
Gea berjalan ke luar dengan langkah hati–hati. Ruangan demi ruangan ia lewati. Sampailah ia di depan suatu ruangan. Sayup sayup ia mendengar suara orang bercengkerama. Gea berhenti sejenak, berdiri di balik dinding.
"Aku harus mendapatkan Gea kembali! Investasi besar dari Edi Wiyarta yang bodoh sudah aku dapatkan lewat dari anak kesayangannya. Dan keuntungan yang sangat besar dari proyek yang kulakukan dengan Briel sudah kudapatkan."
"Hahhh … Dan sekarang aku harus mendapatkannya!" tekad Davin yang tak sengaja Gea dengar dari sana.
Gea merogoh saku jaketnya, berniat untuk mengambil gawainya. Ia ingin merekam percakapan yang ia dengar yang membuatnya terperangah akan kebenaran lain yang ia dengar, sebagai bukti yang kuat atas kejahatan Davin terhadap perusahaan Briel.
Namun sayang seribu sayang. Gawainya tidak ada di sana.
"Astaga kemana gawaiku itu?" ucap Gea lirih sembari merogoh sakunya yang lain.
Seketika ingatannya muncul. Gawai dia terjatuh bersama dengan sling bag yang ia bawa saat ia dibekap tadi sebelum dia dibawa ke dalam mobil karena dia kaget. Gea menepuk dahinya sendiri.
Alhasil Gea hanya bisa mendengarnya saja dengan seksama.
"Dasar licik!" ucapnya lirih ketika mendengar kelicikan–kelicikan Davin.
Setelah dia rasa cukup, Gea kembali melanjutkan jalannya sebelum dia terciduk menguping pembicaraan mereka.
Gea bersembunyi di balik tembok yang cukup besar untuk menyembunyikan tubuhnya. Ia mengintip dari sana, untuk melihat situasi aman tidaknya ia bisa beralih dari tempat satu ke tempat lain.
"Hei siapa di sana?!" teriak seorang dari arah lain. Ternyata ia melihat pergerakan Gea.
Secepat mungkin Gea menyembunyikan tubuhnya sendiri. Ia memejamkan matanya.
"Aihhh …. Jangan mendekat, please."
Gea bergumam dalam hatinya. Ia mulai gelisah. Pasalnya pria itu mulai berjalan mendekat ke arahnya.
"Hei! Tuan Davin memerintah kita semua untuk mencari Nona. Ayo kita berkumpul!"
Seorang yang lain menepuk pundak pria itu. Pria itu berjengit kaget.
"Tap–"
"Ayo cepatlah!" ucap yang lain tanpa menunggu jawabannya selesai.
Mau tak mau ia pergi mengikuti temannya yang lain. Sayup–sayup Gea mendengar percakapan itu. Ia mengelus dadanya pelan. Ia lega. Mereka telah pergi menjauh dari padanya.
Gea kembali mengintip mereka lagi. Ia sudah tidak melihat batang hidung mereka. Gea kembali berjalan mengendap–endap dengan kewaspadaannya yang lebih.
"Hei!!! Berhenti Nona!" teriak seorang pria.
"Aihh ketahuan," gumamnya lirih.
Gea memejamkan matanya. Ia merutuki kebodohannya yang kurang waspada. Ternyata dari arah lain ada seorang pria yang tengah memperhatikannya.
Gea berbalik arah. Ia memperlihatan cengiran khasnya, menunjukkan deretan gigi putihnya. Kemudian ia mencoba berlari. Namun sayangnya ia berhasil tertangkap. Gea berusaha melawan, namun ternyata kekuatan pria itu lebih besar darinya.
Anak buah Davin yang lain berlari menuju sumber suara untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Kalian jaga pintu akses masuk saja! Biar aku yang membawa Nona ini kepada Tuan Davin!" perintah pria itu.
"Lepaskan!" seru Gea. Ia tak ingin nasib hidup dia berakhir di tempat itu. Gea berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari pria itu.
Namun pria itu tak mendengarkan Gea sedikitpun. Ia tetap menyeret paksa Gea.
🍂
Sementara itu, Bima mengerahkan anak buahnya untuk turut menyelamatkan Gea. Ia tak mau terjadi apa–apa dengan Gea. Dia merutuki kelalaian pengawasannya untuk Gea.
Tempat itu cukup sulit di cari, karena ternyata tempat itu tak terbaca di peta. Davin sengaja menyembunyikan markasnya agar tak diketahui banyak orang. Namun karena Bima bekerja sama dengan Larz, dengan mudah ia bisa mengetahui bahwa tempat itu adalah markas Davin dan anak buahnya.
"Ingatlah, jangan sampai ketahuan. Atau rencana kami akan hancur seketika!" ucap Bima dengan penekanan. Briel dan Adam telah memberitahukan rencana mereka pada Bima. Dan Bima pun setuju dengan mereka.
Bima mengutus seorang anak buahnya, Nathan, untuk menyusup ke dalam markas, begitupun dengan anak buah Briel. Nichol lah yang Briel utus untuk menyusup ke dalam markas. Sementara Briel dan Adam tak turut turun tangan langsung untuk menyelamatkan Gea.
"Salah satu dari kalian, bawalah Gea kembali dengan selamat!"
"Siyap, Bos!"
"Bagus!"
"Keluarlah dengan selamat!" ucap Bima lagi.
Nichol dan Nathan saling mengangguk. Mereka mulai pergi menyusup ke dalam markas.
"Nic, mari kita berpencar! Kamu ke arah sana, dan aku akan ke sana!" Nathan menunjuk ke sebelah kanannya untuk ia isyaratkan agar Nichol bergerak ke arah yang ia tunjuk. Mereka telah memakai alat komunikasi kecil yang mereka selipkan di telinga.
Nathan menyetujui Nichol. Mereka segera berpencar untuk mencari keberadaan Gea.
"Hei, apakah kamu sudah menemukan di mana Nona Gea?" tanya anak buah Davin kepada Nichol.
Nichol berhenti sejenak. "Belum," jawab Nichol santai.
"Baiklah. Cepat cari! Kalau bertemu dengannya, segera bawa kepada Tuan Davin!" perintahnya pada Nichol. Nichol pun mengangguk mengiyakan.
Anak buah Davin segera berlalu meninggalkan Nichol untuk kembali mencari keberadaan Gea.
"Aku harus segera menemukan di mana Nona Gea, sebelum mereka menemukannya!"
Nichol kembali berjalan mencari keberadaan Gea. Ia harus tetap waspada dengan keadaan sekitar, agar dia tidak kepergok oleh mereka semua.
"Itu dia Nona," gumam Nichol tatkala melihat Gea tengah berjalan dengan hati–hati.
"Hei!!! Berhenti Nona!"
Ia melihat Gea berhenti sejenak dan berbalik ke arahnya. Dengan cepat Nichol mengejar Gea dan tertangkap. Bahkan ia bersandiwara untuk membawa Gea sendiri pada Davin untuk meyakinkan yang lainnya agar mereka tak curiga.
"Lepaskan!" seru Gea. Ia tak ingin nasib hidup dia berakhir di tempat itu. Gea berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari pria itu.
Namun Nichol tak mendengarkan Gea sedikitpun. Ia tetap menyeret paksa Gea. Gea pun terus meronta meminta dilepaskan.
__ADS_1
"Shutt … Nona beraktinglah. Namun saya ini adalah anak buah Bos Briel. Jangan takut Nona. Saya akan membawa Anda keluar dari sini." Nichol berbisik memberikan penjelasan.
Samar, Gea menganggukkan kepalanya. Nichol tersenyum tulus.
"Akhirnya Nona menurut juga!"
"Nath, Nona Gea sudah bersamaku. Sekarang waktunya membawa Nona Gea keluar."
Nichol memberitahu Nathan agar tak mencari Gea lebih lanjut, yang bisa saja membahayakan nyawa Nathan.
Nathan segera mengeluarkan jurus mautnya. Dia menembakkan obat tidur pada anak buah yang berjaga dan cukup meresahkan untuk mereka membawa Gea keluar dari sana.
"Selesai."
Nathn tersenyum miring, tatkala melihat banyak dari mereka yang terjatuh tak berdaya karena obat tidur yang ia tembakkan.
Suara Nathan terdengar di telinga Nichol karena alat komunikasi tak Nichol matikan.
"Mari Nona, ikuti saya. Kita harus bergegas keluar dari sini!"
Gea mengangguk mantap. Mereka berdua pergi meninggalkan markas Davin.
Sedangkan Davin yang ada di ruangannya mengacak–acak semua barang yang ada di sana. Informasi yang diberikan salah satu anak buahnya berhasil membuatnya sangat marah. Gea berhasil kabur dari padanya karena ada penyusup dari pihak musuh.
"Bodoh kalian semua! Kenapa bisa ada penyusup masuk ha?!"
Semua anak buah Davin diam tertunduk melihat amarah Davin.
"Arrgghh!!!"
"Kurang ajar! Lihatlah, Gey! Mungkin kali ini kamu bisa lolos. Namun tidak untuk lain kali!"
Obsesi. Itulah yang Davin luapkan saat ini. Kali ini rasa cinta dia telah berubah menjadi sebuah obsesi yang membuatnya menggila.
🍂
//
Hai semuaa sambil menunggu Asa up, kalian bisa mampir dulu ke karya kakak–kakak online Asa yang kecee badai di bawah ini💃 🤗🤗
Jangan lupa mampirin ya, kalau cocok bisa lanjut baca 😊😊
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕