Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
143. Terbongkar (Davin)


__ADS_3

"Damn it!" umpat Davin dalam hati.


Adam dan Briel menyunggingkan senyum miringnya. Sementara Ayu yang tak mengerti apa–apa bertanya–tanya dalam diam.


"Apa maksud semua ini?" batin Ayu.


BRAK!!


"Apa–apaan ini?!" Davin berdiri sembri menggebrak meja. Ia tak terima video–video tentang dirinya diputar dalam layar itu. Apa lagi ditampilkan di depan adiknya. Di video yang diputar itu menunjukkan bagaimana cara kotor dirinya untuk mendapatkan keuntungan besar di segala proyek yang ia jalankan, termasuk di perusahaan Briel. Dan di sana ada campur tangan Kemal yang membantu kelancaran Davin dalam menjalankan aksinya.


"Ini fitnah!" Davin menunjuk layar itu dengan amarah. "Kalian bisa saya tuntut atas dasar pencemaran nama baik!" ancam Davin. Namun ancaman itu tak berpengaruh sedikitpun pada Briel. Briel menatap Davin santai. Tak ada rasa takut sedikitpun. Kebenaran ada di tangannya. Orang benar tak perlu takut saat berhadapan dengan orang seperti Davin.


"Oh iyakah? Lakukanlah kalau kau bisa!" tantang Briel. Ia membenarkan jasnya sendiri di depan Davin.


"Oh okay, jika itu maumu! Akan kutunjukkan padamu!" ancam Davin. Dengan percaya diri, ia mengucapkannya angkuh. Ia yakin dirinya mampu memutarkan keadaan.


"Silahkan!"


Tanpa basa–bas, Davin hendak pergi dari tempat itu. Namun terlambat. Ia telah dikepung oleh polisi. Percakapan di antara mereka membuat Davin tak sadar jika aparat kepolisian telah berada di tempat itu. Ayu pun hanya memandang kejadian di depannya ini penuh tanya.


"Anda kami tangkap atas tuduhan pemanipulasian data dan korupsi dari proyek yang Anda jalankan!" ucap salah satu dari mereka sembari memborgol kedua pergelangan tangan Davin.


"LEPASKAN! APA MAU KALIAN?!" teriak Davin. Ia tak mau berada di jeruji besi.


"Jangan bawa abang saya!" teriak Ayu pada mereka. Wajah polosnya membuat mereka semua iba. Namun kesalahan Davin harus dipertanggungjawabkan.


"Bawa dan proses sesuai hukum, Pak," ucap Briel. "Dan tangkap juga atas nama Kemal bersama dengan dia!"


Aparat kepolisian itu memgangguk. Mereka menyeret Davin paksa. Davin meronta meminta dilepaskan. Usahanya hanya berujung sia–sia.

__ADS_1


Mereka semua menatap Davin dan aparat kepolisian sampai mereka menghilang di balik pintu. Sedangkan Ayu mengejar Davin sampai depan pintu. Kalimat permohonannya percuma. Polisi tak mendengarkannya.


Ayu berjalan cepat menuju ke arah Briel. Matanya memerah menahan tangis sekaligus amarah. Derap high heels yang ia pakai menggema di dalam ruangan itu.


"Kenapa kau menjebloskan Abang dan Daddy ke penjara?!"


Deru napas Ayu tak beraturan. Dadanya kembang kempis seiring napas dia yang memburu. Ia tahi Davin salah, namun ia tak terima jika Davin harus tinggal di dalam jeruji besi.


"Kau sudah tahu kan bagaimana mereka menjalankan usahanya?" ucap Briel kepada Ayu. "Dan selama ini kau dihidupi dari uang haram!" ucapnya kemudian.


Ayu menatap nyalang Briel. Ia tak terima dengan perlakuan Briel terhadap keluarganya. Keluarganya hancur karenanya. Ayu berjalan mendekat dan mengayunkan tangannya.


Tangannya hanya tertahan di udara. Sebuah tangan mencengkeram tangannya dari belakang. Sekuat tenaga Ayu mencoba menggerakkan tangannya, namun percuma. Tenaga itu lebih besar darinya.


Tangan Ayu dihempaskan kasar, hingga hampir saja Ayu kehilangan kesemimbangan. Betapa kagetnya Ayu melihat siapa yang ada di depan matanya.


"Halo," sapanya ramah. Alisnya terangkat sebelah saja. Ia tersenyum sinis ke arah Ayu.


Sedangkan Briel, sedari tadi menatap tak percaya siapa yang ada di hadapannya.


"Ge–Geyang?" gumamnya lirih.


Gumaman itu sampai di telinga Gea. Gea menoleh sebentar ke arah Briel. Senyum manis itu terukir indah di paras cantik Gea. Briel menatap lekat sosok di depannya itu.


"Aaaaa!" jerit Ayu. Tangannya menyapu bersih meja yang ada di sana. Barang–barang yang ada di atas meja jatuh berantakan. Gea dan Briel membiarkan Ayu melakukan apa yang ia inginkan.


Tak punya muka lagi, ia memilih pergi dengan amarah yang menguasainya. Ia akan memikirkan kembali cara yang tepat untuk menghancurkan Briel da Gea.


"Ow ow ow … Jangan terburu–buru untuk pergi. Aku punya hadiah kecil untukmu."

__ADS_1


Gea mencegah Ayu agar tak pergi dari sana. Ayu tak memperdulikan ucapan Gea. Terus melangkah, menjadi pilihannya.


"Baiklah, tetaplah pergi. Kamu akan menyesal karena kau tidak melihat hadiah yang kuberikan padamu," ucap Gea dengan tangan yang bersidekap di atas perutnya.


Gea memberikan pilihan yang sulit. Ucapannya begitu lembut tapi tersirat suatu paksaan dan ancaman yang membuat Ayu harus memilih untuk tetap tinggal.


"Sial! Jika aku melewatkannya, aku tidak akan pernah tahu apa yang dia maksud," batin Ayu dalam hati. Ayu berhenti. Kemudian berbalik arah.


"Berikan!" ucap Ayu singkat tanpa mau memandang wajah mereka.


"Kena kau!" batin Gea dengan senyum simpul.


Bersambung ....


🍂


//


Hai semua, sembari menunggu asa up, kalian bisa mampir ke karya kakak online asa 🤗



🍂


//


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2