Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Tidak Semudah Itu


__ADS_3

Perlahan, mata itu pun membuka, dari remang hingga akhirnya terlihat jelas. Ia mulai menafsirkan, dimana ia sekarang. Ia menatap tangannya. Ada aliran infus di tangannya.


"Aaarrrgghh!! Kenapa juga aku masih hidup? Siapa yang berani–beraninya membawaku ke sini?!"


Marah, Dela sungguh marah. Rencananya gagal begitu saja. Ia memang berencana untuk menghilangkan janinnya sekaligus dirinya sendiri. Ia benci akan situasi ini.


Hingga tidak lama setelah itu, ada seorang suster yang datang untuk mengecek kondisinya.


"Nyonya istirahat yang cukup ya, jangan banyak bergerak. Janin dalam kandungan Nyonya membutuhkan penjagaan ekstra dari Nyonya," ucapnya sembari memeriksa botol infus.


Dela hanya diam. Ia tidak berniat untuk menjawab pernyataan dari suster itu. Tatapannya datar. Bahkan jika ada kesempatan lagi, ia ingin kembali melakukan hal gini. Toh ia hidup tidak ada yang harus diperjuangkan. Sudah tidak ada juga yang peduli padanya. Hidup sendirian hanyalah aib.


"Siapa yang membawaku ke sini Sus?" tanyanya datar. Suster itu sedikit terkejut namun sesaat ia paham bagaimana kondisi mental pasiennya itu.


"Seorang pria Nyonya. Umurnya kira–kira 30 tahunan."


Dela bertanya–tanya dalam hati. "Tiga puluh tahunan? Berarti dia bukan Davin. Lantas siapa pria itu?"


"Aihhh terserah!! Yang jelas dia sudah menggagalkan rencanaku!" Tatapan Dela semakin datar. Hal itu membuat si suster khawatir.


"Istirahatlah kembali Nyonya, dan tetaplah di sini sampai Anda benar–benar pulih," ucapnya was–was.


Tak lama setelah itu, suster rumah sakit itu kembali berkeliling melihat ke pasien lainnya. Di kesempatan itu juga, Dela melepas paksa selang infus yang terpasang itu hingga tangannya berdarah. Namun ia tak peduli dengan itu semua. Yang ingin ia lakukan hanyalah pergi dari rumah sakit itu.


Dela berjalan tertatih. Rasa sakit itu semakin lama semakin kuat ia rasakan. Hingga pandangannya mulai kabur dan semuanya menjadi gelap.


🍂


"Ternyata siapa yang tulus dan siapa yang bulus dapat kulihat setelah semuanya telah teruji."


Bersandar pada punggung kursi kerjanya, Edi tersenyum miris mengingat kedua putrinya yang bertolak belakang itu. Dari sana ia mengetahui bagaimana bulusnya Dela dan betapa tulusnya Gea padanya.

__ADS_1


"Annaya ... Dia sama sepertimu."


Senyum itu terulas di wajah yang mulai berkerut kala Edi kembali mengingat sosok yang telah lama pergi itu. Namun hatinya masih terpatri dengan nama sosok yang telah tiada itu.


"Ternyata cara ini mampu melihat seberapa besar sayangnya mereka padaku. Sangat disayangkan. Ternyata Dela pun sama saja seperti mendiang maminya."


Edi mengingat betapa tamaknya Clara. Harta dan gaya seakan–akan menjadi kebutuhan pokok di hidupnya.


Edi tersenyum miris melihat kedua putrinya yang bertolak belakang itu. Memang awalnya perusahaan Edi memang tergoncang lantaran ada hacker yang membocorkan data perusahaan. Bahkan ia sudah mengetahui siapa dalang dibalik semuanya itu, yang tak lain adalah Davin, menantunya sendiri. Dengan bantuan Bima ia dapat membongkar kerusuhan itu. Namun pada akhirnya Edi memanfaatkan situasi saat itu untuk menguji kedua anaknya. Rumahnya pun sebenarnya tak pernah ia jual.


Davin, untuk saat ini adalah orang yang sulit diusik lantaran relasi under–ground yang cukup sulit untuk ditembus. Edi tidak bisa melakukan banyak hal. Ia hanya mampu memulihkan kondisi perusahaannya dengan membiarkan Davin lepas begitu saja.


Namun bukan Bima dan Briel namanya kalau ia diam saja ketika diusik. Saat ini, mereka berkumpul di markas mereka untuk saling berunding satu sama lain. Mereka saling memikirkan bagaimana caranya untuk menembus dunia gelap nan keji itu.


"Mau bagaimanapun, dunia itu akan sulit ditembus jika strategi yang kita gunakan tak berjalan selangkah di depan mereka," ungkap Adam. Adam menatap satu persatu orang yang ada di sana. Tak terkecuali anak buah kepercayaan mereka, Nichol dan


Briel masih menimbang apa yang Adam bicarakan. Tidak bisa dipungkiri, menembus dunia seperti itu terbilang sulit baginya. Meski ia memiliki pasukan rahasia, tidak sekalipun ia mau berurusan dengan oknum–oknum under ground seperti itu. Dan ini kali pertamanya.


Briel pun beralih menatap ke arah Bima. "Apa saja informasi yang kau dapatkan Bim?"


"Hanya itu sajakah yang bisa kau dapatkan?!" Raut wajah marah sekaligus kesal tidak bisa Briel sembunyikan untuk kali ini. Perbuatan Davin sudah cukup jauh. Dan ia yakin, bahwa itu hanyalah sebagian kecil dari rencananya.


"Iya"


"Arrghh sialll!" umpat Briel. Terlihat Briel tengah berpikir. "Di mana markasnya?"


Lagi–lagi Bima hanya membuang napas kasar. Ia hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya. Briel mendesis marah.


"Hubungi Larz!"


"Oke"

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku sudah menghubunginya terlebih dahulu!"


Mereka dikejutkan dengan suara Hendri yang tiba–tiba saja muncul. Suara itu memotong pembicaraan mereka. Ia datang menghampiri mereka dan bergabung dengan mereka.


"Dia akan berusaha mencari dimana letak markasnya dan segera memberitahukan informasinya pada kita. Mungkin malam nanti."


Semuanya mengangguk mengerti. Hingga Bima pun angkat bicara. "Tapi bukankah Larz itu juga merupakan teman Davin? Apakah dia mau jujur dan tetap berpihak pada kita tanpa membocorkannya pada Davin?"


Bima mulai ragu. Satu fakta yang ia dapat, ia pernah melihat rekam jejak Davin bertemu dengan Larz. Dan hal itu membuatnya bimbang.


"Tidak. Aku yakin padanya. Itu sudah terbukti dari pengungkapan siapa Gea oleh Davin yang sempat gagal lantaran Larz tidak mau memberitahunya."


Briel memberikan sanggahan yang mampu meyakinkan Bima. Sedekat dekatnya Larz dengan Davin, dalam hal apapun Larz masih lebih memihak Briel ketimbang dengan Davin. Karena bagaimanapun juga, Larz tahu, Briel bukanlah orang jahat.


"Oke aku percaya. Semoga kekhawatiranku hanyalah sebuah kekhawatiran semata," putus Bima pada akhirnya.


"Akan tetapi ...." Adam menjeda kalimatnya. "...pasukan kita masih belum cukup kuat untuk mengimbangi, bahkan mengungguli Davin dan lainnya. Mereka lebih berbahaya dari apa yang kita pikirkan."


"Iya ... Baru–baru ini bahkan ada banyak pengusaha yang hilang secara misterius. Bahkan mereka berani menghilangkan pihak kepolisian yang berusaha menyelidiki mereka," imbuh Hendri.


Mereka sadar. Kali ini lawan mereka bukan hanya Davin. Namun lawan mereka juga merupakan musuh negara. Begitupun juga Briel. Briel sangat sadar jika keselamatan keluarganya sedang diambang jurang. Ia harus bisa menjaga keluarganya dari hal apapun.


"Baiklah, mungkin aku harus melakukan ini."


Briel mengambil benda pipih canggih yang sedari tadi tersimpan di saku celananya. Ia menekan sebuah nomor yang memang harus ia hubungi.


"Aku membutuhkan bantuanmu ..."


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2