. Gea tak menolak. Ia pasrah menerima perlakuan Tere padanya.
"Cucu Oma … sehat–sehat di dalam sana ya … jangan nakal," ujarnya seperti pada anak usia balita yang bermain bersamanya sembari tersenyum. Bahagia rasanya, akhirnya hal yang dinanti–nantikan telah dikabulkan oleh Sang Maha. Tak terasa garis lengkung itu menular pada Gea.
"Tumben kamu main ke rumah Bunda," tanya Tere. Ia meraih segelas jus jeruk dan menyerahkannya pada Gea. Sudah lama Gea tak berkunjung ke rumahnya.
Gea menerima gelas itu. "Terimakasih, Bun." Tere mengangguk ringan. Gea menyesap jus itu.
"Iya, Bun. Kan sekarang Gea sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Bayang, Bun," jawab Gea. "Bosan di apartemen sendirian," lanjutnya lagi.
"Yaudah sering–seringlah ke sini, biar gak bosan," ucap Tere dengan senyum yang terukir jelas di wajahnya. Ketulusan terungkap jelas dari senyum itu.
Gea tersenyum manis membalas senyum Tere. Ia mengangguk ringan. Ia tak keberatan dengan permintaan Tere. Sosok ibu telah ia temukan dalam diri Tere. Sosok ibu yang hangat dan menenangkan hati. Ketulusan dari yang Tere lakukan dapat ia rasakan, tak seperti Clara, yang menyayanginya karena ada yang Clara incar.
Kemudian Gea meminum jus itu kembali. "Emm …. Segar Bun," puji Gea.
Tere tergelak. "Iya dong, tinggal tuang gitu loh."
Gea tergelak pula. Memang benar adanya. Tere tinggal menuang jus kemasan yang ia beli di swalayan ke dalam gelas. Walaupun jus kemasan, namun jus itu sudah Tere pastikan tidak banyak mengandung pengawet.
"Apapun itu, asal dari Bunda pasti nikmat."
"Wah …. Menantu Bunda sudah pintar merayu ya," goda Tere. Ia mencubit ringan ujung hidung Gea yang mancung.
"Sejak kapan kamu berhenti bekerja?" tanya Tere kemudian. Ia mengambil toples popcorn dan memberikannya kepada Gea.
"Belum lama, Bun. Baru 2 hari ini," jawab Gea. Ia memasukkan satu persatu popcorn ke dalam mulutnya.
Mereka berdua kembali berbincang, membicarakan banyak hal bersama.
__ADS_1
🍂
"Mommy, ini bagus tidak?" tanya Dela kepada Selly, mama mertuanya. Ia menempelkan sepotong dress cantik ke badannya.
"Cobalah dulu, nanti Mommy lihat deh," ujar Selly.
Dela masuk ke dalam ruang ganti. Ia mengganti pakaiannya dengan dress itu. Kemudian keluar dan berdiri di depan Selly.
"Bagaimana Mom?" ucapnya sembari tersenyum riang. Ia sangat menyukai dress itu.
Selly menilik penampilan Dela dari atas ke bawah. Bibirnya bergerak–gerak, tangannya bergerak menunjuk dari atas ke bawah. "Bagus."
Akhirnya Dela membeli dress cantik itu.
Selesai berbelanja, mereka singgah ke tempat untuk membeli es krim. Mereka memesan 2 porsi es krim untuk mereka makan di sana. Di sana Selly melihat seorang anak kecil usia 2 tahun duduk di pangkuan ibunya.
"Aihh lucunya anak itu. Jadi ingin punya anak kecil lagi," gumamnya dalam hati. Selly membayangkan dirinya memangku anak kecil yang unyuk dan lucu.
"Ck..! Kenapa juga Dela tak hamil–hamil sih. Sudah beberpaa bulan menikah kok tak kunjung hamil!" batinnya mendadak kesal. Ia melirik kesal Dela yang tengah menikmati es krimnya.
"Kenapa Mom?" tanya Dela.
"Ada yang salah nih," batin Dela curiga. Ia merasakan perbedaan sikap Selly.
"Mommy kenapa?" tanya Dela.
"Gak.." ucap Selly sembari mengembangan senyum lurusnya. Tak ada garis lengkung di sana walaupun ia tersenyum.
🍂
"Vin, ke mari sebentar!" titah Selly pada Davin yang kebetulan ke kediaman Keluarga Angkara.
"Kenapa Mom?" ucap Davin heran. Tak biasanya Selly memanggilnya.
"Tak keluar dengan lelaki bayaran Mommy?" tanya Davin tak acuh. Dia sudah kebal dengan kenyataan itu. Bahkan ia sendiri pun melakukannya saat ini. Bahkan ia lebih bhejad dari kedua orang tuanya. Ia tak ada kompromi dengan Dela. Dela tak mengetahui hal itu.
"Malas, tak selera Vin," jawab Selly santai.
"Ada apa sih Mom?"
__ADS_1
"Berikan Mommy cucu. Mommy ingin menimang cucu!"
Davin berdecak malas. "Mom …. Nanti aja ya … Davin masih belum ingin punya anak," protes Davin.
"Tidak bisa! Pokoknya harus segera punya anak. Kalian subur kan? Harusnya sih bisa," tembak Selly.
"Mom … ya jelas Davin suburlah," ucap Davin kesal. Ia tak terima ditundung tak subur oleh Selly.
"Yasudah, segera berikan Mommy cucu," ucap Tere tak terbantahkan.
Davin menghela napas kasar. "Iya–iya."
🍂
Davin menatap lurus jalanan kosong di depannya. Ia memikirkan ucapan Selly. Benar adanya. Sudah beberapa bulan ia menikah, namun tak ada tanda–tanda kehamilan pada diri Dela. Ia jadi curiga akan hal itu. Sadar tak sadar tentang anak telah mengusik pikirannya meski ia telah berkata belum ingin punya anak. Dia mulai menghidupkan mobilnya dan menembus jalanan sepi di malam itu.
Sesampainya di apartemen, ia memanggil Dela yang tengah sibuk membersihkan make upnya di depan meja rias. Ia memakai berbagai macam produk skincare untuk merawat kulitnya.
"Sebentar," ucap Dela yang sibuk menepuk–nepuk ringan wajahnya.
"Dasar wanita!" gerutu Davin.
Davin pun membersihkan diri terlebih dahulu. Ia tak sabar pula untuk menunggu wanita berdandan dalam diam. Kegiatan itu begitu membosankan menurutnya.
Seusai membersihkan diri, Davin berjalan menghampiri Dela yang duduk bersandar di ranjang dengan benda pipih canggih di tangannya..
"Aku mau anak!" ucap Davin tanpa basa–basi lagi.
Dela mengerutkan dahinya. Ia menatap Davin heran bahka ia menghentikan aktivitasnya menyelami dunia maya. Tak biasanya Davin membicarakan hal itu dengannya. Hal itu membuatnya bertanya–tanya.
"Tak ada angin tak ada hujan, tumben dia bahas hal ini?" batin Dela.
🍂
//
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1