
"Kena kau!" batin Gea dengan senyum simpul. Tersirat senyum devil di wajahnya.
"Kemarilah sejenak," ucap Gea. Bahkan ia berniat merangkul Ayu dan mengajak Ayu duduk di sofa yang kosong di sana. Namun tepisan tanganlah yang ia dapatkan.
"Ow santai saja Kakak."
Gea mengangkat tangannya. Ia menyebut Ayu dengan sebutan "kakak" karena memang usia Ayu lebih tua dari Gea. Ayu berjalan dan kembali duduk di sana.
"Dam, kemarikan chip itu!"
Adam merogoh sebuah chip dari saku jasnya. Ia memberikan chip itu kepada Gea.
Gea menerima chip itu dan langsung menghubungkannya ke laptop milik Briel. Sedangkan Briel yang tak tahu menahu hanya bisa melihat apa yang akan Gea lakukan selanjutnya.
Gea mulai mencari dan mencari file yang ia tuju. Sedangkan Ayu menunggu dengan kegelisahan hati di atas rata–rata. Pasalnya dia penasaran dengan apa yang sudah dipersiapkan Gea untuknya.
"Apa itu? Kenapa dia hanya mengotak–atik laptop dia? Apa yang sebenarnya ingin ia tunjukkan padaku?" batin Ayu bertanya–tanya. Bahkan untuk duduk saja ia terlihat begitu gelisah. Briel hanya tersenyum singkat melihat pemandangan di depannya itu.
"Ini dia hadiah untukmu. Silakan dilihat dan disaksikan betul–betul ya," ucap Gea layaknya seorang pelayan yang mempersilahkan pelanggannya.
Sebuah video pun mulai berputar. Di sana terlihat adegan–adegan panas yang dilakukan oleh dua insan dalam cahaya yang tak begitu terang. Hal itu membuat Ayu meradang.
"Video apaan ini?!" bentak Ayu sembari berdiri. Ia tak habis pikir dengan apa yang Gea tunjukkan. Bagaimana tidak? Video tak senonoh itu seharusnya tak Gea perlihatkan di sana, bahkan beramai–ramai.
"Jangan marah dulu Kakak Sayang. Tetap diam dan lihatlah."
Gea yang ada di samping Ayu pun memegang kedua pundak Ayu agar Ayu duduk kembali dan melihat adegan demi adegan yang tentunya sudah ia ambil intinya saja.
__ADS_1
Sampai di suatu waktu Ayu melihat sosok yang ia kenal. Ayu menajamkan matanya, berusaha menelaah dan meyakinkan dirinya akan siapa yang ia lihat dalam video itu. Ayu mengangakan mulutnya kaget tatkala sosok itu terlihat jelas. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Ti–tidak mungkin," ucap Ayu sembari menggelengkan kepalanya. Sosok yang ia lihat adalah Selly, mommynya yang tengah bermalam panas dengan lelaki bayarannya.
Adegan demi adegan dalam video itu diputar, hingga sampailah ia melihat sosok deddynya yang mempunyai affair dengan sekretarisnya. Bahkan begitu pula dengan Davin, abangnya yang selama ini ia kira pria baik–baik. Ayu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menggeleng tak percaya, menyangkal semua fakta yang Gea tunjukkan.
"Kamu bohong kan?! Kamu hanya ingin menghancurkan aku kan?!" tuduh Ayu pada Gea dengan telunjuk yang menunjuk tajam Gea. Bukan tanpa alasan. Ayu berpikir itulah cara Gea balas dendam dengannya, dengan memanipulasi sebuah video untuk menghancurkannya.
Di keluarga Angkara, Ayu bagaikan berlian yang dijaga mati–matian oleh mereka. Mereka membiarkan Ayu dengan segala kepolosannya dan menjaga Ayu dari orang–orang bejad walaupun mereka sendiri bejad. Fakta yang Gea tunjukkan itu terbukti sangat menyayatnya. Ia merasa dibohongi oleh semuanya, tak tahu siapa yang jujur dan siapa yang berbohong.
"Aku tak bohong. Itulah fakta yang nyata di keluargamu. Aku berbaik hati memberitahumu apa yang mereka rahasiakan selama ini," ucap Gea santai.
Deru napas Ayu terdengar semakin tak beraturan. Amarahnya sudah berada dipuncak, bersiap untuk diledakkan.
"PEMBOHONG!!!" teriak Ayu pada mereka. Bahkan ia melempar sebuah vas bunga ke arah Gea. Dengan cekatan Gea menghindarinya.
Ayu pergi dari sana dalam keadaan tak baik–baik saja, secara mental. Sedangkan Gea, Adam, dan Briel menatap kepergian Ayu. Tak ada tawa di antara mereka. Yang ada, Gea menatap prihatin Ayu yang tengah rapuh itu. Seketika rasa bersalah merayap dalam hatinya.
Briel menghela napas berat. Ia berjalan mendekati Gea. Ia memutar badan Gea menghadapnya. Adam yang sadar akan posisinya pun memilih pergi dari sana.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Briel lembut. Ia menatap Gea dalam–dalam.
Gea masih menatap wajah Briel. Ia menipiskan bibirnya sembari menggeleng pelan.
"Hei bicaralah padaku. Aku ini suamimu," ucap Briel. Tatapannya begitu meneduhkan untuk Gea. Gea menatap Briel untuk sejenak.
"Apakah aku terlalu jahat?" tanya Gea kemudian.
__ADS_1
Briel tersenyum. Ia menggeleng pelan. "Tidak. Kamu tidak jahat. Itu adalah fakta yang harus Ayu terima. Karena itu memang faktanya," ucap Briel mencoba menghibur Gea. Briel tahu bagaimana hati istrinya itu.
Tanpa berlama–lama, Briel mendekap tubuh istrinya itu. Cukup lama, menghirup dalam–dalam aroma tubuh pasangan masing–masing yang mereka rindukan beberapa hari ini.
🍂
//
Hai semua, sembari menunggu asa up kalian bisa baca juga karya author kodok aer (😭😘) pada novel di bawah ini 🤗
dan karya kakak online asa 🤗
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
Terimakasih 😘
🍂
//
Happy reading gaes
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕